24 Maret 2013

AIDS di Kab Kudus, Jateng: Ditanggulangi dengan Sosialisasi


Tanggapan Berita (25/3-2013) – ”Jumlah temuan kasus HIV/AIDS di Kabupaten Kudus, Jawa Tengah, terus bertambah karena dari tahun 2009 hingga Maret 2013 tercatat mencapai 123 kasus dan 65 penderita diantaranya meninggal dunia.” Ini lead pada berita “PENYAKIT HIV-AIDS: Ada 123 Kasus Di Kudus  di www.bisnis-jateng.com (8/3-2013).

Karena pelaporan kasus HIV/AIDS di Indonesia dilakukan dengan cara kumulatif yaitu kasus lama ditambah kasus baru, maka angka laporan kasus HIV/AIDS akan terus bertambah.

Kalau saja Koordinator Kelompok Dampingan Sebaya Kabupaten Kudus, Eni Mardiyanti, dan wartawan yang menulis berita ini memahami epidemi HIV/AIDS secara komprehensif, maka data yang layak dikembangkan adalah 65 kematian terkait HIV/AIDS.

Soalnya, kematian pada pengidap HIV/AIDS terjadi di masa AIDS yang secara statistik terjadi setelah 5-15 tahun tertular HIV. Celakanya, pada rentang waktu itu pengidap HIV/AIDS tidak menyadari dirinya sudah tertular HIV karena tidak ada tanda-tanda yang khas AIDS pada fisik mereka dan tidak ada pula keluhan kesehatan yang khas AIDS.

Akibatnya, yang laki-laki akan menularkan HIV kepada orang lain tanpa mereka sadari. Yang beristri akan menularkan HIV kepada istrinya atau pasangan seks lain, termasuk pekerja seks komersial (PSK). Sedangkan yang tidak beristri akan menularkan HIV kepada pasangan seksnya dan PSK.

Sedangkan yang perempuan akan menularkan HIV kepada suami atau pasangan seksnya. Jika dia hamil maka ada pula risiko penularan HIV kepada janin yang dikandungnya kelak.

Yang menjadi persoalan besar adalah kalau di antara 65 yang meninggal itu ada PSK. Itu artinya seorang PSK pengidap HIV/AIDS sudah melayani laki-laki sebanyak 3.600-10.800 (1 PSK x 3 laki-laki/malam x 20 hari/bulan x 5 tahun atau 15 tahun) sebelum dia meninggal.

Disebutkan oleh Eni bahwa untuk mengurangi penularan HIV/AIDS butuh kerja sama sejumlah pihak, termasuk pemda setempat lewat dukungan anggaran maupun tenaga dalam meningkatkan kesadaran masyarakat untuk ikut berperan serta memberantas penularannya lewat sosialisasi secara berkelanjutan maupun dalam memberikan pendampingan terhadap penderita.

Sosialisasi sudah dilakukan sejak awal epidemi, tapi tidak ada jaminan laki-laki yang gemar melacur akan berhenti melacur atau melacur dengan memakai kondom.

Yang diperlukan adalah program yang konkret untuk menurunkan insiden infeksi HIV baru pada laki-laki yang melacur dengan PSK yaitu melakukan intervensi agar laki-laki memakai kondom ketika melacur.

Yang menjadi persoalan besar adalah Pemkab Kudus akan berkilah bahwa di daerahnya tidak ada pelacuran.

Itu benar. Tapi, tunggu dulu. Yang tidak ada adalah lokalisasi pelacuran yang dibina pemkab melalui dinas sosial. Sedangkan praktek pelacuran terjadi di sembarang tempat dan sembarang waktu.

Tanpa program yang konkret maka insiden infeksi HIV baru di Kudus akan terus terjadi. Kasus HIV/AIDS yang terdeteksi pada ibu-ibu rumah tangga membuktikan insiden infeksi HIV baru pada laki-laki terus terjadi.***

- AIDS Watch Indonesia/Syaiful W. Harahap

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Terimakasih telah berkunjung ke situs AIDS Watch Indonesia.
Silahkan tinggalkan pesan Anda untuk mendapatkan tanggapan terbaik dari pembaca lainnya, serta untuk perbaikan ISI dan TAMPILAN blog ini di masa mendatang.