29 September 2013

Berita yang Tidak Akurat


Berita “25 Warga Sumedang Positif Terjangkit HIV” dan “Jangan-jangan Orang Baik pun Tertular” yang dimuat di Harian “Pikiran Rakyat” Bandung edisi 24 Mei 2006 menunjukkan pemahaman terhadap HIV/AIDS yang tidak akurat.

Pertama, dalam berita tidak dijelaskan kapan dan siapa atau kalangan mana yang menjadi objek survailans. Hal ini penting karena survailans dilakukan hanya untuk mendapatkan prevalensi yaitu angka yang merupakan perbandingan antara yang HIV-positifi dan HIV-negatif di kalangan tertentu dan pada kurun waktu tertentu pula. Setiap saat prevalensi bisa berubah.

Kedua, asas survailans adalah anonim (tidak ada tanda atau kode pada contoh darah yang dites) dan konfidensial (rahasia). Lagi pula tidak ada gunanya mengetahui identitas pemilik darah yang terdeteksi HIV-positif pada survailans karena yang diperlukan hanya prevalensi. Maka, pernyataan yang menyebutkan karena tidak mengetahui identitas maka ” ….. pihaknya belum bisa langsung melakukan langkah pembinaan … terhadap  pengidap virus …. ” ngawur karena data itu adalah hasil survailans. Lagi pula orang yang sudah tertular HIV sebelum mencapai masa AIDS tidak memerlukan penanganan medis.

Ketiga, hasil tes HIV pada survailans tidak bisa dijadikan sebagai patokan yang menentukan seseorang sudah HIV-positif karena hasil tes HIV pertama apa pun hasilnya harus dikonfirmasi dengan tes lain. Maka, angka 25 itu kalau dites ulang belum tentu hasilnya tetap 25 karena ada di antara hasil itu ada yang positif palsu.

Keempat, disebutkan ” …. meninggal dunia karena AIDS ….”. Ini tidak akurat karena AIDS bukan penyakit sehingga tidak mamatikan. Yang mamatikan adalah penyakit lain yang disebut infeksi oportunistik.

Kelima, pananggulangan dengan `melakukan survey khusus HIV’ merupakan langkah yang naïf karena tidak mungkin melakukan survai kepada semua penduduk. Lagi pula mobilitas penduduk antar kota, daerah dan negara sangat tinggi sehingga tidak mungkin tiap saat dilakukan tes HIV karena setiap orang bisa saja tertular kapan saja dan di mana saja kalau dia melalukan perilaku berisiko.

Keenam, disebutkan pula ” …. diarahkan ke tempat-tempat yang dicurigai sebagai sumber penularan dan dugaan ada orang terkena HIV” menunjukkan pemahaman yang tidak komprehensif terhadap HIV/AIDS. HIV tidak bersarang di tempat tertentu. PSK pun terular HIV dari laki-laki yang mengenceaninya. Maka, yang menjadi mata rantai adalah laki-laki. Selama laki-laki yang menjadi mata rantai penyebaran HIV tidak
terdeteksi maka epidemi akan menjadi `bom waktu’.

Ketujuh, Orang yang tertular HIV tidak hanya di lokalisasi. Siapa saja dan di mana saja tempat tinggalnya bisa tertular HIV kalau dia melakukan perilaku yang berisiko tertular HIV. Misalnya, melakukan hubungan seks tanpa kondom, di dalam atau di luar nikah, dengan pasangan yang berganti-ganti atau dengan seseorang yang sering berganti-ganti pasangan di daerah sendiri atau di luar daerah atau di luar negeri.

Selama materi KIE (komunikasi, informasi dan edukasi) tentang HIV/AIDS dibalut dengan moral dan agama maka selama itu pula masyarakat tidak akan menyadari cara-cara pencegahan HIV yang realistis. Kalau ini yang terjadi maka ledakan HIV/AIDS akan menjadi kenyataan dalam kehidupan kita. ***

Syaiful W. Harahap
LSM (media watch) “InfoKespro“ Jakarta

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Terimakasih telah berkunjung ke situs AIDS Watch Indonesia.
Silahkan tinggalkan pesan Anda untuk mendapatkan tanggapan terbaik dari pembaca lainnya, serta untuk perbaikan ISI dan TAMPILAN blog ini di masa mendatang.