04 Juli 2013

Belasan Balita di Cianjur, Jabar, Terdeteksi Mengidap HIV/AIDS


Tanggapan Berita (5/7-2013) – ”Perkembangan kasus penularan virus HIV/AIDS di Kabupaten Cianjur kian memerihatinkan. Virus yang mematikan ini mulai menjangkiti bayi berusia di bawah lima tahun.” Ini lead pada berita ”Belasan Balita Cianjur Terjangkit HIV/AIDS” di  tribunnews.com (23/6-2013).

Kesimpulan pada lead berita di atas menggambarkan pemahaman yang tidak komprehensif terhadap HIV/AIDS sebagai fakta medis.

Pertama, HIV bukan virus yang mematikan. Belum ada kasus kematian pada pengidap HIV/AIDS karena (virus)  HIV.

Kedua, kematian pada pengidap HIV/AIDS terjadi di masa AIDS yang secara statistik terjadi pada rentang waktu antara 5-15 tahun setelah tertular HIV karena penyakit lain, disebut infeksi oportunistik, seperti diare, malaria, TBC, dll.

Ketiga, HIV tidak langsung menulari bayi atau balita melalui perilaku berisiko, tapi mereka tertular dari ibunya yaitu ketika di dalam kandungan, ketika persalinan atau waktu menyusui dengan air susu ibu (ASI).

Kalau saja narasumber dan wartawan yang menulis berita ini memahami HIV/AIDS secara akurat, maka persoalan utama adalah laki-laki dewasa, dalam hal ini suami.

Jumlah kasus kumulatif HIV/AIDS di Cianjur sejak tahun 2001 tercatat 341 dengan 52 kematian.

Suami-suami yang berzina (melakukan hubungan seksual, di dalam dan di luar nikah, dengan perempuan yang berganti-ganti di Cianjur atau di luar Cianjur) atau melacur (melakukan hubungan seksual tanpa kondom dengan pekerja seks komersial/PSK langsung atau PSK tidak langsung di Cianjur atau di luar Cianjur)

Ketua Himpunan Masyarakat Pemerhati Politik dan Sosial (HMP2S), Dede Rahmat, ada 15 balita yang mengidap HIV/AIDS di Cianjur. Itu artinya ada 15 perempuan dan 15 laki-laki yang mengidap HIV/AIDS.

Bertolak dari data 15 balita pengidap HIV/AIDS itu saja sudah ada 45 penduduk Cianjur yang mengidap HIV/AIDS. Angka ini akan bertambah jika di antara 15 laki-laki tsb. ada yang mempunyai istri lebih dari satu.

Menurut  Dede, masih banyak penderita positif HIV/AIDS yang bersikap tertutup.

Pernyataan Dede ini tidak akurat karena orang-orang yang sudah terdeteksi mengidap HIV/AIDS melalui tes HIV sudah tercatat di sarana kesehatan yang melakuan tes, di dinas kesehatan dan di Komisi Penanggulangan AIDS (KPA).

Yang terjadi adalah banyak orang yang perilakunya berisiko tertular HIV, terutama laki-laki dewasa, yaitu pernah atau sering melacur tanpa kondom tidak menyadari dirinya sudah tertular HIV karena tidak ada tanda-tanda atau gejala yang khas AIDS pada fisiknya.

Nah, orang-orang itulah yang menjadi mata rantai penyebaran HIV/AIDS di Cianjur buktinya bisa dilihat dari kasus penemuan HIV/AIDS pada ibu-ibu rumah tangga.

Sekretaris KPA Cianjur, Hilman, menyatakan di Cianjur penularan HIV/AIDS 88 persen melalui hubungan seksual.

Itu artinya banyak penduduk Cianjur yang melakukan perilaku berisiko yaitu melakukan hubungan seksual tanpa kondom dengan pasangan yang berganti-ganti atau dengan yang sering berganti-ganti pasangan, seperti PSK.

Yang perlu dilakukan Pemkab Cianjur adalah menjalankan program yang konkret berupa intervensi terhadap laki-laki agar memakai kondom ketika melakukah hubungan seksual denan PSK.

Celakanya, praktek pelacuran yang terjadi di wilayah Kab Cianjur tidak dilokalisir sehingga intervensi tidak akan bisa dijalankan. Maka, Pemkab Cianjur tinggal munggu waktu saja untuk ’panen AIDS’.***

- AIDS Watch Indonesia/Syaiful W. Harahap

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Terimakasih telah berkunjung ke situs AIDS Watch Indonesia.
Silahkan tinggalkan pesan Anda untuk mendapatkan tanggapan terbaik dari pembaca lainnya, serta untuk perbaikan ISI dan TAMPILAN blog ini di masa mendatang.