29 Mei 2013

Klinik Khusus untuk Menanggulangi HIV/AIDS di Kota Kotamobagu, Sulut

Tanggapan Berita (30/5-2013) – ”Mengantisipasi terus bertambahnya jumlah pederita HIV/AIDS, Dewan kota (Dekot) Kota Kotamobagu (KK) berharap agar Kotamobagu segera memiliki klinik khusus yang menangani para penderita.” Ini pernyataan dalam berita ”Klinik HIV-AIDS Layak di KK?” di news.radartotabuan.com (16/5-2013).

Dikabarkan bahwa kasus kumulatif HIV/AIDS di Kotamobagu mencapai sepuluh dan disebutkan terus meningkat dari tahun ke tahun.

Pertama, untuk menangani HIV/AIDS tidak diperlukan klinik khusus karena HIV/AIDS adalah penyakit menular yang bisa dicegah dengan cara-cara yang realistis.

Kedua, tidak semua pengidap HIV/AIDS otomatis harus dirawat di rumah sakit karena pengidap HIV/AIDS akan berhadapan dengan penyakit, disebut infeksi oportunistik, setelah masa AIDS (secara statistik antara 5-15 tahun setelah tertular HIV).

Ketiga, klinik khusus untuk menangai pengidap HIV/AIDS merupakan penanggulangan atau penanganan di hilir. Artinya, ditunggu dulu ada penduduk Kotamobagu yang tertular HIV baru ditangani.

Maka, yang diperlukan adalah program yang konkret di hulu, al. untuk menurunkan insiden infeksi HIV baru pada laki-laki, terutama melalui hubungan seksual dengan pekerja seks komersial (PSK).

Pertanyaan untuk Dewan Kota Kota Kotamobagu adalah: Apakah di Kotamobagu ada pelacuran?

Dewan Kota akan membusungkan dada dan mengataka: Tidak ada!

Dewan Kota benar adanya. Tapi, tunggu dulu. Yang tidak ada adalah pelacuran yang dilokalisir. Sedangkan praktek pelacuran terjadi di sembarang tempat dan sembarang waktu.

Yang diperlukanm di Kota Kotamobagu adalah tempat tes HIV yang sesuai dengan standar prosudur operasi tes HIV yang baku, dikenal sebagia Klinik VCT (tempat tes HIV sukarela yang gratis dengan konseling dan kerahasiaan).

Klinik ini merupakan pintu masuk untuk mendeteksi penduduk yang sudah tertular HIV. Penduduk yang sudah tertular HIV akan ditangani secara medis, sedangkan penduduk yang tidak tertular HIV akan dibimbing agar tidak melakuan perilaku berisiko.

Disebukan oleh Ketua Komisi III Dewan Kota, Hi Agus Suprijhanta, SE, tentang klinik khusus untuk menangani penyakit HIV/AIDS: “Wajib kita dorong bersama agar Kotamobagu bisa memiliki klinik khusus yang menangani HIV/AIDS. ”

Untuk apa? .... selain dapat mempermudah pengawasan terhadap penderita yang teridentifikasi HIV/AIDS, juga dapat menekan bertambahnya penderita penyakit berbahaya ini.

Orang-orang yang terdeteksi mengidap HIV melalui tes HIV di Klinik VCT otomatis tercatat dengan sifat rahasia. Pengidap HIV/AIDS tidak perlu diawasi karena ketika hendak tes HIV mereka sudah berjanji akan menghentikan penyebaran HIV mulai dari dirinya.

Menekan penyebaran HIV/AIDS di Kota Kotamobagu bukan dengan mendirikan klini khusus, tapi menjalankan program penanggulangan yang konkret, al. mewajibkan laki-laki memakai kondom ketika melakukan hubungan seksual dengan PSK.

Tanpa program yang konkret, maka penyebaran HIV/AIDS di Kota Kotamobagu akan terus terjadi yang kelak akan bermuara pada ’ledakan AIDS’.***

- AIDS Watch Indonesia/Syaiful W. Harahap

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Terimakasih telah berkunjung ke situs AIDS Watch Indonesia.
Silahkan tinggalkan pesan Anda untuk mendapatkan tanggapan terbaik dari pembaca lainnya, serta untuk perbaikan ISI dan TAMPILAN blog ini di masa mendatang.