26 Mei 2013

HIV/AIDS di Sukoharjo, Jateng: Laki-laki Dewasa Menyebarkan, Pelajar Jadi Sasaran Sosialisasi


Tanggapan Berita (27/5-2013) – “Dari jumlah penderita mayoritas generasi muda. Sedangkan faktor menularnya HIV/AIDS adalah virus dan pola penularan terjadi karena hubungan seks bebas ataupun pemakaian jarum suntik yang tak steril atau dari penderita ke orang sehat.” Ini pernyataan dalam berita “Penderita HIV/AIDS di Sukoharjo Capai 133 Orang, Pelajar Diajak Perangi Pergaulan Bebas” di www.solopos.com (25/5-2013).

Ada beberapa hal yang tidak akurat dalam pernyataan di atas, yaitu:

(1) Disebutkan cara penularan HIV ‘karena hubungan seks bebas’. Ini tidak akurat karena penularan HIV melalui hubungan seksual, di dalam dan di luar nikah, terjadi karena kondisi hubungan seksual (salah satu mengidap HIV/AIDS dan suami atau laki-laki tidak memakai kondom) bukan karena sifat hubungan seksual (zina, melacur, jajan, selingkuh, ‘seks bebas’, dll.).

(2) Disebutkan pula cara penularan HIV melalui ‘pemakaian jarum suntik yang tak steril atau dari penderita ke orang sehat’. Ini juga tidak akurat karena bukan karena tidak steril, tapi karena dalam jarum suntik dan tabung ada darah yang mengandung HIV. Kondisi ini biasanya terjadi pada penyalahguna narkoba (narkotika dan bahan-bahan berbahaya) dengan jarum suntik secara bersama-sama dengan bergantian.

Informasi yang tidak akurat itulah yang membuat banyak orang tidak mengetahui cara penularan dan pencegahan  HIV yang benar.

Data kasus kumulatif HIV/AIDS di ‘Kota Makmur’ yang disampaikan oleh Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten (DKK) Sukoharjo, Guntur Subiyantoro, sampai Mei 2013 mencapai 133 dengan 58 kematian.

Disebutkan terkait dengan kondisi itu digelar aksi Dasiat (pemuda siaga sehat) di halaman SMAN 1 Sukoharjo. Ini dimaksudkan, seperti dikatakan oleh Guntur, diharapkan mampu meminimalisasi pergaulan bebas.

Langkah Guntur ini tidak menyentuh akar persoalan karena yang menyebarluaskan HIV/AIDS adalah laki-laki dewasa. Mereka menularkan HIV ke pekerja seks komersial (PSK) dan ada pula yang tertular HIV dari PSK.

Kasus HIV/AIDS pada ibu-ibu rumah tangga dan bayi menunjukkan perilaku suami mereka yang berisiko tertular HIV, al. melakukan hubungan seksual tanpa kondom dengan PSK.

Yang perlu dilakukan adalah program yang konkret yaitu menurunkan insiden infeksi HIV baru pada laki-laki melalui hubungan seksual dengan PSK. Ini dapat dilakukan melalui program ‘wajib memakai kondom’ bagi laki-laki ketika melakukan hubungan seksual dengan PSK.

Tanpa program ‘wajib memakai kondom’ bagi laki-laki yang melacur, maka insiden infeksi HIV baru pada laki-laki dewasa akan terus terjadi yang kelak bermuara pada ibu-ibu rumah tangga dan bayi.

Pada gilirannya kelak Pemkab Sukoharjo tingga menunggu waktu saja untuk ‘panen AIDS’.***

- AIDS Watch Indonesia/Syaiful W. Harahap
     

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Terimakasih telah berkunjung ke situs AIDS Watch Indonesia.
Silahkan tinggalkan pesan Anda untuk mendapatkan tanggapan terbaik dari pembaca lainnya, serta untuk perbaikan ISI dan TAMPILAN blog ini di masa mendatang.