09 Agustus 2013

Tes HIV Massal di Kab Paniai, Papua



Tanggapan Berita (10/8-2013) – Dengan program tersebut, jelas Agus, diharapkan Paniai menjadi zero discrimination dan zero new infection. Ini pernyataan Direktur RSUD Paniai dr Agus. Program yang dimaksud dr Agus adalah tes HIV massal yang dilakukan terhadap penduduk yang berobat di unit layanan baik itu di puskesmas maupun rumah sakit (Bupati Paniai Wajibkan Pasien Puskesmas Tes HIV, jpnn.com, 3/8-2013).

Pernyataan dr Agus tsb. tidak akurat karena:

Pertama, diskriminasi (perlakuan berbeda) justru terjadi pada orang-orang yang sudah terdeteksi mengidap HIV/AIDS.

Kedua, tes HIV dilakukan di hilir. Artinya, seseorang terdeteksi mengidap HIV/AIDS melalui tes itu artinya dia sudah tertular HIV (di hulu).

Disebutkan bahwa kasus kumulatif HIV/AIDS di Kab Paniai mencapai 638 dengan enam kematian. Dari jumlah tsb. 70 kasus pada tahap masa AIDS. Yang sudah memenuhi syarat meminum obat antiretroviral (ARV) 75, sedangkan yang bisa terjangkau baru 35.

Lalu, bagaimana tes HIV massal bisa mencegah insiden infeksi HIV baru?

Risiko tertular HIV, terutama pada laki-laki dewasa, penduduk Kab Paniai bisa terjadi di Kab Paniai, di luar Kab Paniai dan di luar negeri (Lihat Gambar 1).

Biar pun setiap penduduk yang berobat ke puskesmas dan rumah sakit menjalani tes HIV, insiden infeksi HIV baru akan terus terjadi jika ada penduduk Kab Paniai, terutama laki-laki dewasa yang melacur tanpa kondom di Kab Paniai, di luar Kab Paniai dan di luar negeri.

Pak Bupati, Paniai Hengky Kayame, tentu saja tidak bisa mengawasi penis semua laki-laki penduduk kabupaten yang dipimpinnya itu.

Yang bisa dilakukan Pak Bupati hanyalah menerapkan program intervensi yang konkret yaitu mewajibkan laki-laki dewasa memakai kondom ketika melakukan hubungan seksual dengan pekerja seks komersial (PSK) di wilayah Kab Paniai.

Celakanya, Pak Bupati tentu saja membusungkan dada mengatakan bahwa di daerahnya tidak ada pelacuran, dalam arti pelacuran yang dilokalisir dengan regulasi.

Maka, program untuk menurunkan insiden infeksi HIV baru pada laki-laki yang melacur dengan PSK pun tidak bisa dijalankan karena pelacuran terjadi setiap saat di banyak tempat.

Langkah lain yang bisa dilakukan Pak Bupati adalah intervensi terhadap perempuan hamil berupa survailans tes HIV rutin. Ini diperlukan agar program pencegahan dari-ibu-ke-bayi yang dikandungnya bisa dijalankan.
Saolnya, tidak semua penduduk Kab Paniai akan berobat ke puskesmas dan rumah sakit. Bisa saja mereka berobat ke dukun, orang pintar atau ke luar daerah.


Tes HIV massal yang dicanangkan Pak Bupati pun merupakan langkah di hilir (Lihat Gambar 2). Artinya, Pak Bupati menunggu dulu ada penduduk yang tertular HIV baru terdeteksi melalui tes HIV massal tsb.

Tes HIV juga mempunyai kelemahan yaitu hasil negatif palsu karena tes dilakukan pada masa jendela yaitu tertular di bawah tiga bulan (tes HIV negatif karena reagen tidak mendeteksi antibody  HIV di dalam darah). Tentu saja harus dipikirkan upaya untuk mengatasi masa jendela ini.

Selain itu penduduk yang tidak tes HIV, yaitu yang tidak berobat ke puskesmas dan rumah sakit, akan menjadi mata rantai penyebaran HIV jika mereka pengidap HIV/AIDS.

Disebutkan dalam berita bahwa tes HIV massal itu akan membuat  tidak ada lagi orang Mee yang diasingkan atau dikucilkan gara-gara HIV. Kemudian, juga tidak ada lagi orang Mee yang terinfeksi HIV dan meninggal karena HIV.

Kesimpulan di atas naif karena:

(1) Kasus-kasus pengasingan, karantian, dan pengucilan terhadap pengidap HIV/AIDS justru terjadi pada orang-orang yang sudah terdeteksi mengidap HIV/AIDS.

(2) Tes HIV bukan vaksin. Penduduk Paniai yang sudah menjalani tes HIV tidak jaminan bahwa mereka tidak akan tertular HIV (lagi).

(3) Belum ada laporan kasus kematian pada pengidap HIV/AIDS karena HIV. Kematian pada pengidap HIV/AIDS terjadi di masa AIDS karena penyakit lain, disebut infeksi oportunistik, seperti diare dan TBC.

Kebijakan yang disebut sebagai yang pertama di Indonesia itu, yaitu tes HIV massal, tidak akan efektif selama tidak ada program yang konkret untuk menurunkan insiden infeksi HIV baru pada laki-laki melalui hubungan seksual dengan PSK (di hulu).

Artinya, penduduk yang terdeteksi HIV terus terjadi karena insiden infeksi HIV baru di hulu juga terus terjadi.***

- AIDS Watch Indonesia/Syaiful W. Harahap

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Terimakasih telah berkunjung ke situs AIDS Watch Indonesia.
Silahkan tinggalkan pesan Anda untuk mendapatkan tanggapan terbaik dari pembaca lainnya, serta untuk perbaikan ISI dan TAMPILAN blog ini di masa mendatang.