03 Februari 2013

Delapan Kasus HIV/AIDS di Kota Balikpapan Terdeteksi pada Anak-anak


Tanggapan Berita (2/2-2013) – Dikabarkan jumlah kumulatif kasus HIV/AIDS di Kota Balikpapan, Kaltim sejak tahun 2005 sampai 2012 mencapai 606 dengan 167 kematian. Tahun 2012 terdeteksi 117 kasus HIV/AIDS baru (Penyandang HIV AIDS di Balikpapan 606 Orang, kompas.com, 21/1-2013).

Disebutkan bahwa upaya pencegahan dan sosialisasi terus digencarkan untuk semakin menekan lonjakan jumlah orang yang menyandang HIV/AIDS. Tapi, dalam berita tidak dijelaskan apa langkah konkret yang dijalankan oleh Dinkes Kota Balikpapan untuk menekan lonjakan jumlah orang yang menyandang HIV/AIDS.

Disampaikan oleh Dyah Muryani, Kepala Dinas Kesehatan Kota Balikpapan bahwa kasus HIV/AIDS di Kota Balikpapan semakin memprihatinkan karena penyandang HIV AIDS terbanyak ada di usia produktif, 25-25 tahun. Delapan di antaranya masih berusia anak-anak.

Bertolak dari hal di atas yang memprihatikan justru Pemkot Balikpapan, dalam hal ini Dinkes Balikpapan, tidak mempunyai program yang konkret untuk menurunkan insiden infeksi HIV melalui hubungan seksual dengan pekerja seks komersial (PSK) pada laki-laki dewasa dan remaja.

Terkait dengan delapan kasus pada usia anak-anak ini terjadi karena ibu mereka tertular HIV dari suami. Maka, yang memprihatinkan adalah ada suami yang menularkan HIV kepada istrinya. Suami-suami itu bisa saja tertular HIV melalui hubungan seksual tanpa kondom dengan PSK.

Persoalannya adalah Pemkot Balikpapan akan berteriak: Tidak ada pelacuran di Kota Balikpapan. Ya, itu benar. Tapi, tunggu dulu. Yang tidak ada asalah lokalisasi pelacuran yang ditangani pemkot melalui dinas sosial, sedangkan praktek pelacuran terjadi di sembarang tempat, seperti di kos-kosan, kontrakan, penginapan, losmen, hotel melati sampai hotel berbintang dan sembarang waktu.

Disebutkan oleh Dyah, bahwa yang terpenting dalam perang melawan HIV/AIDS adalah bagaimana pencegahan bisa efektif. Sosialisasi ke kelompok rawan terkena HIV/AIDS dan ke semua kalangan, harus digencarkan. Misalnya: "Pencegahan penularan sangat penting. Misalnya dengan penggunaan kondom."

Pertanyaan untuk Dyah: Siapa yang harus memakai kondom dan bagaimana mekanisme pemantauannya?

Kalau yang dimaksud kelompok rawan adalah PSK, maka mereka tidak mempunyai posisi tawar yang kuat untuk memaksa laki-laki memakai kondom jika sanggama.

Maka, jika Pemkot Balikpapan tidak mempunyai program yang konkret untuk menurunkan insiden infeksi HIV baru pada laki-laki melalui hubungan seksual dengan PSK, maka penyebaran HIV/AIDS di Kota Balikpapan akan terus terjadi yang kelak bermuara pada ‘ledakan AIDS’. ***[AIDS Watch Indonesia/Syaiful W. Harahap]***

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Terimakasih telah berkunjung ke situs AIDS Watch Indonesia.
Silahkan tinggalkan pesan Anda untuk mendapatkan tanggapan terbaik dari pembaca lainnya, serta untuk perbaikan ISI dan TAMPILAN blog ini di masa mendatang.