08 September 2013

Dampak Epidemi HIV terhadap Industri di Riau


Catatan. Tulisan ini merupakan tanggapan terhadap berita AIDS yang terbit tahun 2003. Tulisan ini sebagai pembanding terhadap berita yang diterbitkan media cetak sepuluh tahun kemudian. Redaksi.

Jakarta, 24/11-2003.- “AIDS di Riau Capai 253 Kasus”. Ini judul berita di Harian “Riau Pos” edisi 17/10-2003. Angka ini memang bisa membuat bulu kuduk berdiri karena fakta ini menunjukkan HIV/AIDS sudah ada di pelupuk mata. Kasus HIV/AIDS sudah dideteksi pada semua kalangan, usia dan lapisan masyarakat.

Tapi, tunggu dulu. Angka itu merupakan kasus kumulatif HIV-positif dan AIDS. Artinya, tidak semua kasus itu benar-benar HIV-positif karena sebagian besar merupakan hasil survailans tes HIV di kalangan pekerja seks.

Hasil survailans tes HIV tidak otomatis menggambarkan kondisi infeksi yang sebenarnya karena belum dikonfirmasi dengan tes lain. Selama ini survailans tes HIV (tes ini dilakukan untuk mengetahui perbandingan antara yang HIV-positif dan HIV-negatif di kalangan tertentu pada kurun waktu yang tertentu pula) dilakukan dengan dipstick atau ELISA. Kalau untuk keperluan survailans saja hasil tes tidak perlu dikonfirmasi dengan tes Western blot.

Namun, angka itu juga bisa merupakan puncak dari fenomena gunung es.
Seperti diketahui pada epidemi HIV ada fenomena gunung es yaitu kasus yang terdeteksi tidak merupakan gambaran nyata dari kasus yang sebenarnya. Ada kemungkinan kasus yang tidak terdeteksi justru jauh lebih besar.

Hal inilah sebenarnya yang perlu dirisaukan karena banyak orang yang tertular HIV tidak menyadari dirinya sudah HIV-positif karena tidak ada gejala-gejala klinis yang khas HIV/AIDS. Orang-orang yang sudah HIV-positif tidak tampak karena sebelum mencapai masa AIDS, antara 5-10 tahun setelah tertular, sama sekali tidak ada gejala yang khas tapi yang bersangkutan sudah dapat menularkan HIV kepada orang lain melalui cara-cara yang sangat spesifik. Orang-orang inilah kemudian yang bisa menjadi mata rantai penularan HIV secara horizontal antar penduduk.

Perilaku Berisiko

Salah satu media penularan HIV adalah melalui hubungan seks yang tidak aman (tidak memakai kondom) jika salah satu pasangan tersebut HIV-positif. Kalau dua-duanya HIV-positif pun tetap ada risiko penularan karena ada kemungkinan subtipe virus mereka berbeda. Sebagai virus HIV dikenal banyak subtipenya, mulai dari A sampai O. Di Indonesia banyak ditemukan subtipe E.

Karena orang-orang yang sudah HIV-positif tidak bisa dikenali dari fisiknya maka yang untuk melindungi diri agar tidak tertular HIV adalah dengan menghindari perilaku-perilaku berisiko tinggi tertular HIV. HIV/AIDS merupakan fakta medis (dapat diuji di laboratorium dengan teknologi kedokteran) sehingga pencegahannya pun dapat dilakukan dengan cara-cara yang rasional (masuk akal) dan realistis.

Perilaku berisiko tinggi tertular HIV adalah (1) melakukan hubungan seks (sanggama) penetrasi yang tidak aman (tidak memakai kondom) di dalam dan di luar nikah dengan pasangan yang berganti-ganti, (2) melakukan hubungan seks (sanggama) penetrasi yang tidak aman (tidak memakai kondom) di dalam dan di luar nikah dengan seseorang yang suka berganti-ganti pasangan, seperti pekerja seks, (3) menerima transfusi darah yang tidak diskrining, dan (4) memakai jarum suntik dan semprit secara bersama-sama dengan bergiliran dan bergantian.

Saat ini epidemi HIV dipicu oleh pemakaian jarum suntik di kalangan pengguna narkoba suntikan. Jika di satu daerah sudah terdeteksi pengguna narkoba dengan jarum suntik maka epidemi HIV di daerah itu akan cepat menyebar secara horizontal antar penduduk. Seorang pengguna narkoba yang tertular HIV akan menularkannya kepada pasangan seksnya atau teman-temannya sesama pengguna narkoba suntikan.

