17 Mei 2013

Penanggulangan HIV/AIDS di Sultra (Masih) Mencari ‘Kambing Hitam’

Tanggapan Berita (14/5-2013) – “ …. yang jelas, angkanya (jumlah kasus HIV/AIDS di Prov Sulawesi Tenggara/Sultra-pen.) semakin hari, justru semakin bertambah. LAHA menduga, meningkatnya penyebaran penyakit mematikan ini karena lalu lintas para pekerja yang masuk Bumi Anoa kebanyakan kaum imigran.” Ini pernyataan dari Lembaga advokasi HIV/AIDS (LAHA) Sultra dalam berita “278 Warga Sultra Terjangkit HIV/AIDS” di kendarinews.com (10/5-2013).

Kasus kumulatif HIV/AIDS di Sultra dilaporkan oleh Dinas Kesehatan Sultra mulai dari tahun 2004 sampai Maret 2013 mencapai 282.

Pernyataan LAHA tsb. merupakan selah satu bentuk penyangkalan yang justru menjadi salah satu faktor yang mendorong penyebaran HIV/AIDS karena mencari ‘kambing hitam’.

Ada beberapa pertanyaan terkait dengan penyebaran HIV/AIDS di Sultra, yaitu:

Pertama, apakah di Sultra ada pelacuran?

Tentu saja Pemprov Sultra dan LAHA akan membusungkan dada dengan mengatakan: Tidak ada!

Mereka benar. Tapi tunggu dulu. Yang tidak ada adalah lokalisasi pelacuran yang ditangani pemerintah setempat. Sedangkan praktek pelacuran terjadi di sembarang tempat dan sembarang waktu. Tarif pelacur di Kendari, misalnya, sangat mahal (Lihat: “Selangit”, Tarif PSK di Kota Kendari, Sultra - http://www.aidsindonesia.com/2012/09/selangit-tarif-psk-di-kota-kendari.html). 

Kedua, apakah ada jaminan bahwa tidak ada laki-laki dewasa penduduk Sultra yang melacur tanpa kondom di Sultra atau di luar Sultra?

Tentu saja yang melacur di Kendari, misalnya, adalah laki-laki lokal dan sebagian pendatang. Celakanya, tidak ada program penjangkauan untuk menjalankan program kondom terhadap pekerja seks komersial (PSK) yang praktek melalui pesanan tsb.

Itu artinya risiko penyebaran HIV/AIDS di Kendari sangat tinggi. Di daerah lain pun dikabarkan ada praktek pelacuran tertutama di daerah yang mempunyai pertambangan dan perkebunan.

Disebutkan bahwa Direktur Laha Sultra, Abu Hasan, SKM mengatakan, dibutuhkan upaya serius dari pemerintah mencegah penularan penyakit ini semakin meningkat.

Selama pelacuran di Sultra tidak dilokalisir, maka praktek pelacuran yang terjadi di penginapan, losmen, hotel melati dan hotel berbintang menjadi mata rantai penyebaran HIV/AIDS di Sultra.

Yang perlu dilakukan Pemprov Sultra adalah menjalankan program yang konkret yaitu menurunkan insiden infeksi HIV baru pada laki-laki dewasa melalui hubungan seksual dengan PSK. Tanpa ada program ini maka insiden infeksi HIV baru akan terus terjadi yang kelak bermuara pada ibu-ibu rumah tangga dan bayi.

Disebutkan pula bahwa Abu Hasan juga meminta agar Dinas Tenaga Kerja, Dinas Pekerjaan Umum, baik di daerah tambang maupun di bagian konstruksi jalan, harus saling berkoordinasi dengan Dinas Kesehatan untuk melakukan tes councelling terhadap para pekerja tambang.

Langkah yang diusulkan Abu Hasan itu tidak menyentuh akar persoalan. Tes HIV terhadap pekerja tambang terjadi di hilir. Artinya, ditunggu dulu ada pekerja tambang yang tertular HIV baru ditangani.

Yang diperlukan adalah program di hulu agar tidak ada lagi pekerja tambang dan laki-laki dewasa penduduk Sultra yang tertular HIV.

Disebutkan pula bahwa salah satu strategi awal untuk mencegah penyebaran HIV/Aids di Sultra, yakni melalui kondomisasi.

Dalam program penanggulangan HIV/AIDS di Indonesia tidak dikenal istilah kondomisasi. Yang ada adalah sosialisasi kondom untuk mencegah penularan HIV melalui hubungan seksual berisiko, al. pada hubungan seksual, di dalam dan di luar nikah, yang dilakukan dengan pasangan yang berganti-ganti atau dengan yang sering berganti-ganti pasangan, seperti PSK dan waria.

Tapi, kalau di Sultra pelacuran tidak dilokalisir, maka program kondom tidak akan jalan karena tidak mungkin mendatangai semua tempat yang dijadikan ajang pelacuran.

Selama Pemprov Sultra tidak mempunyai program yang konkret untuk menurunkan insiden infeksi HIV baru pada laki-laki melalui pelacuran, maka selama itu pula penyebaran HIV akan terus terjadi yang kelak bermuara pada ‘ledakan AIDS’.***

- AIDS Watch Indonesia/Syaiful W. Harahap

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Terimakasih telah berkunjung ke situs AIDS Watch Indonesia.
Silahkan tinggalkan pesan Anda untuk mendapatkan tanggapan terbaik dari pembaca lainnya, serta untuk perbaikan ISI dan TAMPILAN blog ini di masa mendatang.