29 September 2013

Tidak Ada Daerah Endemik HIV


Tiga hari berturut-turut sejak tanggal 7-9 Juni 2006 Surat Kabar “Pakuan Raya“, Bogor, memberitakan masalah HIV/AIDS, yaitu : (1) Kota Sukabumi Digolongkan Endemik HIV, (2) Pelajar Rawan Penularan HIV/AIDS, dan (3) Penularan HIV/AIDS Lewat Jarum Suntik menunjukkan pemahaman HIV/AIDS di banyak kalangan belum komprehensif.

Dalam berita Kota Sukabumi Digolongkan Endemic HIV disebutkan ”  …. termasuk daerah endemik penyakit human imunnited virus (HIV)”. Kepanjangan I dalam HIV adalah immunodeficiency bukan imunnited. HIV adalah virus yang tidak bisa menula melalui udara, air dan pergaulan sosial sehari-hari sehingga HIV/AIDS bukan penyakit endemis. Hasil tes di LP bersifat survailans sehingga hasilnya belum dapat dikatakan positif sebelum contoh darah yang sama dites dengan tes lain yang disebut sebagai tes konfirmasi.

Judul berita Pelajar Rawan Penularan HIV/AIDS tidak akurat karena kerawanan terhadap HIV bukan pada kelompok atau kalangan tapi tergantung kepada perilaku orang per orang. Disebutkan pula bahwa kasus HIV di kalangan pelajar terjadi karena ” …. akibat pergaulan bebas yang dilakukan sembunyi, baik antar pelajar itu sendiri maupun dengan orang lain”. Pernyataan ini ngawur. Tidak ada kaitan langsung antara `pergaulan bebas’ atau `seks bebas’ dengan penularan HIV. HIV menular melalui hubungan seks bisa terjadi di dalam atau di luar nikah kalau salah satu atau kedua-dua pasangan itu HIV-positif. Sebaliknya, kalau dua-duanya HIV-negatif maka tidak pernah terjadi penularan HIV biar pun pergaulan bebas, zina, homoseks, dll.

Begitu juga pada berita Penularan HIV/AIDS Lewat Jarum Suntik disebutkan “Benar sebagian besar penyebaran penyakit HIV/AIDS itu disebabkan oleh pelajar dari cara melalukan jarum suntik dan melakukan pergulan seks bebas”. Ada fakta yang digelapkan yaitu kasus HIV/AIDS banyak terdeteksi di kalangan pelajar pengguna narkoba karena mereka diwajibkan menjalani tes HIV kalau hendak mengukuti rehabilitasi. Sebaliknya, orang dewasa baik yang tertular melalui hubungan seks maupun jarum suntik pada pengguna narkoba tidak terdeteksi karena tidak ada mekanisme yang memaksa mereka menjalani tes HIV. Tapi, kasus HIV di kalangan penduduk dewasa akan menjadi `bom waktu’ epidemi HIV.

Dari tiga berita itu tidak ada sama sekali penjelasan yang akurat tentang penularan dan cara-cara pencegahan HIV. Selama ini materi KIE (komunikasi, informasi dan edukasi) tentang HIV/AIDS dibumbui dengan moral dan agama sehingga yang muncul hanya mitos (anggapan yang salah). Padahal, HIV/AIDS adalah fakta medis sehingga pencegahannya pun dapat dilakukan dengan teknologi kedokteran.

Jakarta, 10 Juni 2006
Syaiful W. Harahap
LSM “InfoKespro” Jakarta

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Terimakasih telah berkunjung ke situs AIDS Watch Indonesia.
Silahkan tinggalkan pesan Anda untuk mendapatkan tanggapan terbaik dari pembaca lainnya, serta untuk perbaikan ISI dan TAMPILAN blog ini di masa mendatang.