29 September 2013

Rumus Telanjang


Berita “3 Pendertia Positif HIV/AIDS” di Harian “Radar Madura” edisi 8 Juli 2006 mengandung mitos (anggapan yang salah) terhadap HIV/AIDS sehingga menyesatkan masyarakat.

Pertama, disebutkan “Memang, yang muncul hanya 3 orang. Tapi, sebenarnya bisa mencapai 300 orang”. Pernyataan ini tidak akurat karena epidemi HIV bukan matematika. Perbandingan 1:100 hanya untuk keperluan epidemiologis dengan syarat memenuhi beberapa faktor, al. (a) tingkat pelacuran tinggi, (b) pemakaian kondom rendah, (c) kondisi kesehatan masyarakat buruk. Tapi, biar pun ada faktor itu tidak otomatis 1 kasus berarti ada 100 kasus karena `rumus’ itu hanya untuk keperluan epidemiologi.

Kedua, disebutkan pula ” …. dampak negatif napza dan seks bebas”. Penggunaan istilah `seks bebas’ tidak tepat karena kalau yang dimasud sebagai `seks bebas’ adalah melacur maka tidak ada kaitan langsung antara melacur atau pelacuran dengan penularan HIV.

Sebagai virus HIV (bisa) menular melalui hubungan seks di dalam atau di luar nikah kalau salah satu atau kedua-dua pasangan itu HIV-positif dan laki-laki tidak memakai kondom. Sebaliknya, kalau dua-duanya HIV-negatif maka tidak akan pernah terjadi penularan HIV biar pun melacur, zina, jajan, seks bebas, dll.

Ketiga, disebutkan “Itu rahasia, karena dilindungi undang-undang dan melanggar HAM (hak asasi masnusia)”. Pernyataan ini bisa menyesatkan karena tidak dijelaskan dengan tepat. Ada kesan hanya kasus HIV/AIDS yang wajib dirahasiakan. Padahal, dalam dunia kedokteran semua catatan medis (termasuk identitas) dan hasil laboratorium pasien (medical record) adalah rahasia. Yang boleh mengetahui hanya dokter dan pasein. Perawat pun tidak boleh membaca catatan medis. Pembebaran catatan medis tanpa izin pasien merupakan perbuatan yang melawan hukum dan pelanggaran berat terhadap HAM yang dapat dituntut di pengadilan dengan pidana dan perdata.

Tiga pekerja seks komersial (PSK) yang terdeteksi HIV-positif itu bisa jadi ditularkan oleh laki-laki yang dalam kehidupan sehari-hari bisa sebagai seorang suami, PIL, jejaka, remaja atau duda. Lalu, ada laki-laki lain yang mengendani PSK itu yang juga bisa sebagai suami, remaja atau duda. Laki-laki itulah semua yang menjadi mata rantai  penyebaran HIV secara horizontal antar penduduk.

Memang, perlu ditingkatkan penyuluhan tapi dengan materi KIE (komunikasi, informasi dan edukasi) yang akurat dengan mengedepankan fakta medis sehingga akurat. Dengan memahami cara-ara penularan dan pencegahan HIV/AIDS secara benar maka orang pun bisa melindungi diri agar tidak tertualr HIV. Jika materi KIE dibumbui dengan moral dan agama maka yang muncul hanya mitos.

Syaiful W. Harahap
LSM “InfoKespro” Jakarta

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Terimakasih telah berkunjung ke situs AIDS Watch Indonesia.
Silahkan tinggalkan pesan Anda untuk mendapatkan tanggapan terbaik dari pembaca lainnya, serta untuk perbaikan ISI dan TAMPILAN blog ini di masa mendatang.