28 Oktober 2013

Mitos AIDS Membuat Banyak Orang Tidak Menyadari Risiko Perilaku Seksnya

Tanggapan Berita (29/10-2013) – ”Karena Malu, Penderita AIDS Cenderung Telat Diagnosis.” Ini judul berita di kompas.com (28/10-2013).

Judul berita ini menimbulkan serangkaian pertanyaan karena secara faktual orang-orang yang sudah terdeteksi mengidap HIV/AIDS melalui tes HIV dengan standar baku akan menjalin kontak dengan tempat tes atau institusi yang menjangkau dan membawanya ke tempat tes HIV.

Maka, jika ada yang sudah terdeteksi HIV/AIDS lalu ’menghilang’ itu artinya ada keselahan fatal dalam prosedur tes HIV.

”Ya, Bang, sekarang tes HIV melalui klinik VCT bukan lagi sukarela tapi sudah paksaan,” kata seorang aktivis yang bergerak pada sebuah instansi penanggulangan AIDS.

Rekan lain mengatakan bahwa institusi yang menjalin kerja sema melalui program di bawah Global Fund mendapatkan fee jika membawa orang untuk menjalani tes HIV. Ini terjadi karena Global Fund menargetkan jumlah yang dites. Akibatnya, ”Ya, satu orang bisa dibawa beberapa kali dengan penampilan dan nama yang berbeda.” Ini disampaikan rekan tadi.

Maka, pada gilirannya terjadi double counting yaitu penghitungan berulang terhadap satu orang.

Jika tes HIV dilakukan sesuai dengan standar operasi yang baku maka orang-orang yang terdeteksi melalui tes HIV akan mematuhi semua ’perjanjian’ yang dibuat ketika koseling.

Standar baku tes HIV  yaitu: (a) konseling sebelum tes dan sesudah tes yaitu memberikan informasi yang komprehensif tentang HIV/AIDS, tes HIV, pengobatan,dll., (2) informed consent yaitu kesediaan yang dinyatakan secara lisan atau tertulis dengan catatan ybs. benar-benar sudah memahami isi konseling, (3) anonimitas  yaitu identitas yang tes hanya diketahui oleh konselor, dokter dan ybs., dan (4) confidential yaitu kerahasiaan indentitas yang tes dirahasiakan.

Beberapa keluhan yang diterima penulis melalui SMS dan e-mail menyebutkan ada konselor yang memaksa hari itu juga setelah konseling langsung tes HIV. ”Hari ini, besok, lusa atau tahun depan sama saja.” Inilah yang selalu dikatakan konselor untuk memaksa seseorang tes HIV.

Padahal, tes HIV harus dengan kerelaan setelah ybs. memahami semua informasi yang diberikan ketika konseling dengan benar.

Maka, kalau ada pengidap HIV/AIDS yang malu berobat itu artinya ada yang salah dalam prosedur tes HIV.

Dalam berita disebutkan: ”Rasa malu akibat minim info juga mengakibatkan seseorang enggan menjalani tes HIV. Adit (Executive Director Indonesia AIDS Coalition/IAC, Aditya Wardhana-pen.) tak menampik bila sampai saat ini tes HIV masih berkesan menakutkan dan membuat masyarakat enggan melakukannya.”

Yang terjadi bukan karena malu, tapi banyak orang yang tidak menyadari perilakunya berisiko tertular HIV dan banyak pula yang sudah mengidap HIV/AIDS tidak menyadarinya.

Pertama, karena informasi HIV/AIDS yang disebarluaskan selama ini dibalut dan dibumbui dengan moral, maka fakta medis tentang HIV/AIDS hilang sehingga yang ditangkap masyarakat hanya mitos (anggapan yang salah). Misalnya, selama ini disebutkan bahwa penularan HIV/AIDS terjadi karena hubungan seksual di luar nikah. Nah, banyak laki-laki yang melakukan hubungan seksual berisiko, misalnya ganti-ganti pasangan, di dalam ikatan pernikahan yang sah, seperti kawin-cerai dan beristri lebih dari satu. Ada pula praktek pelacuran yang dibalut dengan kaidah agama sehingga hubungan seksual halal yaitu melalui nikah mut’ah.

Kedua, orang-orang yang sudah mengidap HIV/AIDS, al. melalui perilaku seksual yang berisiko, tidak menunjukkan gejala-gejala yang khas AIDS dan tidak ada pula keluhan kesehatan sebelum masa AIDS sehingga mereka tidak menyadari dirinya sudah tertular HIV/AIDS.

Disebutkan pula: "Ibu rumah tangga menjadi golongan yang rentan tertular HIV dan AIDS dari suami mereka. Ibu rumah tangga wajib tahu seputar HIV, AIDS, dan lokasi yang menyediakan pelayanan dan tes terkait penyakit itu. Apalagi penyakit ini menimbulkan gejala yang tidak sama pada setiap orang," kata Adit.

Biar pun seorang istri memahami HIV/AIDS dengan benar, apakah dia bisa meminta suaminya menjelaskan perilaku seksual si suami di luar rumah?

Jangankan bertanya tentang perilaku suami di luar rumah, dalam kaidah salah satu agama disebutkan bahwa seorang istri berdosa besar kalau ke luar rumah tanpa izin suami. Tapi, celakanya ada suami yang keluar rumah justru bikin dosa besar. Namun, istri tidak punya mengetahui perilaku suami. Kalau seorang suami menikah pun tidak ada kewajiban si suami meminta izin bahkan memberitahukannya pun tidak diwajibkan.

Maka, yang diperlukan bukan sekedar informasi tapi langkah konkret pemerintah berupa intervensi terhadap laki-laki agar selalu memakai kondom ketika melakukan hubungan seksual, di dalam dan di luar nikah, dengan perempuan yang berganti-ganti atau dengan perempuan yang sering berganti-ganti pasangan, seperti pekerja seks komersial (PSK).

Tanpa program yang konkret, maka penyebaran HIV/AIDS kelak akan bermuara pada ’ledakan AIDS’.***

- AIDS Watch Indonesia/Syaiful W. Harahap

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Terimakasih telah berkunjung ke situs AIDS Watch Indonesia.
Silahkan tinggalkan pesan Anda untuk mendapatkan tanggapan terbaik dari pembaca lainnya, serta untuk perbaikan ISI dan TAMPILAN blog ini di masa mendatang.