27 Mei 2013

Risiko AIDS Melalui Seks Penis ke Mulut dan Seks Mulut ke Vagina

Tanya-Jawab AIDS No  11/Mei 2013

Pengantar. Tanya-Jawab ini adalah jawaban terhadap pertanyaan-pertanyaan yang dikirim melalui surat, telepon, SMS, dan e-mail. Jawaban disebarluaskan tanpa menyebut identitas yang bertanya dimaksudkan agar bisa berbagi informasi yang akurat tentang HIV/AIDS. Yang ingin bertanya, silakan kirim pertanyaan melalui: (1) Surat ke LSM ”InfoKespro”, PO Box 1244/JAT, Jakarta 13012, (2) Telepon (021) 4756146, (3) e-mail aidsindonesia@gmail.com, dan (4) SMS 08129092017. Redaksi.

*****
Tanya: (1) Apakah ada risiko tertular HIV kalau penis dioral oleh PSK (pekerja seks komersial-pen.)? (2) Apakah risiko tertular HIV lebih besar melalui seks anal daripada seks oral dan seks vaginal? (3) Jika saya mengoral vagina PSK dan PSK mengidap IMS atau HIV/AIDS, apakah ada risiko saya tertular? (4) Apa ciri-ciri tertular IMS dan HIV/AIDS? (5) Apakah IMS dan HIV tidak akan menular kalau hubungan seksual dilakukan dalam ikatan pernikahan yaitu dengan satu pasangan saja?

Via SMS (10/5-2013)


Jawab: (1) Dalam air liur ada HIV, tapi konsentrasinya tidak cukup untuk ditularkan. Belum ada laporan kasus penularan HIV melalui seks oral dikenal sebagai fellatio. Tapi, penyakit lain ada dalam air liur dan ada kemungkinan terjadi penularan.

(2) Risiko penularan HIV melalui hubungan seksual tanpa kondom dengan pengidap HIV/AIDS melalui seks anal lebih besar kemungkinannya daripada melalui seks vaginal dan seks oral. Ini terjadi karena permukaan anus lebih mudah terjadi perlukaan saat hubungan seksual sehingga ada ‘pintu masuk’ bagi HIV untuk masuk ke yang menganal atau yang dianal. Ketika seks anal tidak ada cairan seperti yang terjadi jika seks vaginal.

(3) Mengoral vagina, dikenal sebagai cunnilingus PSK yang mengidap IMS (infeksi menular seksual, seperti kencing nanah/GO, raja singa/sifilis, virus hepatitis B, dll.) ada risiko penularan. Tapi, pada PSK yang mengidap HIV/AIDS belum ada laporan penularan melalui kegiatan mulut ke vagina. Yang perlu diingat dalam cairan vagina ada konsentrasi HIV yang bisa ditularkan sehingga ada kemungkinan terjadi penularan jika di bibir dan lidah ada luka-luka (luka-luka yang dimaksud adalah luka mikroskopis yaitu luka yang hanya bisa dilihat dengan mikroskop, contohnya perih pada gusi ketika kumur-kumur setelah gosok gigi).

(4) Tidak ada tanda, ciri, atau gejala-gejala yang khas AIDS pada orang-orang yang sudah tertular HIV sebelum masa AIDS (masa AIDS secara statistik terjadi setelah tertular HIV antara 5-15 tahun). Biar pun tidak ada gejala ybs. sudah bisa menularkan HIV kepada orang lain, al. melalui hubungan seksual tanpa kondom di dalam dan di luar nikah.

(5) Penularan HIV/AIDS melalui hubungan seksual terjadi karena kondisi hubungan seksual (salah satu mengidap HIV/AIDS dan suami atau laki-laki tidak memakai kondom setiap sanggama) bukan karena sifat hubungan seksual (pranikah, di luar nikah, zina, melacur, ‘jajan’, selingkuh, ‘seks bebas’, dll.).

Terkait dengan risiko Anda semua terpulang kepada kejujuran Anda sendiri: Jika Anda hanya melakukan seks oral maka risiko tertular HIV/AIDS sangat kecil, tapi kalau Anda pernah atau sering melakukan seks vaginal tanpa kondom dengan PSK maka Anda berisiko tertular HIV. Jika ini yang terjadi, maka Anda dianjurkan untuk menjalani tes HIV secara sukrela di Klinik VCT (tempat tes HIV gratis dengan konseling dan kerahasiaan) yang ada di rumah sakit umum di daerah Anda.***

. - AIDS Watch Indonesia/Syaiful W. Harahap





Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Terimakasih telah berkunjung ke situs AIDS Watch Indonesia.
Silahkan tinggalkan pesan Anda untuk mendapatkan tanggapan terbaik dari pembaca lainnya, serta untuk perbaikan ISI dan TAMPILAN blog ini di masa mendatang.