25 Juli 2013

AIDS di Kota Ambon, Butuh Penanganan Serius?


Tanggapan Berita (26/7-2013) – "Angka penderita HIV/AIDS di Kota Ambon (Prov Maluku-pen.) hingga Juni 2013 mencapai 60 orang sehingga dibutuhkan penanganan serius." Ini disampaikan oleh Kadis Kesehatan Ambon, Treesye Tory  dalam berita ”Dinkes: 60 Warga Ambon Tercatat Positif HIV/AIDS” (antara, 19/7-2013)

Apa, sih, yang dilakukan Dinkes Ambon sebagai penanganan serius?

Ini salah satu di antaranya, yaitu: ”Upaya sosialisasi dilakukan guna pencegahan dan penanggulangan HIV/AIDS, tetapi upaya ini juga harus ditunjang tingkat kesadaran dan perilaku masyarakat."

Sejak awal epidemi sosialisasi sudah gencar, tapi karena materi sosialisasi tentang HIV/AIDS tidak akurat, al. karena dibumbui dengan moral, maka yang ditangkap masyarakat hanya mitos (anggapan yang salah) tentang HIV/AIDS.

Misalnya, mengait-ngaitkan penularan HIV/AIDS dengan pekerja seks komersial (PSK) di tempat pelacuran.

Padahal, risik tertular HIV tidak hanya terkait dengan PSK.

Lagi pula ada fakta yang selalu diabaikan yaitu:

(1) Yang menularkan HIV kepada PSK adalah laki-laki yang dalam kehidupan sehari-hari bisa sebagai seorang suami.

(2) Lalu ada lagi laki-laki yang tertular HIV dari PSK. Laki-laki ini pun dalam kehidupan sehari-hari bisa sebagai seorang suami.

Maka, laki-laki yang menularkan HIV ke PSK dan laki-laki yang tertular HIV dari PSK menjadi mata rantai penyebaran HIV di masyarakat, al. melalui hubungan seksual tanpa kondom.

Angka 60 itu sendiri tidak jelas. Apakah kasus tsb. (60) hanya yang terdeteksi pada priode Januari-Juni 2013 atau sejak kasus HIV/AIDS terdeteksi di Ambon?

Ada pernyataan Treesye yang membenarkan terjadi praktik pelacuran di banyak tempat biar pun tidak ada lokalisasi pelacuran di Ambon, yaitu: "Jumlah penderita baru tersebut belum termasuk hasil survei di sejumlah kafe, karaoke, hotel, penginapan serta pangkalan ojek, dimana dari 1.000 sasaran didapati 79 orang positiv HIV, yakni 22 orang penderita lama dan 57 orang penderita baru."

Tanpa intervensi dengan program yang konkret, maka sosialisasi tidak akan ada gunanya karena untuk mengajak masyarakat, terutama laki-laki dewasa, agar melacur pakai kondom membutuhkan waktu yang lama dan tidak ada jaminan akan berhasil.

Seperti dikatakan bahwa penanggulangan HIV/AIDS di Kota Ambon ”harus ditunjang tingkat kesadaran dan perilaku masyarakat”.

Selama sosialisasi berjalan insiden infeksi HIV baru terus terjadi. Untuk itulah diperlukan intervensi selama sosialisasi berjalan agar lebih efektif yaitu melalui program yang memaksa laki-laki memakai kondom setiap kali melacur.

Disebutkan pula bahwa Selain sosialisasi, pihaknya juga akan melakukan survei penderita di daerah beresiko tinggi HIV/AIDS, seperti di tempat hiburan malam untuk mendapatkan data terbaru.

Langkah ini di hilir. Artinya, hasil survai itu adalah mendeteksi orang-orang yang sudah tertular HIV.

Yang diperlukan adalah penanggulangan di hulu yaitu menurunkan insiden infeksi HIV baru, terutama pada laki-laki melalui hubungan seksual dengan PSK.

Dikabarkan sosialisasi bahaya AIDS juga dilakukan dengan sasaran para remaja dan masyarakat yang berusia produktif.

Realitas terkait HIV/AIDS sekarang adalah kasus HIV/AIDS pada ibu rumah tangga terur terdeteksi. Ini menujukkan perilaku berisiko justru dilakukan oleh laki-laki dewasa bukan pelajar laki-laki.

Treesye juga mengatakan: "Kami juga akan melakukan pengambilan darah secara gratis guna memastikan masyarakat mengidap penyakit tersebut atau tidak, serta menyediakan kondom gratis untuk menekan dan memutus mata rantai penyebaran virus."

Tidak semua orang atau masyarakat yang harus menjalani tes HIV karena tidak semua orang perilaku seksnya berisiko tertular HIV.

Yang dianjurkan tes HIV adalah penduduk yang pernah atau sering melakukan perilaku berisiko berisiko tertular HIV, yaitu:

(a) Laki-laki dan perempuan yang pernah atau sering melakukan hubungan seksual tanpa kondom, di dalam dan di luar nikah, dengan pasangan yang berganti-ganti di Kota Ambon dan di luar Kota Ambon.

(b) Laki-laki yang pernah atau sering melakukan hubungan seksual tanpa kondom dengan yang sering berganti-ganti pasangan, seperti PSK, di Kota Ambon dan di luar Kota Ambon.

(c) Laki-laki dan perempuan dewasa yang melakukan hubungan seksual tanpa kondom, di dalam nikah, pada praktek kawin-cerai di Kota Ambon dan di luar Kota Ambon.

(d) Ibu-ibu rumah tangga yang sedang hamil karena ada kemungkinan suami mereka melakukan perilaku berisiko, seperti pada (a), (b) dan (c).

Untuk itulah diperlukan program yang konkret dan sistematis untuk mendeteksi penduduk yang tertular HIV. Setiap penduduk yang terdeteksi mengidap HIV/AIDS, itu artinya satu mata rantai diputus.

Pertanyaannya: Apa program konkret yang dilakukan Pemkot Ambon untuk menanggulangi (penyebaran) HIV/AIDS?

Kalau tidak ada, maka Pemkot Ambon tinggal menunggu ’ledakan AIDS’.***

- AIDS Watch Indonesia/Syaiful W. Harahap

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Terimakasih telah berkunjung ke situs AIDS Watch Indonesia.
Silahkan tinggalkan pesan Anda untuk mendapatkan tanggapan terbaik dari pembaca lainnya, serta untuk perbaikan ISI dan TAMPILAN blog ini di masa mendatang.