07 Maret 2013

Di Kab Timor Tengah Selatan, NTT: Masyarakat Belum Memahami Bahaya HIV/AIDS


Tanggapan Berita (8/3-2013) – “ …. tingginya kasus AIDS TTS stadium 3 dan 4 disebabkan masyarakat belum memahami bahaya HIV/AIDS serta upaya penanggulangannya. Selain itu masih terjadi diskriminasi dan preseden buruk terhadap penderita sehingga terjadi penguncilan.” Ini pernyataan Pengelola Program Komisi Penanggulangan AIDS (KPA) Kabupaten Timor Tengah Selatan (TTS), Prov NTT, Yundri Kolimon, dalam berita “135 Kasus AIDS Merebak di TTS” (tribunnews.com, 2/3-2013).

Ada beberapa hal yang perlu dipersoalkan dalam pernyataan Kolimon tsb., al:

Pertama, tidak dijelaskan apa yang dimaksud dengan kasus AIDS stadium 3 dan 4. Yang dikenal dalam HIV/AIDS adalah masa infeksi HIV (belum ada gejala-gejala terkait AIDS) dan masa AIDS (secara statistik terjadi setelah tertular antara 5-15 tahun dan mulai muncul penyakit terkait dengan HIV/AIDS).

Kedua, jika yang dimaksud Kolimon stadium 3 dan4 adalah masa AIDS, maka hal itu terjadi bukan karena masyarakat belum atau tidak memahami bahaya HIV/AIDS, tapi mereka tidak menyadari dirinya sudah tertular HIV.

Ketiga, maka banyak kasus HIV/AIDS terdeteksi pada masa AIDS, Kolimon menyebut stadium 3 dan 4, adalah karena orang-orang yang sudah tertular HIV tidak mengetahui kalau dia sudah mengidap HIV/AIDS. Ini terjadi karena informasi HIV/AIDS yang disebarluaskan oleh sebagian besar kalangan, seperti pemerintah dan LSM, selama ini tidak akurat karena dibumbui dengan moral sehingga berisi mitos (anggapan yang salah). Misalnya, selalu mengaitkan penularan HIV dengan pelacuran.

Keempat, jika seseorang sudah terdeteksi HIV/AIDS melalui tes HIV sesuai dengan standar prosedur tes yang baku, maka ybs. akan ditangani sehingga tidak mungkin terjadi masalah, misalnya diketahui sudah mengidap penyakit terkait HIV/AIDS, dalam istilah Kolimon adalah stadium 3 dan 4.

Kelima, tidak ada kaitan diskriminasi (perlakuan berbeda) terhadap pengidap HIV/AIDS sehingga membuat mereka mencapai stadium 3 dan 4 karena pengidap HIV/AIDS mendapat dampingan.

Maka, yang terjadi adalah banyak orang yang tidak menyadari dirinya sudah tertular HIV. Karena tidak ditangani secara medis kondisi mereka pun masuk masa AIDS dengan penyakit, disebut infeksi oportunistik, yang sangat sulit sembuh. Berdasarkan penyakit inilah kemudian dokter menganjurkan tes HIV.

Menurut Kolimon diskriminasi membuat masyarakat malu dan takut periksa. Pernyataan ini tidak tepat karena: (1) tidak semua orang (masyarakat) harus menjalani tes HIV, (2) diskriminasi justru terjadi setelah tes HIV.

Dikabarkan kasus kumulatif HIV/AIDS di TTS sejak tahun 2007 sampai 2012 mencapai 135. Tentu saja angka ini tidak menggambarkan kondisi yang sebenarnya karena ada penduduk yang sudah mengidap HIV/AIDS tapi tidak terdeteksi. Ini terjadi karena KPA TTS tidak mempunyai program yang sistematis untuk mendeteksi HIV/AIDS di masyarakat.

Dalam berita sama sekali tidak ada informasi terkait dengan faktor risiko (perkiraan media penularan) kasus HIV/AIDS di TTS.

Tapi, satu hal yang perlu diperhatikan adalah: Apakah di TTS ada pelacuran?

Ya, Pemkab TTS bisa saja buang badan dan mengatakan: Tidak ada!

Memang benar, tapi tunggu dulu. Yang tidak ada di TTS adalah lokalisasi pelacuran yang ditangani dinas sosial, tapi praktek pelacuran terjadi di berbagai tempat, seperti hiburan malam, warung remang-remang, panti pijat plus-plus, penginapan, losmen, hotel melati dan hotel berbintang.

Pertanyaan untuk KPA TTS: Apa program konkret yang sistematis dijalankan untuk mencegah insiden infeksi HIV baru pada laki-laki melalui pelacuran?

Kalau jawabannya tidak ada, maka penyebaran HIV/AIDS di TTS akan terus terjadi. Indikasinya al. adalah kasus HIV/AIDS pada ibu rumah tangga dan bayi.

Perda AIDS Kab TTS pun sama sekali tidak memberikan langkah yang konkret untuk menanggulangi HIV/AIDS (Lihat: Perda AIDS Kab Timor Tengah Selatan- http://www.aidsindonesia.com/search/label/Perda%20AIDS%20Kabupaten%20Timor%20Tengah%20Selatan).

Penyebaran HIV/AIDS di TTS hanya bisa dikendalikan jira ada program yang konkret untuk menurunkan insiden infeksi HIV baru pada laki-laki melalui pelacuran.***

- AIDS Watch Indonesia/Syaiful W. Harahap

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Terimakasih telah berkunjung ke situs AIDS Watch Indonesia.
Silahkan tinggalkan pesan Anda untuk mendapatkan tanggapan terbaik dari pembaca lainnya, serta untuk perbaikan ISI dan TAMPILAN blog ini di masa mendatang.