12 Juli 2013

Proteksi ’Pergaulan Bebas’ Tidak Menghambat Penyebaran HIV/AIDS di Kota Padang

Tanggapan Berita (13/7-2013) – "Kota Padang (Sumbar-pen.) selama ini terkenal dengan proteksi akan pergaulan bebas, ternyata kasus HIV/AIDS di kota ini justru semakin mengkhawatirkan.” Ini lead pada berita ”Awassss.. HIV/AIDS di Padang Mulai Mengkhawatirkan” di kliksumbar.com (27/7-2013).

Istilah ’pergaulan bebas’ dalam pernyataan di atas tidak jelas karena selama ini ’pergaulan bebas’ selalu dikaitkan dengan kebiasaan pacaran remaja yang berakhir pada kehamilan cewek.

Risiko seseorang, terutama laki-laki dewasa, tertular HIV bukan karena ’perbaulan bebas’, tapi perilaku seksual yang berisiko terjadi penulara HIV/AIDS, yaitu:

(a) Pernah atau sering melakukan hubungan seksual tanpa kondom di dalam  nikah dengan perempuan yang berganti-ganti, seperti kawin-cerai, ), di Kota Padang atau di luar Kota Padang, karena ada kemungkinan salah satu dari perempuan tsb. mengidap HIV/AIDS.

(b) Pernah atau sering melakukan hubungan seksual tanpa kondom di luar nikah dengan perempuan yang berganti-ganti, seperti perselingkuhan, ), di Kota Padang atau di luar Kota Padang, karena ada kemungkinan salah satu dari perempuan tsb. mengidap HIV/AIDS.

(c) Pernah atau sering melakukan hubungan seksual tanpa kondom dengan perempuan yang sering berganti-ganti pasangan, seperti pekerja seks komersial (PSK), di Kota Padang atau di luar Kota Padang, karena ada kemungkinan PSK  tsb. mengidap HIV/AIDS

Kasus HIV/AIDS di Kota Padang sejak tahun 1992 sampai akhir 2012 mencapai 160. Jika disimak dari segi penyebaran HIV, sehingga angka itu semu artinya tidak menggambarkan kasus yang sebenarnya di masyarakat.

Maka, yang mengkhawatirkan adalah ada penduduk, terutama laki-laki dewasa, yang menjadi mata rantai penyebaran HIV di masyarakat tanpa disadari ybs. Ini terjadi karena orang-orang yang mengidap HIV/AIDS tidak menunjukkan gejala-gajala yang kahs AIDS pada fisik mereka sebelum masa AIDS (antara 5-15 tahun setelah tertular HIV).

Kalau yang dimaksud ’pergaulan bebas’ adalah pelacuran yang terbuka, seperti di lokasi atau lokalisasi, memang tidak ada di Kota Padang, tapi itu bukan jaminan bahwa praktek pelacuran dalam berbagai bentuk tidak ada di Kota Padang.

Praktek pelacuran terjadi setiap waktu melalui jaringan yang melibatkan banyak orang sebaga perantara, seperti karyawan penginapan, losmen, hotel melati sampai hotel berbintang, tukang ojek, sopir taksi, dll.

Tentu saja Pemkot Padang tidak bisa mengawasi perilaku semua laki-laki dewasa terkait dengan praktek pelacuran karena terjadi di tempat-tempat tertutup.

Staf ahli Walikota Padang Frisdawati Boer, mengatakan: "Kasus penderita HIV/AIDS di Padang menempati urutan teratas kasus di Sumbar.”

Sayang wartawan tidak mengejar data ini: mengapa banyak kasus HIV/AIDS terdeteksi di Kota Padang, apakah semua kasus tsb. terdeteksi pada penduduk Kota Padang, bagaimana kasus-kasus tsb. terdeteksi, dst.

Sementara Sekretaris Komiter Pencegahan AIDS Padang, Syafril Agus, mengatakan: "HIV dan AIDS saat ini butuh dukungan dari semua lapisan masyarakat untuk memberantasnya, terutama peran orang tua dan tokoh agama, tidak bisa mengandalkan peran pemerintah saja mengantisipasinya."

Syafril melempar tanggung jawab karena pihaknya sendiri tidak mempunyai program penanggulangan yang komprehensif. Masyarakat tidak bisa berperan karena programnya tidak konkret.

Lagi-lagi Syafril menutup-nutupi fakta berupa penyangkalan yaitu insiden infeksi HIV baru yang terjadi melalui hubungan seksual tanpa kondom antara laki-laki dewasa dengan PSK, dalam hal ini di Kota Padang adalah PSK tidak langsung karena mereka tidak mangkal di lokasi pelacuran.

Penyangkalan Syafril tampak jelas dari pernyataan  ini: Cara efektif melindungi generasi muda belum tertular HIV/AIDS jauhkan dari mengkonsumsi narkoba. Mengapa? Menurut Syafril: "Karena Narkoba menjadi jalan masuk menuju HIV dan AIDS, kalau tidak ditangkal sejak sekarang maka Sumbar maupun Indonesia akan mengalami kehilangan generasi.”

Risiko penularan HIV melalui narkoba hanya bisa terjadi kalau narkoba (narkotika dan bahan-bahan berbahaya) disalahgunakan dengan jarum suntik secara bersama-sama dan jarum suntik dipakai bergantian.

Insiden penularan HIV baru pada laki-laki dewasa terjadi melalui hubungan seksual tanpa kondom dengan PSK, maka yang perlu dilakukan adalah menjalankan program yang konkret untuk menurunkan insiden infeksi HIV baru pada laki-laki dewasa melalui hubungan seksual dengan PSK.

Selama Pemkot Padang tidak menjalankan program untuk menurunkan insiden infeksi HIV baru pada laki-laki dewasa pada hubungan seksual dengan PSK, maka selama itu pula penyebaran HIV/AIDS akan terus terjadi yang kelak bermuara pada ’ledakan AIDS’.***

- AIDS Watch Indonesia/Syaiful W. Harahap

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Terimakasih telah berkunjung ke situs AIDS Watch Indonesia.
Silahkan tinggalkan pesan Anda untuk mendapatkan tanggapan terbaik dari pembaca lainnya, serta untuk perbaikan ISI dan TAMPILAN blog ini di masa mendatang.