* Itu yang dialami oleh
penduduk Kab Sangihe dan Kab Talaud, Sulut
Seorang pria dengan penyakit yang terkait HIV/AIDS meninggal dunia sebelum
sempat menjalani tes HIV. Pria itu dirawat di puskesmas kemudian ke rumah sakit.
Karena ada gejala-gejala terkait AIDS, ”Kita merencanakan membawa pria itu
tes HIV ke Manado,” kata Hendro Dededaka, aktivis di GMIST (Gerjela Masehi
Injili Sangihe Talaud), di sela-sela ”Pelatihan Dasar Radio & Film:
Mengasah Nurani Menumbuhkan Jurnalistik Empatik” yang diselenggarakan YAKOMA di
Jakarta (26-31 Agustus 2013).
Hendro memutar otak memikirkan biaya yang harus dikeluarkan dari Tahuna ke
Kota Manado karena hanya di kota itulah yang ada tes HIV. Kejadian tahun lalu
itu mendorong Hendro lebih giat menjalankan sosialisasi ke semua lapiran
masyarakat, terutama umat gereja, dan pendampingan terhadap pengidap HIV/AIDS.
Itulah sebabnya Hendro dengan tekun mengikuti pelatihan. Tapi, kerja keras
Hendro kelak tidak ada artinya jika di Kab Sangihe dan Kab Talaud tidak ada
tempat tes HIV.
Bayangkan ongkos dari pelabuan Tahuna ke Kota Manado dengan kapal laut Rp
135.000 sekali jalan. Ini belum termasuk ongkos dari rumah yang mau tes HIV ke
pelabuhan Tahuna.
Sesampainya di Manado tentu perlu penginapan. Sewa losmen paling murah Rp
150.000/malam. Jika dihitung-hitung ongkos Tahuna-Manado pp, penginapan, makan
dan minum diperlukan lebih dari satu juta rupiah.
Biaya yang lebih besar diperlukan penduduk Kab Talaud jika ingin tes HIV ke
Manado karena ibu kota Talaud, Melonguane, lebih ke utara lagi
dari kota Tahuna.
Laki-laki yang meninggal itu meninggalkan istri dan anak sehingga mereka
pun perlu menjalani tes HIV agar bisa dilakukan pendampingan terhadap mereka.
Tapi, jika harus ke Manado tentulah mustahil bagi Hendro membawa keluarga itu
karena membutuhkan dana yang besar.
Banyak laki-laki dewasa di Sangihe dan Talaud yang menunjukkan penyakit
dengan gejala-gejala terkait HIV/AIDS. “Paling tidak ada 30-an,” kata Hendro mengingat-ingat yang pernah dia dampingi.
Tapi, lagi-lagi Hendro tidak bisa berbuat banyak karena tidak ada sarana untuk
tes HIV.
Laki-laki dari Sangihe dan Talaud banyak yang bekerja di Papua dan Papua
Barat. Seperti diketahui di
Tanah Papua prevalensi HIV/AIDS tinggi dan pelacuran ada di semua kota.
Celakanya, program penjangkauan yaitu ‘kewajiban memakai kondom’ bagi
laki-laki yang melakukan hubungan seksual dengan pekerja seks komersial (PSK)
tidak dijalankan dengan regulasi yang komprehensif.
Akibatnya, banyak laki-laki yang tidak memakai kondom ketika sanggama
dengan PSK.
Ada dua kemungkinan yang terjadi, yaitu:
(1) Laki-laki penduduk asli Tanah Papua dan pendatang ada yang mengidap
HIV/AIDS sehingga mereka menularkan HIV kepada PSK. Selanjutnya, laki-laki
penduduk asli Tanah Papua dan pendatang yang sanggama tanpa kondom dengan PSK
berisiko tertular HIV/AIDS.
(2) PSK yang ‘praktek’ di Tanah Papua sudah mengidap HIV/AIDS ketika mereka
tiba di sana. Maka, laki-laki penduduk asli Tanah Papua dan pendatang yang
sanggama tanpa kondom dengan PSK berisiko tertular HIV/AIDS.
Kondisi itulah yang tidak dipahami oleh laki-laki penduduk asli Tanah Papua
dan pendatang, termasuk laki-laki perantau dari Sangihe dan Talaud.
Tentu saja hal itu jadi tantangan untuk Hendro dkk. yang sedang mengikuti pelatihan
di Jakarta yaitu membuat materi siaran radio dan film dokumenter untuk
memasyarakatkan cara-cara pencegahan HIV/AIDS yang konkret.***
- AIDS Watch Indonesia/Syaiful
W. Harahap
Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Terimakasih telah berkunjung ke situs AIDS Watch Indonesia.
Silahkan tinggalkan pesan Anda untuk mendapatkan tanggapan terbaik dari pembaca lainnya, serta untuk perbaikan ISI dan TAMPILAN blog ini di masa mendatang.