03 Maret 2013

Di Sumut, Menanggulangi Penyebaran HIV dengan Menemukan Kasus Baru


Tanggapan Berita (4/3-3013) – “Semakin banyak ditemukan kasus baru, maka penanggulangan dan pencegahan dan penularan kasus baru sedini mungkin bisa dilakukan.” Ini pernyataan Project Officer Global Fund Dinkes Sumut, Andi Ilham Lubis, adalam berita “Petugas Kesehatan Harus Proaktif Temukan Kasus HIV/AIDS” di beritasore.com (28/2-2013).

Pernyataan di atas tidak sepenuhnya tepat, karena:

Pertama, penemuan kasus HIV/AIDS baru berarti sudah terjadi penularan. Ini langkah di hilir. Artinya, ditunggu dulu penduduk tertular HIV baru dideteksi.

Kedua, pencegahan penularan baru hanya terjadi pada orang-orang yang baru terdeteksi. Artinya, orang-orang yang baru terdeteksi HIV/AIDS akan memutus mata rantai mulai dari mereka.

Ketiga, sebelum orang-orang tsb. terdeteksi mereka sudah menularkan HIV kepada orang lain tanpa mereka sadari.

Maka, langkah menemukan kasus baru adalah langkah di hilir. Artinya, ditunggu dulu ada penduduk yang tertular HIV baru dideteksi.

Kondisi pertama adalah jika kasus baru yang terdeteksi pada masa infeksi HIV, itu artinya ybs. minimal sudah tertular HIV tiga bulan sebelumnya. Kalau ybs. beristri maka istrinya sudah berisiko tertular HIV. Kalau ybs. adalah seorang pekerja seks komersial (PSK), maka selama tiga bulan sejak tertular HIV ada 180 laki-laki (1 PSK x 3 laki-laki/malam x 20 hari/bulan x 3 bulan) yang berisiko tertular HIV.

Kondisi kedua adalah jika kasus baru yang terdeteksi pada masa AIDS, itu artinya ybs. sudah tertular HIV antara 5-15 tahun sebelumnya. Yang jadi persoalan besar adalah kalau yang terdeteksi HIV pada masa AIDS seorang PSK, maka ada  3.600-10.800 laki-laki (1 PSK x 3 laki-laki/malam x 20 hari/bulan x 3 bulan) yang berisiko tertular HIV.

Disebutkan bahwa proaktif petugas kesehatan ini disebut juga Provider Initiated HIV Testing and Counseling (PITC) atau pemeriksaan dan konseling HIV atas inisiatif penyedia layanan kesehatan. Artinya, provider kesehatan berperan aktif untuk melihat apakah pasien bersangkutan memiliki gejala-gejala terinfeksi HIV ataupun faktor risiko tinggi terpapar HIV.

PITC adalah langkah di hilir. Artinya, ada dulu yang tertular HIV lalu ketika dia berobat ada indikasi penyakit yang terkait dengan HIV/AIDS dan perilakunya berisiko tertular HIV.

Yang diperlukan adalah langkah konkret penanggulangan di hulu, yaitu program untuk mencegah insiden infeksi HIV baru, terutama pada laki-laki melalui pelacuran.

Disebutkan dari estimasi 17.000 kasus HIV/AIDS baru 6.000-an yang terdeteksi. Maka, diperlukan pula cara yang sistematis untuk mendeteksi HIV/AIDS di masyarakat.

Celakanya, Pemprov Sumut akan berteriak: Di daerah kami tidak ada pelacuran!

Ya, itu benar adanya. Tapi, tunggu dulu. Yang tidak ada adalah lokalisasi pelacuran yang ditangani dinas sosial. Sedangkan praktek pelacuran terjadi di sembarang tempat dan sembarang waktu.

Selama tidak ada program yang konkret berupa intervensi terhadap laki-laki agar memakai kondom jika melacur, maka selama itu pula penyebaran HIV di Sumut akan terus terjadi.***

- AIDS Watch Indonesia/Syaiful W. Harahap

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Terimakasih telah berkunjung ke situs AIDS Watch Indonesia.
Silahkan tinggalkan pesan Anda untuk mendapatkan tanggapan terbaik dari pembaca lainnya, serta untuk perbaikan ISI dan TAMPILAN blog ini di masa mendatang.