01 Juli 2013

Perilaku Seks sebagian Laki-laki Dewasa di NTT Tidak Terkendali


Tanggapan Berita (2/7-2013) – ”Penyebaran Human Immunodeficiency Virus (HIV) dan Acquired Immune Deficiency Syndrome (AIDS) di Pulau Flores dan Lembata, Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT), semakin tidak terkendali. Total penderita HIV/AIDS di seluruh NTT sebanyak 2.351. Tercatat, terdapat 935 penderita, 296 penderita terinfeksi di antaranya meninggal dunia.” Ini lead pada berita “2.351 Warga Flores-Lembata Terinfeksi HIV/AIDS” di www.beritasatu.com (25/6-2013).

Ada beberapa hal yang tidak cermat dalam judul dan lead berita di atas, yaitu:

(1) Jumlah 2.351 kasus HIV/AIDS bukan di Flores Lembata, tapi di NTT.

(2) Tidak jelas berapa kasus HIV-positif dan AIDS.

(3) Penyebaran HIV/AIDS tidak terkendali karena:

(a) pemerintah tidak mempunyai program yang konkret dan sistematis untuk menurunkan insiden infeksi HIV baru pada laki-laki dewasa melalui hubungan seksual dengan pekerja seks komersial (PSK)

(b) banyak laki-laki yang tidak bisa mengendalikan penisnya (baca: tidak memakai kondom) ketik melakukan hubungan seksual dengan PSK

Selama tidak ada intervensi berupa program yang konkret dan sistematis untuk memaksa laki-laki memakai kondom ketika melacur, maka selama itu pula insiden infeksi HIV baru pada laki-laki dewasa akan terus terjadi.

Kasus HIV/AIDS yang terdeteksi pada ibu-ibu rumah tangga menunjukkan suami mereka melakukan hubungan seksual dengan perempuan lain tanpa kondom, al. dengan PSK.

Pada gilirannya jika seorang ibu rumah tangga tertular HIV, maka ada risiko penularan terhadap bayi yang dikandungnya. Celakanya, pemerintah tidak mempunyai program yang sistematis untuk mendeteksi HIV/AIDS pada perempuan hamil.

Sekretaris Komisi Penanggulangan AIDS Daerah (KPAD) Prov NTT, dr Husein Pancratius, mengatakan bahwa terlihat jumlah yang terus meningkat itu (kasus HIV/AIDS-pen.), maka untuk 10 tahun ke depan NTT akan kehilangan begitu banyak putra-putri sebagai generasi penerus bangsa ini

Remaja yang perilakunya berisiko akan tertular HIV dan jadi masalah besar sepuluh tahun ke depan karena mereka akan mengalami kesakitan yang membutuhkan perawatan dan pengobatan medis.

Sedangkan bayi-bayi yang lahir dari ibu yang mengidap HIV/AIDS akan hidup dengan HIV/AIDS. Bisa jadi mereka akan jadi anak yatim (ayahnya meninggal), anak piatu (ibunya meninggal) atau anak yatim-piatu (ayah ibunya meninggal).

Persoalan baru akan muncul: Siapa yang (akan) mengasuh anak-anak dengan HIV/AIDS itu?

Kemungkinan besar keluarga akan menolak. Panti asuhan pun akan menolak. Sedangkan pemerintah, dalam hal ini Kemenkes dan Kemensos, tidak bisa menangani langsung karena anak-anak itu tidak sakit dan bukan pula gelandangan.

Lalu siapa?

Kita berharap agamawan dan sarana keagamaan berbesar hati menampung anak-anak dengan HIV/AIDS, baik yatim, piatu atau yatim piatu.

Sejarah kelak akan mencatat siapa yang tulus menampung anak-anak dengan HIV/AIDS.***

- AIDS Watch Indonesia/Syaiful W. Harahap

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Terimakasih telah berkunjung ke situs AIDS Watch Indonesia.
Silahkan tinggalkan pesan Anda untuk mendapatkan tanggapan terbaik dari pembaca lainnya, serta untuk perbaikan ISI dan TAMPILAN blog ini di masa mendatang.