08 Januari 2013

'Suami-suami' Penular HIV/AIDS di NTT


Tanggapan Berita (9/1-2013) – “Komisi Penanggulangan AIDS (KPA) NTT gencar melakukan sosialisasi tentang bahaya HIV/AIDS terhadap perempuan dan anak-anak.” Ini pernyataan Gusti Brewon, pengelola program Komisi Penanggulangan AIDS Prov Nusa Tenggara Timur (NTT), dalam berita “77 Balita di NTT Mengidap HIV/AIDS” di tempo.co (1/12-2012).

Yang menjadi persoalan utama dalam kaitan HIV/AIDS yang terdeteksi pada perempuan, dalam hal ini ibu rumah tangga, dan bayi bukan perempuan dan bayi tsb. tapi laki-laki, dalam hal ini suami atau pasangan perempuan yang terdeteksi mengidap HIV/AIDS. Soalnya, yang menularkan HIV kepada perempuan atua ibu rumah tangga adalah laki-laki.

Biar pun ibu-ibu rumah tangga memahami HIV/AIDS secara benar, posisi tawar mereka untuk meminta agar suami tidak menularkan HIV melalui hubungan seksual dalam ikatan pernikahan yang sah sangat rendah. Bahkan, boleh dikatakan tidak ada apalagi suami memakai agama sebagai ‘benteng’ untuk melindunginya dalam posisi sebagai suami.

Dikabarkan 77 balita di NTT mengidap HIV/AIDS. Angka ini adalah bagian dari 1.822 kasus kumulatif HIV/AIDS di NTT yang terdeteksi sampai September 2012 yang terdiri atas 810 HIV dan 1.012 AIDS dengan 403 kematian. Dari jumlah itu HIV/AIDS terdeteksi pada 286 ibu rumah tangga atau 15,7 persen dari kasus HIV/AIDS di NTT.

Sayang, wartawan tidak bertanya tentang langkah KPA NTT terhadap suami 286 ibu rumah tangga yang terdeteksi mengidap HIV/AIDS. Soalnya, kalau 286 suami itu tidak menjalani tes HIV, maka mereka akan menularkan HIV kepada pasangan seks lain dan pekerja seks komersial (PSK).

Terkait dengan HIV/AIDS pada bayi bisa terjadi karena banyak perempuan tidak menyadari dirinya sudah mengidap HIV/AIDS karena mereka tidak melakukan hubungan seksual dengan laki-laki lain.

Maka, pernyataan Gusti Brewon ini masuk akal: "Kasus HIV/AIDS pada perempuan dan anak trennya terus meningkat."

Persoalannya adalah: Apa langkah konkret KPA NTT untuk melindungi perempuan dan bayi agar tidak tertular HIV?

Kalau langkah KPA NTT untuk melindungi perempuan dan bayi agar tidak tertular HIV melalui sosialisasi tentang bahaya HIV/AIDS tentulah tidak pas karena tidak proporsional. Soalnya, perempuan dan bayi pasif artinya mereka tertular dari orang lain dalam posisi yang tidak mempunyai pilihan.

Menurut Gusti Brewon, penderita HIV/AIDS terbanyak adalah kaum pria dibandingkan kaum wanita. Mereka berusia produktif, 31-35 tahun.

Nah, data ini menunjukkan banyak perempuan, tertuama istri, ada pada posisi yang sangat rentan tertular HIV dari pasangannya. Maka, diperlukan langkah yang konkret untuk menekan atau menurunkan insiden infeksi HIV baru pada laki-laki dewasa, al. melalui hubungan seksual dengan PSK.

Celakanya, pemerintah pusat, pemerintah provinsi, kabupaten dan kota di Indonesia akan mengatakan: Di daerah kami tidak ada pelacuran!

Itu benar adanya kalau yang dimaksud dengan pelacuran adalah lokalisasi pelacuran.

Tapi, apakah ada yang bisa menjamin bahwa di semua daerah di Indonesia tidak terjadi praktek pelacuran?

Kalau ada yang bisa menjamin bahwa di Indonesia tidak ada praktek pelacuran, maka pertanyaan berikutnya adalah: Apakah ada yang bisa menjamin tidak ada laki-laki dewasa, termasuk suami, yang melakukan hubungan seksual tanpa kondom di dalam dan di luar nikah dengan perempuan yang berganti-ganti atau dengan perempuan yang sering berganti-ganti pasangan, seperti PSK, di Indonesia dan di luar Indonesia?

Kalau tetap ada yang bisa menjami, maka Indonesia tidak perlu risau terkait penyebaran HIV/AIDS dengan faktor risiko hubungan seksual.

Tapi, kalau tidak ada yang bisa menjamin, maka persoalan besar yang dihadap Indonesia, termasuk NTT, adalah penyebaran HIV/AIDS terjadi melalui hubungan seksual tanpa kondom di dalam dan di luar nikah.

Disebutkan lagi oleh Gusti Brewon: ” .... dengan jumlah penderita HIV/AIDS yang terus meningkat seharusnya juga meningkatkan kesadaran masyarakat untuk memeriksakan diri mereka ke rumah sakit atau puskesmas.”

Tidak semua orang harus melakukan tes HIV karena tidak semua orang yang perilaku seksnya berisiko tertular HIV. Maka, yang dianjurkan untuk melakukan tes HIV adalah: orang-orang (laki-laki dan perempuan) yang pernah atau sering melakukan hubungan seksual tanpa kondom, di dalam dan di luar nikah, dengan pasangan yang berganti-ganti atau dengan yang sering berganti-ganti pasangan.

Dikabarkan pada Hari AIDS Sedunia (1/12-2012) KPA NTT dan KPA Kota Kupang menggelar pengobatan gratis bagi PSK di lokalisasi Karang Dempel, Kupang.

Perlu diingat adalah bahwa HIV/AIDS pada PSK bisa jadi justru ditularkan oleh laki-laki penduduk NTT. Selanjutnya ada pula laki-laki penduduk NTT yang tertular HIV/AIDS dari PSK. Maka, laki-laki yang menularkan HIV kepada PSK dan laki-laki yang tertular HIV dari PSK menjadi mata rantai penyebaran HIV/AIDS di NTT.

Sayangnya, Perda AIDS Prov NTT pun tidak memberikan langkah yang konkret untuk menanggulangi HIV/AIDS di NTT (Lihat: Perda AIDS Provinsi NTT - http://www.aidsindonesia.com/search/label/Perda%20AIDS%20Provinsi%20NTT).


Tanpa intervensi berupa program yang konkret di lokalisasi Karang Dempel, Kupang, maka laki-laki dewasa penduduk NTT yang pernah atau sering melacur tanpa kondom akan menjadi jembatan penyebaran HIV/AIDS dari masyarakat ke PSK dan sebaliknya dari PSK ke masyarakat. ***[AIDS Watch Indonesia/Syaiful W. Harahap]***

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Terimakasih telah berkunjung ke situs AIDS Watch Indonesia.
Silahkan tinggalkan pesan Anda untuk mendapatkan tanggapan terbaik dari pembaca lainnya, serta untuk perbaikan ISI dan TAMPILAN blog ini di masa mendatang.