01 November 2013

Kupu-kupu Ungu: Sinetron tentang HIV/AIDS


Oleh Syaiful W. Harahap

Catatan: Naskah ini dimuat di Newsletter “HindarAIDS“ No. 6, 5 Oktober 1998

Penyebaran informasi seputar masalah HIV/AIDS mulai menyentuh semua aspek media massa. Kali ini Stasiun Televisi “RCTI“, akan menayangkan tiga belas episode Kupu-kupu Ungu sinetron bertema HIV/AIDS mulai tanggal 6 Oktober 1998 pukul 21.30 WIB, selanjutnya akan ditayangkan tiap hari Selasa pada jam yang sama. Sinetron yang mengangkat aspek-aspek seputar HIV/AIDS didukung oleh Ford Foundation dan Departemen Kesehatan RI.

Sinetron pertama yang menampilkan tema HIV/AIDS ditayangkan ”TVRI” (1994) melalui serial Onah dan Impiannya. Nano Riantiarno, penulis skenarionanya, merasa kurang puas dan terus mengembangkannya sampai akhirnya mencul Kupu-kupu Ungu. Skenario serial ini ditulis Nano setelah ia mempelajari seluk-beluk HIV/AIDS pada pakar HIV/AIDS nasional selama lebih dari dua tahun.

Sinetron ini bertolak dari pengalaman dr. Halimah (Nurul Arifin) yang merawat seorang Odha yang tertular karena transfusi darah untuk hemofilianya dan akhirnya meninggal dunia. Halimah kemudian mendirikan Klinik Hematologi "Hati Putih" untuk Odha. Halimah bertemu dengan Nirwan Hudoyo (Gito Gilas), wartawan yang tertarik kepada masalah HIV/AIDS. Upaya Halimah untuk meningkatkan kepedulian masyarakat terhadap HIV/AIDS disampaikannya melalui Nirwan.

Mendramatisasi persoalan seputar HIV/AIDS yang dimaksudkan sebagai salah satu cara agar penonton tertarik sehingga informasi yang disampaikan tepat sasaran justru bisa sebaliknya. Soalnya, dari beberapa adegan yang dipertunjukkan pada preview sinetron ini di hadapan wartawan (Kamis, 17/9) jelas tidak menggambarkan persoalan nyata (realitas) yang dihadapi Odha.

Sebagai wartawan yang menggeluti masalah HIV/AIDS saya belum penah menemukan kasus pengeroyokan Odha atau pelemparan rumah Odha dengan batu, seperti yang digambarkan pada sinetron itu. Yang sering terjadi hanyalah sebatas sikap yang tidak bersahabat yang ditunjukkan masyarakat, termasuk aparat pemerintah, dengan cibiran dan menjauhi Odha dan keluarganya, yang lebih bersifat psikologis daripada fisik.

Nano sendiri mengatakan sinetron ini bukan kisah nyata, tapi juga bukan kisah fiktif. Materi untuk skenario sinetron ini diperolehnya dari cerita yang disampaikan banyak orang kepadanya tentang Odha. Saya mengkhawatirkan sikap terhadap Odha yang digambarkan dengan cara unjuk kekuatan, melempari rumah dan mengeroyok Odha, justru akan mendorong orang untuk melakukan hal yang sama jika mereka mendapatkan tetangganya benar-benar seorang Odha. Soalnya, mitos yang berkembang membuat masyarakat bersikap tidak objektif terhadap Odha. Misalnya, HIV disebut penyakit kalangan orang yang berperilaku menyimpang, menular melalui pergaulan sosial, dan lain-lain.

Tulisan ini hanya berdasarkan cuplikan tiga episode dan tanya jawab wartawan dengan pendukung sinetron sehingga tidaklah mungkin menulis resensi yang komprehensif. Untuk mendapatkan pandangan pemirsa terhadap sinetron itu HindarAIDS sendiri akan menyebarkan angket kepada pemirsa “RCTI”.

