27 Maret 2013

Empat Bayi di Kab Karimun, Kep Riau, Terdeteksi Mengidap HIV/AIDS


Tanggapan Berita (28/3-2013) – “Jumlah penderita HIV/AIDS di Kabupaten Karimun, Kepulauan Riau, terus mengalami peningkatan dari tahun ke tahun. Hingga 2012 lalu, tercatat ada 1.109 penderita HIV/AIDS di Karimun.” Ini lead pada berita “Empat Bayi di Karimun Terjangkit HIV/AIDS” di berita.plasa.msn.com (5/3-2013).


Pernyataan pada lead berita ini menunjukkan wartawan tidak mengetahui cara pelaporan kasus HIV/AIDS di Indonesia. Pelaporan kasus HIV/AIDS di Indonesia dilakukan dengan cara kumulatif. Artinya, kasus lama ditambah kasus baru. Begitu seterusnya sehingga angka laporan kasus HIV/AIDS tidak akan pernah berkurang atau turun biar pu banyak pengidapnya meninggal.

Dilaporkan kasus kumulatif HIV/AIDS di Kab Karimun mencapai 1.109 yang terdiri 747 HIV dan 362 AIDS. Empat di antaranya  bayi.

Kalau wartawan dan pengurus KPA Kab Karimun memahami penyebaran HIV/AIDS pada ranah realitas sosial, maka yang menjadi persoalan besar adalah empat bayi tsb.

Pertama, kasus pada empat bayi itu menunjukan ibu dan ayah mereka mengidap HIV/AIDS. Itu artinya sudah ada 12 yang mengidap HIV/AIDS (4 bayi + 4 ibu + 4 ayah).

Kedua,  kalau ayah mereka mempunyai istri lebih dari satu maka jumlah perempuan dan bayi yang mengidap HIV/AIDS pun bertambah.

Ketiga, dalam berita tidak dijelaskan apakah ayah empat bayi itu sudah menjalani tes HIV. Kalau belum maka itu artinya empat laki-laki itu menyebaran  HIV di masyarakat, al. melalui hubungan seksual tanpa kondom di dalam dan di luar nikah.

Menurut Wakil Bupati Karimun, Aunur Rafia, yang juga Ketua KPA (Komisi Penanggulangan AIDS) Kab Karimun: "Upaya untuk mengurangi meningkatnya jumlah penderita HIV/AIDS dari pemerintah sebagian besar melalui sosialisasi ke masyarakat dan kegiatan kerohanian. ….”

Kalau hanya dengan sosialisasi penanggulangan HIV/AIDS tidak akan bisa dilakukan karena sosialisasi sudah dilakukan sejak awal penyebaran HIV/AIDS di Indonesia.

Pertanyaan untuk Aunur Rafia: Apakah di daerah Anda ada pelacuran?

Tentu saja Aunur Rafia akan menampiknya: Tidak ada!

Ya, Aunur Rafia benar. Tapi, tunggu dulu. Yang tidak ada adalah lokalisasi pelacuran yang merupakan regulasi pemkab dengan pembinaan dari dinas sosial.

Sedangkan praktek pelacuran terjadi di sembarang tempat dan sembarang waktu.

Pertanyaan selanjutnya untuk Aunur Rafia: Apakah Anda bisa menjamin tidak ada laki-laki dewasa penduduk Kab Karimum yang melacur tanpa kondom di wilayah Kab Karimun dan di luar wilayah Kab Karimun?

Kalau jawabannya bisa, maka tidak ada persoalan penyebaran HIV/AIDS melalui hubungan seksual.

Tapi, kalau jawabannya tidak bisa, maka ada persoalan besar terkait dengan penyebaran HIV/AIDS melalui hubungan seksual.

Maka, yang perlu dilakukan Pemkab Karimun adalah melakuan intervensi melalui regulasi yang bisa memaksa laki-laki memakai kondom jika melakukan hubungan seksual dengan PSK.

Pernyataan Pengurus KPA Karimun, Erwan Muharudin, ini menunjukkan bahwa ada laki-laki dewasa penduduk Kab Karimin yang melacur tanpa kondom: "Hal ini disebabkan belum adanya perubahan perilaku dalam berhubungan seks, khususnya melakukan seks beresiko dan tidak aman."

Maka, selama tidak ada program yang konkret untuk menurunkan insiden infeksi HIV baru pada laki-laki melalui pelacuran, maka selama itu pula penyebaran HIV/AIDS akan terjadi di Kab Karimun yang kelak bermuara pada ’ledakan AIDS’. ***

- AIDS Watch Indonesia/Syaiful W. Harahap

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Terimakasih telah berkunjung ke situs AIDS Watch Indonesia.
Silahkan tinggalkan pesan Anda untuk mendapatkan tanggapan terbaik dari pembaca lainnya, serta untuk perbaikan ISI dan TAMPILAN blog ini di masa mendatang.