19 Juni 2013

Seorang TKW Karanganyar, Jateng, Terdeteksi Mengidap HIV/AIDS

Tanggapan Berita (20/6-2013) – ”Pendampingan KPA dengan sasaran kalangan TKI dilatarbelakangi kasus HIV-Aids di Kabupaten Karanganyar (Jawa Tengah-pen.). Seorang tenaga kerja wanita (TKW) terjangkit virus mematikan di lingkungan kerjanya di Singapura. Beruntung KPA segera menanganinya, tak lama setelah TKW tersebut dari luar negeri.” Ini pernyataan Sekretaris I Tenaga Penuh Waktu KPA Solo, Harsojo Soepodo, dalam berita "HIV-Aids intai TKI” di sindonews.com (6/6-2013).

Ada beberapa hal yang perlu dipertanyakan kepada Harsojo, yaitu: Apakah TKW tsb. menjalani tes HIV sesuai dengan standar baku sebelum berangkat ke Singapura?

Kalau jawabannya tidak, maka bisa saja TKW itu tertular HIV di Solo atau di daerah lain. Bisa tertular dari suami atau pasangannya.

Kalau jawabannya ya, maka perlu juga dirunut apakah TKW itu hanya pernah pergi ke Singapura, atau dia sudah pernah bekerja di daerah atau negara lain.

Selain itu patut pula dipertanyakan: Mengapa dan bagaimana TKW itu tertular HIV di Singapura?

Kalau TKW itu tertular HIV melalui hubungan seksual, maka ada beberapa kemungkinan, yaitu: (a) diperkosa majikan, (b) dikawini atau dinikahi majikan, (c) selingkuh dengan majikan, dan (d) sebagai pekerja seks.

Sayang, informasi itu tidak muncul dalam berita karena wartawan yang menulis berita ini tidak memahami HIV/AIDS secara komprehensif.

Yang dikemukakan hanya tentang tingkat pendidikan rendah tenaga kerja Indonesia (TKI) berkorelasi dengan risiko tinggi tertular  HIV.

Pernyataan tidak akurat karena banyak kasus HIV/AIDS terdeteksi pada orang berpendidikan tinggi, mulai dari S2, S2, S3, bahkan guru besar.

Harsojo dikabarkan menyesalkan petaka yang diderita TKW asal Karanganyar ini, karena seharusnya dapat diantisipasi sejak awal melalui pengetahuan cukup tentang bahaya HIV/AIDS.

Kalau TKW tsb. diperkosa dan dinikahi majikan, apakah ada korelasi pendudukan dengan perilaku tsb.?

Yang diperlukan adalah penanganan TKW di tempat kerjanya di luar negeri yaitu atase tenaga kerja di kedutaan harus tanggap jika ada TKW yang diperkosa atau dikawini.

Celakanya, tidak ada langkah konkret yang dilakukan pemerintah, dalam hal ini atase tenaga kerja di kedutaan, untuk melindungi TKW dari risiko tertular HIV melalui perkosaan dan perkawinan.

Maka, tidaklah mengherankan kalau kelak kian banyak TKW yang terdeteksi mengidap HIV/AIDS karena di banyak negara tujuan TKW kasus HIV/AIDS sangat tinggi.***

- AIDS Watch Indonesia/Syaiful W. Harahap

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Terimakasih telah berkunjung ke situs AIDS Watch Indonesia.
Silahkan tinggalkan pesan Anda untuk mendapatkan tanggapan terbaik dari pembaca lainnya, serta untuk perbaikan ISI dan TAMPILAN blog ini di masa mendatang.