Sebagai daerah industri wilayah Riau, terutama Pekan Baru, akan ‘menuai badai’ kalau epidemi HIV tidak ditangani dengan serius karena fakta menunjukkan di banyak negara epidemi HIV di kalangan pekerja industri berdampak buruk terhadap kinerja industri.

Pekerja ahli yang sudah menghabiskan banyak uang untuk menyekolahkan mereka tiba-tiba tidak bisa bekerja karena mencapai masa AIDS. Masa kerja mereka masih panjang tapi tidak bisa lagi didayagunakan. Perusahaan menanggung rugi dan keluarga karyawan tadi pun menanggung bebas karena harus mengurus anggota keluarga yang sakit. Soalnya, kalau sudah mencapai masa AIDS akan sangat mudah diserang berbagai penyakit (infeksi oportunistik).

Tes HIV Sukarela

Ada kemungkinan karyawan itu tertular hanya karena mereka tidak mengetahui cara-cara yang rasional dan realistis untuk melindungi diri. Soalnya, selama ini informasi tentang HIV/AIDS dibalut dengan moral dan agama sehingga yang muncul hanyalah mitos (anggapan yang salah) tentang HIV/AIDS. Misalnya, mengait-ngaitkan HIV/AIDS dengan zina, pelacuran, dll. Padahal, tidak ada kaitan langsung antara penularan HIV dengan zina dan pelacuran.

Untuk mencegah agar tidak tertular HIV dapat dilakukan setiap orang yaitu dengan menghindari perilaku berisiko dan meningkatkan kewaspadaan universal (universal precaution) terutama pada fasilitas kesehatan, seperti penggunaan jarum suntik yang steril, memakai sarung tangan, dll. Sedangkan di kalangan masyarakat diperlukan pengetahuan yang komprehensif tentang HIV/AIDS terutama tentang cara-cara penularan dan pencegahannya secara medis.

Karena di Riau sudah terdeteksi kasus HIV/AIDS, terutama di kalangan pekerja seks, maka penduduk lokal yang pernah melakukan hubungan seks yang tidak aman dengan pekerja seks sudah ada kemungkinan tertular HIV. Jika ada di antara penduduk lokal yang tertular HIV maka tanpa disadarinya dia akan menjadi mata rantai penyebaran HIV secara horizontal. Dia akan menulari istrinya atau pasangannya yang lain. Jika istrinya tertular maka akan terjadi pula penularan vertikal dari-ibu-bayi yang dikandungnya pada saat persalinan dan menyusui.

Untuk memutus mata rantai penyebaran HIV di Riau dianjurkan bagi penduduk yang pernah melakukan salah perilaku berisiko, seperti melakukan hubungan seks dengan pekerja seks, untuk menjalani tes HIV secara sukarela dengan konseling. Melalui cara ini, dikenal sebagai VCT (voluntary counselling and test), setiap orang akan mendapat konseling sebelum dan sesudah tes dan kerahasian dijamin.

Dengan mengetahui status HIV sebelum mencapai masa AIDS akan banyak manfaatnya. Misalnya, yang bersangkutan mendapatkan pengobatan karena sekarang sudah ada obat antiretroviral yang dapat menahan laju pertumbuhan HIV di dalam darah. Obat ini sudah diproduksi di dalam negeri sehingga harganya sudah terjangkau. Untuk dosis satu bulan sekitar Rp 800.000. Sebelumnya mencapai Rp 2,5 juta

Selain itu yang bersangkutan pun tidak lagi menjadi mata rantai penyebaran HIV secara horizontal karena ketika menjalani VCT sudah ada pendekatan yang harmonis sehingga ybs. memahami kondisinya dan tidak akan melakukan perilaku berisiko sehingga tidak akan terjadi penyebaran HIV.

-         AIDS Watch Indonesia/Syaiful W. Harahap

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Terimakasih telah berkunjung ke situs AIDS Watch Indonesia.
Silahkan tinggalkan pesan Anda untuk mendapatkan tanggapan terbaik dari pembaca lainnya, serta untuk perbaikan ISI dan TAMPILAN blog ini di masa mendatang.