31 Mei 2013

Menggapai ’Mimpi’ Zero Penularan Baru HIV/AIDS di Kota Jayapura, Papua



Tanggapan Berita (1/6-2013) – Walikota Jayapura, Papua, Benhur Tommy Mano, meminta kepada para pramuria dan pramupijat untuk memeriksakan kesehatannya di PKR Kotaraja secara periodik. Ini ada dalam berita “Kembali Ditemukan Penderita HIV/AIDS di Kota Jayapura” di tabloidjubi.com (28/5-2013).

Pada rentang waktu antara seorang pramuria atau pramupijat tertular IMS (infeksi menular seksual, seperti kencing nanah/GO, raja singa/sifilis, virus hepatitis B, klamidia, jengger ayam, herpes genitalis, dll.) atau HIV/AIDS atau dua-duanya sekaligus dan pemeriksaan (tes) sudah terjadi insiden infeksi IMS atau HIV/AIDS baru atau dua-duanya sekaligus (Lihat Gambar 1).

Andaikan pemeriksaan kesehatan rutin setiap tiga bulan. Maka, dalam kurun waktu tiga bulan saja seorang pramuria/pramusaji bisa menularkan  IMS atau HIV/AIDS atau dua-duanya sekaligus kepada 960 laki-laki (1 pramuria/pramupijat x 3 laki-laki/malam x 20 hari/bulan x 3 bulan).

Jumlah laki-laki yang berisiko tertular IMS atau HIV/AIDS atau dua-duanya sekaligus kian banyak jika pramuria atau pramupijat yang beroperasi di Kota Jayapura banyak.

Pada gilirannya laki-laki yang tertular tertular IMS atau HIV/AIDS atau dua-duanya sekaligus dari pramuria/pramupijat akan menularkan tertular IMS atau HIV/AIDS atau dua-duanya sekaligus kepada istrinya. Jika istrinya tertular, maka ada pula risiko penularan ke bayi yang dikandungnya.

Kasus kumulatif HIV/AIDS di Kota Jayapura, Papua, semapai 31 Desember 2012 mencapai 2.783. Tentu saja angka ini tidak menggambarkan jumlah yang kasus yang sebenarnya di masyarakat karena penyebaran HIV erat kaitannya dengan fenomena gunung es yaitu kasus yang terdeteksi (2.783) digambarkan sebagai puncak gunung es yang muncul ke atas permukaan air laut, sedangkan kasus yang tidak terdeteksi digambarkan sebagai bongkahan es di bawah permukaan air laut (Lihat Gambar).

Kepada Benhur, penanggung jawab Pusat Kesehatan Reproduksi (PKR), dr. Hesti Purikasari, mengemukakan bawah mulai tahun 2010 sampai tahun 2012  terlihat angka HIV/AIDS terus merangkak naik

Kalau pernyataan ini disampaikan oleh dr Hesti, maka sangat disayangkan karena pernyataan ini terkesan karena tidak memahami cara pelaporan kasus HIV/AIDS di Indonesia. Pelaporan kasus HIV/AIDS di Indonesia dilakukan dengan cara kumulatif. Artinya, kasus lama ditambah kasus baru. Begitu seterusnya sehingga angka laporan kasus HIV/AIDS tidak akan pernah berkurang atau turun biar pun banyak pengidap HIV/AIDS yang meninggal.

Yang perlu disimak adalah insiden infeksi HIV baru, terutama pada laki-laki yang melacur tanpa kondom dengan pekerja seks komersial (PSK), pramuria atau pramupijat.

Disebutkan dari 468 pekerja berisiko tinggi tertular HIV yaitu PSK, pramuria, pramupijat dan anak jalanan di Kota Jayapura sampai April 2013 terdeteksi lima yang mengidap HIV/AIDS.

Itu artinya paling tidak ada lima laki-laki penduduk Kota Jayapura yang menularkan HIV/AIDS ke pekerja berisiko. Kalau mereka mempunyai istri sehingga ada risiko penularan HIV ke istri yang seterusnya istri pun berisiko pula menularkan HIV ke janin yang dikandungnya.

Di sisi lain ada pula ratusan bahkan ribuan laki-laki penduduk Kota Jayapura yang berisiko tertular HIV/AIDS dari lima pekerja berisiko tinggi tadi (Lihat Gambar 2).


” …. target pemkot di tahun 2015 nanti, kita berharap akan zero penularan baru.”  Ini pernyataan Benhur.

Celakanya, dalam berita tidak ada penjelasan tentang langkah konkret yang dilakukan Benhur untuk mencapai target.

Kalau hanya melalui pemeriksaan kesehatan rutin, itu artinya membiarkan penduduk Kota Jayapura tertular IMS atau HIV/AIDS atau dua-duanya sekaligus baru diperiksa.

Yang diperlukan adalah program penanggulangan yang konkret dan sistematis di hulu agar insiden infeksi HIV baru bisa diturunkan.

Zero penularan baru IMS atau HIV/AIDS adalah hal yang mustahil.

Pertama, tidak bisa dijamin tidak ada lagi laki-laki dewasa penduduk Kota Jayapura yang melakukan perilaku berisiko tertular IMS atau HIV/AIDS di Kota Jayapura atau di luar Kota Jayapura.

Kedua, tidak bisa dijamin tidak ada lagi perempuan dewasa penduduk Kota Jayapura yang melakukan perilaku berisiko tertular IMS atau HIV/AIDS.

Ketiga, penduduk Kota Jayapura yang mengidap IMS dan HIV/AIDS yang tidak terdeteksi akan menjadi mata rantai penyebaran IMS dan HIV/AIDS.

Maka, yang diperlukan adalah langkah yang konkret yaitu program berupa intervensi untuk memaksa laki-laki memakai kondom ketika melakukan hubungan seksual dengan PSK/pramuria/pramupijat (Lihat Gambar 3).


Selain itu diperlukan pula program yang sistematis untuk mendeteksi perempuan hamil yang mengidap HIV/AIDS. Ini diperlukan untuk menjalankan program pencegahan HIV dari-ibu-ke-bayi yang dikandungnya.

Celakanya, Pemkot Jayapura tidak mempunya program yang konkret dan sistematis untuk menanggulangi penyebaran HIV/AIDS.

Jika tidak ada program yang konkret berupa intervensi melalui regulasi, maka selama itu pula penyebaran  IMS dan HIV/AIDS akan terus terjadi di Kota Jayapura yang pada akhirnya akan bermuara pada ‘ledakan AIDS’.***

- AIDS Watch Indonesia/Syaiful W. Harahap

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Terimakasih telah berkunjung ke situs AIDS Watch Indonesia.
Silahkan tinggalkan pesan Anda untuk mendapatkan tanggapan terbaik dari pembaca lainnya, serta untuk perbaikan ISI dan TAMPILAN blog ini di masa mendatang.