22 April 2013

Di Kalsel, Istri Muda Terdeteksi HIV setelah Suami Meninggal


* Istri tua tidak diketahui status HIV-nya sehingga bisa jadi mata rantai penyebaran HIV/AIDS

Liputan (23/4-2013) – Pertumbunan ekonomi yang membawa berkah berupa lapangan kerja dengan penghasilan yang besar tidak berbanding lurus dengan perilaku seksual yang aman dari risiko tertular HIV/AIDS. Itulah yang terjadi di Kota Banjarmasin dan Kota Banjarbaru, keduanya di Prov Kalimantan Selatan (Kalsel).

Aktivis Perkumpulan Keluarga Berencara Indonesia (PKBI) Kalsel mendampingi beberapa perempuan dengan status istri muda yang tertular HIV dari suaminya. “Suami-suami mereka meninggal karena penyakit terkait HIV/AIDS,” kata Hapni, Direktur PKBI Kalsel pada satu kegiatan di sebuah lokasi pelacuran di Kota Banjarbaru (1/4-2013).

Yang menjadi persoalan besar adalah istri-istri muda itu, rata-rata istri ketiga, kebingungan untuk memberitahu istri pertama dan kedua.

Hapni pun mengaku bingung dan heran melihat perilaku laki-laki yang meninggal itu karena sudah punya tiga istri tetap saja jadi pelanggan pekerja seks komersial (PSK) di berbagai tempat.

Itu menunjukkan jargon moral yang mengatakan ‘daripada berzina lebih baik beristri lebih dari satu’ ternyata tidak benar karena tidak ada jaminan kalau beristri lebih dari satu otomatis tidak akan berzina (lagi).

Kegiatan pelacuran di Kota Banjarmasin dan Kota Banjarbaru, seperti juga di kota-kota lain di Indonesia, tidak bisa diintervensi karena terjadi di sembarang tempat dan sembarang waktu (Lihat: Menyingkap Penyebaran HIV/AIDS di Kota Banjarmasin, Kalsel - http://www.aidsindonesia.com/2013/04/menyingkap-penyebaran-hivaids-di-kota.html).

Ada lagi seorang suami yang bekerja sebagai PNS meninggal dengan penyakit terkait AIDS. Laki-laki ini juga mempunyai tiga istri. Celakanya, “Istri ketiga tidak mau menjalani tes HIV,” kata Robert Erik Latumahina, aktivis di PKBI Kalsel.

Mereka meminta bantuan petugas puskesmas dekat rumah laki-laki itu untuk membujuk istri ketiga tadi menjalani tes HIV.

Namun, persoalan baru muncul karena istri ketiga yang didampingi PKBI tidak mau memberitahu nama dan alamat istri-istri suaminya yang lain.

Kondisi itu tentulah merupakan bencana bagi laki-laki di Kota Banjarmasin dan Kota Banjarbaru khususnya dan Kalsel umumnya karena istri-istri yang suaminya meninggal karena penyakit terkait AIDS dan mereka tidak mau menjalani tes HIV akan menjadi mata rantai penyebaran HIV/AIDS jika mereka menikah.

Kasus kumulatif HIV/AIDS di Kalsel dilaporkan Kemenkes RI per Desember 2012 mencapai 326 yang terdiri atas 192 HIV dan 134 HIV. Angka ini menempatkan Kalsel pada peringkat ke-27 secara nasional berdasarkan kasus AIDS. Dari jumlah tsb. dilaporkan 41 kasus terdeteksi pada ibu rumah tangga dan tujuh bayi.

Tentu saja kasus yang dilaporkan itu tidak menggambarkan kasus yang ril di masyarakat karena penyebaran HIV/AIDS erat kaitannya dengan fenomena gunung es. Kasus yang terdeteksi atau dilaporkan (326) digambarkan sebagai puncak gunung es yang muncul ke atas permukaan air laut, sedangkan kasus yang tidak terdeteksi di masyarakat digambarkan sebagai bongkahan gunung es di bawah permukaan air laut (Lihat gambar). 

Untuk itulah diharapkan agar laki-laki yang akan menikah dengan perempuan yang pernah menikah lebih berhati-hati karena ada perempuan yang pernah menikah dengan laki-laki pengidap HIV/AIDS. Langkah yang dapat dilakukan adalah menjalani tes HIV.

Sedangkan perempuan yang akan menikah dengan laki-laki, perjaka atau duda, perlu juga hati-hati karena ada di antara mereka yang pernah atau sering melakukan hubungan seksual tanpa kondom dengan PSK. Seperti diketahui di Kota Banjarmasin dan Kota Banjarbaru ada tiga lokasi pelacuran dan di beberapa hotel juga ada ‘cewek pemandu karaoke’ yang bisa diajak ngamar.

Sudah saatnya pemerintah provinsi, kabupaten dan kota di Kalsel menjalankan program yang konkret dan sistematis untuk mencegah penyebaran HIV, al. melalui intervensi terhadap laki-laki agar memakai kondom jika melacur.

Tanpa program yang konkret, maka penyebaran HIV/AIDS di Kalsel akan terus terjadi yang kelak akan bermuara pada ’ledakan AIDS’.***

- AIDS Watch Indonesia/Syaiful W. Harahap

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Terimakasih telah berkunjung ke situs AIDS Watch Indonesia.
Silahkan tinggalkan pesan Anda untuk mendapatkan tanggapan terbaik dari pembaca lainnya, serta untuk perbaikan ISI dan TAMPILAN blog ini di masa mendatang.