24 Februari 2013

Di Gunungkidul, DI Yogyakarta, Ada Kasus Baru ‘Positif AIDS’


Tanggapan Berita (25/2-2013) – “Ketiganya berusia dewasa diatas 30 tahun dan sudah kami lakukan penanganan medis. Ketiganya positif AIDS.”  Ini pernyataan Koordinator Poli VCT RSUD Wonosari, Endang Supraptiningsih, dalam berita ”Aduh, Jumlah Penderita HIV/AIDS di Gunungkidul Tambah 3” di www.solopos.com (15/2-2013).

Karena pernyataan itu dalam bentuk tanda kutip, maka pernyataan itu benar disampaikan oleh Endang.

Celakanya, pernyataan itu tidak akurat karena yang positif adalah HIV bukan AIDS. Seseorang terdeteksi sudah tertular HIV bisa di masa AIDS, yang menunjukkan ybs. sudah tertular HIV antara 5-15 tahun sebelumnya.

Dengan tambahan tiga kasus itu maka jumlah kasus kumulatif HIV/AIDS di Gunungkidul berjumlah 86  yang terdeteksi sejak tahun 2008. Sedangkan di Klinik VCT RSUD Wonosari pada tahun 2012 tercatat 42.

Karena tiga kasus baru yang terdeteksi itu ada pada masa AIDS, maka yang layak dikembangkan wartawan adalah seputar pasangan tiga kasus yang baru terdeteksi tsb.

Pertama, pada rentang waktu sejak tertular sampai terdeteksi ketiganya tidak menyadari diri mereka sudah mengidap HIV/AIDS sehingga mereka menularkan HIV kepada orang lain tanpa mereka sadari.

Kedua, kalau ada di antara tiga kasus baru itu yang mempunyai istri, maka ada risiko penularan HIV kepada istri mereka yang selanjutnya istri akan menularkan HIV kepada bayi yang dikandungnya.

Ketiga, kalau di antara yang tida itu ada pekerja seks komersial (PSK), maka sebelum mereka terdeteksi mereka sudah menularkan HIV kepada ribuan laki-laki yang melakukan hubungan seksual tanpa kondom dengan PSK tsb.

Tiga hal di ataslah yang perlu dikembangkan wartawan agar masyarakat memahami HIV/AIDS di lingkungan mereka sehingga mereka bisa menjaga diri dengan cara tidak melakukan perilaku yang berisiko tertular HIV.

Disebutkan oleh Endang ada seorang siswa SMA yang menjalani konseling di Klinik VCT karena merasa perilakunya berisiko tertular  HIV/AIDS.

Celakanya, Pemkab Gunungkidul tidak mempunyai program yang konkret untuk pelajar tentang cara menyalurkah hasrat dorongan seks dan cara-cara melindungi diri agar tidak tertular HIV melalui hubungan seksual.

Perda AIDS DI Yogyakarta dan Pergub AIDS DI Yogyakarta pun sama sekali tidak memberikan cara-cara yang konkret untuk mencegah HIV/AIDS, bahkan mengabaikan lokasi pelacuran ’Sarkem’ (Lihat: Di Kab Lamongan, Jatim, HIV/AIDS ‘Merambah Remaja’ - http://www.aidsindonesia.com/2012/10/perda-aids-di-yogyakarta.html).

Tanpa program yang konkret, al. intervensi agar laki-laki dewasa memakai kondom kalau melacur, maka penyebaran HIV di Gunungkidul akan terus terjadi yang ditandai dengan penemuan kasus demi kasus. ***

- AIDS Watch Indonesia/Syaiful W. Harahap

1 komentar:

  1. PUSAT PEMBESAR PENIS, OBAT KUAT TAHAN LAMA, PERANGSANG WANITA, KOSMETIK, DAN ACCESORIES SEX P/W TERLENGKAP...!!



    Pembesar Penis Cepat

    Vakum Pembesar Penis

    Obat Kuat Sex

    Obat Penggemuk Badan

    Pelangsing Tubuh Cepat

    Perontok Bulu Kaki

    Penis Ikat Pinggang

    Alat Pembesar Payudara

    Obat perangsang wanita

    Vagina Center

    Obat Penyubur Sperma



    HOTLINE : 0812 3377 0077

    PIN BB : 2A70 31BC

    BalasHapus

Terimakasih telah berkunjung ke situs AIDS Watch Indonesia.
Silahkan tinggalkan pesan Anda untuk mendapatkan tanggapan terbaik dari pembaca lainnya, serta untuk perbaikan ISI dan TAMPILAN blog ini di masa mendatang.