Mengatasi dugaan atau tudingan masyarakat kepada seseorang, misalnya, terhadap mantan pekerja seks, sebagai Odha hanya dengan menunjukkan hasil tes negatif tentu tidak akan menyelesaikan masalah. Soalnya, bagaimana kalau wanita tadi benar-benar positif: apa yang akan terjadi? Inilah yang seharusnya diantisipasi sehingga sinetron ini dapat menggiring penonton untuk bersikap objektif dan realitis terhadap Odha.

Saya khawatir peranan dr. Halimah tidak objektif karena Nurul Arifin sendiri mengaku shock waktu pertama kali bertemu dengan Odha. Saya tahu persis, Odha yang ditemui Nurul itu belum menunjukkan gejala stadium AIDS, seperti yang banyak digambarkan media massa, sehingga tidak ada alasan bagi seseorang untuk shock karena secara fisik tidak ada perbedaan antara Odha itu dengan Nurul Arifin.

Akan jauh lebih bermanfaat kalau yang dipersoalkan masalah yang berkaitan dengan persoalan yang akan ditemui Odha. Misalnya, pernikahan antar Odha atau penanganan mayat Odha yang selama ini sering menjadi masalah. Pernikahan Odha di Ujungpandang, misalnya, sampai sekarang tidak habis-habisnya menjadi pembicaraan. Bahkan, belakangan pasangan itu pun tidak bisa mendapatkan rumah karena tidak ada penduduk yang mau mengontrakkan rumahnya kepada pasangan Odha itu.

Pada salah satu adegan yang menunjukkan seorang Odha mencoba memotong urat nadi di tangannya menyebutkan bahwa ia wanita yang setia ketika rumahnya dilempari penduduk. Dalam kaitan ini akan muncul lagi mitos (anggapan yang keliru) yang mengarahkan penonton kepada sikap bahwa HIV tertular karena tidak setia. Padahal, penularan HIV terjadi karena kondisi hubungan seksual bukan sifatnya. Artinya, kalau keduanya negatif, atau mereka menerapkan seks aman dengan memakai kondom, tentu tidak akan terjadi penularan biar pun hubungan seksual itu dilakukan di luar nikah.

Sayang, tidak disebutkan rujukan untuk peranan wartawan karena selama ini banyak kalangan yang menilai berita-berita seputar HIV/AIDS di media massa tidak objektif dan sering menyudutkan Odha yang pada gilirannya justru menghambat sosialisasi pencegahan penyebaran HIV. Ford Foundation sendiri mendanai program pelatihan ‘jurnalisme empati’, kepada wartawan media cetak dan elektronik yang dilaksanakan oleh PMP-AIDS LP3Y Yogyakarta. Melalui jurnalisme empati ini diharapkan wartawan juga sekaligus berperan sebagai pendamping Odha dan ikut meningkatkan kepedulian masyarakat.

Resensi yang komprehensif kelak akan menghasilkan sinetron yang benar-benar bisa meningkatkan kepedulian masyarakat terhadap HIV/AIDS termasuk sikap yang positif terhadap Odha. Judul serial ini sendiri sudah membawa penonton ke arah yang tidak objektif karena selama ini kata kupu-kupu sangat erat kaitannya dengan kupu-kupu malam (pekerja seks) sehingga bisa jadi ada kesan HIV/AIDS hanya berkaitan dengan kupu-kupu malam.

Jika hal ini terjadi tentu akan menguatkan mitos lagi yang melihat HIV hanya tertular dan menular di kalangan pekerja seks dan pelanggannya sehingga orang lain yang merasa dirinya tidak termasuk ke dalam kelompok perilaku itu akan mengabaikan penyebaran HIV. Padahal, berbagai penelitian menunjukkan HIV sudah masuk ke komunitas di luar kelompok berperilaku yang berisiko tinggi terhadap penularan HIV, seperti ibu rumah tangga dan anak-anak.***

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Terimakasih telah berkunjung ke situs AIDS Watch Indonesia.
Silahkan tinggalkan pesan Anda untuk mendapatkan tanggapan terbaik dari pembaca lainnya, serta untuk perbaikan ISI dan TAMPILAN blog ini di masa mendatang.