06 Maret 2013

Kotamobagu, Sulut, Penanggulangan AIDS Terhalang Dana


Tanggapan Berita (7/3-2013) – “Kami terus melakukan sosialisasi dan penyuluhan (HIV/AIDS-pen.) kepada seluruh masyarakat, baik dari institusi pendidikan hingga pemerintahan. Namun, kesediaan dana kadang jadi penghalang, karena tidak ada untuk nomenklatur penanggulangan AIDS.” Ini pernyataan Kepala Dinas (Kadis) Kesehatan Kotamobagu, dr Salmon Helweldery  dalam berita “Penyuluhan Bahaya HIV AIDS Terkendala Dana” di beritamanado.com (26/2-2013).

Dikabarkan jumlah kasus kumulatif HIV/AIDS di Kotamubagu, Sulawesi Utara (Sulut), pada November 2012 mencapai 14.

Karena salah satu faktor risiko penularan HIV pada 14 kasus itu adalah hubungan seksual, maka yang menjadi masalah besar adalah: Apakah di Kota Kotamobagu ada pelacuran?

Tentu jawabannya tidak ada! Itu memang benar, tapi tunggu dulu. Yang tidak ada di Kotamubagu adalah lokalisasi pelacuran yang ditangani oleh dinas sosial. Sedangkan praktek pelacuran terjadi di sembarang tempat dan sembarang waktu.

Maka, kalau hanya sebatas sosialisasi tidak akan bisa mencegah infeksi HIV baru pada laki-laki melalui hubungan seksual dengan pekerja seks yang praktek di berbagai tempat di Kotamubagu.

Dengan dana yang besar pun, seperti di Prov DKI Jakarta dan Prov Papua, kalau tidak ada program yang konkret untuk mencegah insiden infeksi HIV baru pada pelacuran, maka penyebaran HIV/AIDS akan terus terjadi. Itulah yang terjadi di semua daerah di Indonesia, termasuk Kotamubagu.

Disebutkan pula bahwa untuk menekan penyebaran virus ini, pihaknya akan terus melakukan sosialisasi atau penyuluhan di seluruh Desa dan Kelurahan yang ada di Kotamobagu. Namun, ia juga mengharapkan agar fungsi dari Komisi Penanggulangan AIDS (KPA) yang berada di bawah Bagian Sosial (Bagsos) untuk diaktifkan kembali.

Selain melalui laki-laki yang sering melacur risiko penyebaran HIV/AIDS juga terjadi pada laki-laki dan perempuan pelaku kawin-cerai, laki-laki beristri lebih dari satu.

Risiko penyebaran HIV/AIDS juga terjadi pada pejabat yang menerima cewek gratifikasi seks. Ini amat berisiko karena cewek itu sudah melakukan hal yang sama dengan banyak laki-laki (Lihat: Gratifikasi Seks (Akan) Mendorong Penyebaran HIV/AIDS di Indonesia - http://www.aidsindonesia.com/2013/01/gratifikasi-seks-akan-mendorong.html). 

Yang perlu dilakukan al. adalah melokalisir pelacuran agar program yang konkret yaitu intervensi agar laki-laki memakai kondom dapat diterapkan secara efektif. Selama (praktek) pelacuran tidak dilokalisir, maka selama itu pun insiden infeksi HIV baru akan terus terjadi.

Laki-laki dewasa yang tertular HIV, al. melalui pelacuran, menjadi mata rantai penyebaran HIV secara horizontal di masyarakat, seperti melalui hubungan seksual tanpa kondom di dalam dan di luar nikah.

Kasus HIV/AIDS yang terdeteksi pada ibu-ibu rumah tangga dan bayi membuktikan bahwa suami-suami tertular HIV, al. karena melacur tanpa kondom.

Selama Kotamubagu tidak menjalankan program penanggulangan yang konkret dan sistematis, maka selama itu pula penyebaran HIV/AIDS di Kotamubagu akan terus terjadi yang kelak bermuara pada ’ledakan AIDS’.***

- AIDS Watch Indonesia/Syaiful W. Harahap

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Terimakasih telah berkunjung ke situs AIDS Watch Indonesia.
Silahkan tinggalkan pesan Anda untuk mendapatkan tanggapan terbaik dari pembaca lainnya, serta untuk perbaikan ISI dan TAMPILAN blog ini di masa mendatang.