01 Januari 2013

Tinggi, Tingkat Kematian Pengidap HIV/AIDS di Kota Medan


Tanggapan Berita (2/1-2013) – Menurut data dari Dinas Kesehatan Kota Medan per Oktober 2012, korban meninggal dunia karena mengidap HIV/AIDS  sebanyak 722  orang. Ini pernyataan dalam berita “3.346 orang pengidap HIV/AIDS di Medan” di www.waspada.co.id (18/12-2012).

Kalau saja narasumber dan wartawan yang menulis berita ini membawa fakta 722 kematian terkait HIV/AIDS ke realitas sosial, maka berita akan memberikan gambaran yang utuh tentang penyebaran HIV/AIDS di Kota Medan.

Dengan kematian 722 itu artinya tingkat kematian pengidap HIV/AIDS di Kota Medan mencapai 21,58 persen dari kasus HIV/AIDS.

Pertama, pengidap atau penderita HIV/AIDS yang meninggal sudah tertular HIV antara 5-15 tahun sebelum kematian. Ini artinya pada rentang waktu 5-15 tahun pengidap HIV/AIDS yang meninggal sudah menularkan HIV kepada orang lain. Suami akan menularkan ke istri atau pasangan seks lain.

Kedua, kalau ada di antara 722 pengidap HIV/AIDS yang meninggal itu pekerja seks komersial (PSK), maka pada rentang waktu 5-15 tahun sudah banyak laki-laki yang berisiko tertular HIV. Kalau setiap malam 1 PSK meladeni 3 laki-laki, maka sudah ada 4.500-13.500 laki-laki yang berisiko tertular HIV (1 PSK x 3 laki-laki/malam x 25 hari/bulan x 5 atau 15 tahun).

Disebutkan: Kasus HIV/AIDS di Kota Medan terus mengalami peningkatan sejak ditemukan pertama kali pada tahun 1992.

Karena pelaporan kasus  HIV/AIDS di Indonesia dilakukan dengan cara kumulatif, artinya kasus lama ditambah kasus baru, maka kasus HIV/AIDS tidak akan pernah turun atau berkurang biar pun banyak pengidap HIV/AIDS yang meninggal.

Dikabarkan ada Rencana Strategis Penanggulangan HIV/AIDS Kota Medan Tahun 2011-2014 merupakan acuan bagi semua  pihak, baik instansi pemerintah, swasta, LSM dan seluruh stakeholder  dalam upaya pencegahan dan penanggulangan HIV/AIDS  secara terpadu.

Sayang, dalam berita tidak dijelaskan rencana strategis yang dijalankan Pemko Medan untuk menanggulangi penyebaran HIV/AIDS. Soalnya, Perda AIDS Kota Medan pun sama sekali tidak memberikan cara yang konkret untuk menanggulangi HIV/AIDS (Lihat: Perda AIDS Kota Medan, Hanya Normatif-http://www.aidsindonesia.com/2012/09/perda-aids-kota-medan.html).  

Disebutkan oleh Kepala Dinas Kesehatan Kota Medan, dr  Usmapolita, ” .... upaya pencegahan dan penanggulangannya cenderung juga menjadi masalah sosial yang sangat pelik serta kompleks termasuk upaya identifikasi terhadap pengidapnya yang menunjukan fenomena gunung es.“

Pertanyaannya adalah: Apa langkah konkret Pemko Medan untuk mendeteksi kasus HIV/AIDS di masyarakat?

Jika disimak Perda AIDS Kota Medan, maka jawabannya adalah: Tidak ada!

Selama program penanggulangan tidak konkret, maka selama itu pula penyebaran HIV/AIDS di Kota Medan akan terus terjadi. Tinggal menunggu waktu saja untuk ’panen AIDS’. ***[AIDS Watch Indonesia/Syaiful W. Harahap]***

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Terimakasih telah berkunjung ke situs AIDS Watch Indonesia.
Silahkan tinggalkan pesan Anda untuk mendapatkan tanggapan terbaik dari pembaca lainnya, serta untuk perbaikan ISI dan TAMPILAN blog ini di masa mendatang.