26 September 2013

Mitos AIDS


Berita “Melawan Setan dengan Setan“ yang dimuat Majalah “TEMPO” edisi 23 Mei 2004 di rubrik “Kesehatan” kembali membawa kita ke alam mitos (anggapan yang salah) tentang HIV/AIDS.

Coba saja simak bagian dalam berita itu yang menyebutkan “Dulu, penularan HIV/AIDS lebih banyak melalui perilaku seks menyimpang”. Ini jelas menyesatkan dan merupakan mitos karena penularan HIV/AIDS tidak ada kaitannya secara langsung dengan sifat hubungan seks (menyimpang, zina, pelacuran, dll.). Lagi pula, apa, sih, yang disebut sebagia ’seks menyimpang’ itu?

Penularan HIV melalui hubungan seks (bisa) terjadi jika salah satu dari pasangan itu HIV-positif. Ini fakta medis. Jadi, apa pun sifat hubungan seksnya, zina, menyimpang, selingkuh, selir, kumpul kebo, homoseksual, dll. ada kemungkinan terjadi penularan jika salah satu dari pasangan itu HIV-positif dan hubungan seks dilakukan tanpa menggunakan kondom. Sebaliknya, kalau keduanya HIV-negatif apa pun sifat hubungan seks yang mereka lakukan tidak akan pernah terjadi penularan HIV. Dalam ikatan pernikahan yang sah pun ada kemungkinan penularan HIV jika salah satu HIV-positif jika hubungan seks dilakukan tanpa kondom.

Kalau pun belakangan ini data menunjukkan kasus HIV/AIDS banyak dideteksi di kalangan pengguna narkoba (maaf, yang tepat narkoba yaitu narkotik dan bahan-bahan berbahaya bukan napza karena tidak semua zat adiktif termasuk narkotik, seperti kopi dan teh) hal itu terjadi karena pengguna narkoba diwajibkan menjalani tes HIV ketika hendak masuk ke pusat rehabilitasi.

Sedangkan orang-orang yang tertular melalui hubungan seks yang tidak aman (tidak memakai kondom) tidak terdeteksi sebelum mencapai masa AIDS (antara 5-10 tahun) karena tidak ada gejala-gejala yang khas sebelum masa AIDS. Tapi, perlu diingat biar pun belum mencapai masa AIDS orang-orang yang HIV-positif sudah bisa menularkan HIV melalui kegiatan yang berisiko tinggi (melakukan hubungan seks tanpa kondom dengan pasangan yang berganti-ganti di dalam dan di luar nikah).

Angka yang disebutkan merupakan jumlah resmi yang dilaporkan Departemen Kesehatan. Perlu diingat angka ini tidak realistis karena tidak menggambarkan keadaan yang sebenarnya. Hal ini terjadi karena tidak ada survailans tes HIV (tes untuk mengetahui perbandingan antara yang HIV-positif dan HIV-negatif pada kalangan dan pada kurun waktu tertentu) yang sistematis dan konsisten. Malaysia, misalnya, sudah menjalankan survailans tes HIV secara sistematis, seperti terhadap pasien klinik PMS, pengguna narkoba suntikan (injecting drug user/IDUs), wanita hamil, polisi, narapidana, dan pasien TB secara rutin sehingga angkanya pun mendekati angka yang sebenarnya.

Jika kita mengabaikan penularan melalui hubungan seks yang tidak aman maka kasus infeksi HIV di kalangan yang berperilaku berisiko tinggi (laki-laki dan perempuan yang melakukan hubungan seks tanpa kondom dengan pasangan yang bergnati-ganti di dalam dan di luar nikah) akan menjadi bom waktu. Soalnya, berbagai survailans tes HIV terhadap pekerja seks komersial (PSK) menunjukkan ada PSK yang HIV-positif sehingga laki-laki yang melakukan hubungan seks tanpa kondom dengan PSK berisiko tinggi tertular HIV. Jika ada yang tertular maka mereka akan menjadi mata rantai penyebaran HIV secara horizontal.

Jika ‘bom waktu’ itu meledak, maka bencana pun akan mendera bangsa yang dirundung malang ini. ***

- AIDS Watch Indonesia/Syaiful W. Harahap

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Terimakasih telah berkunjung ke situs AIDS Watch Indonesia.
Silahkan tinggalkan pesan Anda untuk mendapatkan tanggapan terbaik dari pembaca lainnya, serta untuk perbaikan ISI dan TAMPILAN blog ini di masa mendatang.