12 Januari 2013

Penyebaran HIV/AIDS di Kab Tasikmalaya Didominasi Jarum Suntik Narkoba?

Tanggapan Berita (13/1-2013) – “ …. pola penularan HIV/AIDS di Kabupaten Tasikmalaya, Jawa Barat, umumnya akibat penggunaan jarum suntik. Akibat aktivitas seksual tercatat hanya dua orang.” Ini disampaikan oleh Kabid Pengendalian dan Penanggulangan Penyakit (P2P) di Dinas Kesehatan Kabupaten Tasikmalaya, Deden Hamdani (Meningkat, Kasus HIV/AIDS di Tasikmalaya, www.tubasmedia.com, 11/1-2013).

Disebutkan bahwa kasus kumulatif HIV/AIDS di Kab Tasikmalaya sejak tahun 2006 sebanyak 76 dengan 17 kematian.

Tentu saja mencengangkan kalau di daerah seperti Kab Tasikmalaya ternyata penyebaran HIV/AIDS terjadi melalui jarum suntik pada penyalahguna narkoba (narkotik dan bahan-bahan berbahaya).

Tapi, sayangnya wartawan tidak mengembangkan pernyataan Deden, yaitu:

Pertama, bagaimana kasus HIV/AIDS terdeteksi pada penyalahguna narkoba?

Kedua, apakah ada program yang sistematis di Kab Tasikmalaya untuk mendeteksi HIV di masyarakat?

Ketiga, apakah ada program yang sistematis untuk mendeteksi HIV/AIDS pada perempuan hamil?

Lagi-lagi wartawan yang menulis berita ini tidak memahami fenomena HIV/AIDS di masyarakat. Ada kemungkinan kasus HIV/AIDS banyak terdeteksi pada penyalahguna narkoba dengan jarum suntik karena mereka dipaksa menjalani tes ketika hendak mengikuti program rehabilitasi.

Sebaliknya, orang-orang yang tertular melalui hubungan seksual tidak terdeteksi karena tidak ada sistem yang bisa mendeteksi kasus HIV/AIDS di masyarakat.

Pada gilirannya kasus-kasus HIV/AIDS yang tidak terdeteksi di masyarakat akan menjadi ‘bom waktu’ ledakan AIDS karena pengidap HIV/AIDS yang tidak terdeteksi menjadi mata rantai penyebaran HIV/AIDS di masyarakat, al. melalui hubungan seksual tanpa kondom di dalam dan di luar nikah.

Disebutkan bahwa ada enam kasus HIV/AIDS yang terdeteksi pada balita. Wartawan pun tidak mengembangkan data ini, yaitu: (a) apa faktor risiko penularan HIV kepada ibu enam balita tsb.?, dan (b) apakah suami enam ibu yang melahirkan bayi itu sudah menjalani tes HIV?

Soalnya, kalau enam itu itu tertular dari suaminya, maka jika istri atau pasangan suami itu lebih dari satu maka kian banyak perempuan yang berisiko tertular HIV.

Disebutkan di Kab Tasikmalaya ada tiga klinik VCT (tempat tes HIV sukarela gratis dengan konseling dan kerahasiaan), yaitu di puskesmas Manonjaya, Singaparna, Tenawati dan Ciawi.

Ini pernyataan Deden: “Masyarakat dapat melakukan konsuktasi dan mengecek kesehatan secara gratis dan kerahasiaan dijamin.”

Pernyataan Deden ini tidak akurat karena tidak semua orang harus tes HIV. Yang harus menjalani tes HIV, al.  adalah:

(1) Laki-laki dan perempuan dewasa penduduk Kab Tasikmalaya yang pernah atau sering melakukan hubungan seksual tanpa kondom di dalam dan di luar nikah dengan pasangan yang berganti-ganti.

(2) Laki-laki dewasa penduduk Kab Tasikmalaya yang pernah atau sering melakukan hubungan seksual tanpa kondom dengan perempuan yang sering berganti-ganti pasangan, seperti pekerja seks komersial (PSK).

Pertanyaan untuk Deden: Apakah di wilayah Kab Tasikmalaya ada pelacuran?

Sudah bisa kita duga karena Deden akan berkata lantang: Tidak ada!

Deden benar, tapi tunggu dulu karena yang dimaksud Deden adalah lokalisasi pelacuran yang ditangani pemerikan kabupaten, dalam hal ini dinas sosial.

Tapi, apakah Deden bisa menjamin di wilayah Kab Tasikmalaya tidak ada praktek pelacuran?

Kalau Deden bisa menjamin, maka tidak ada penyebaran HIV/AIDS dengan faktor risiko hubungan seksual.

Tapi, kalau Deden tidak bisa menjamin, maka ada persoalan besar yang dihadapi Pemkab Tasikmalaya yaitu penyebaran HIV/AIDS dengan faktor risiko hubungan seksual.

Pemkab Tasikmalaya sudah menerbitkan Perda Penanggulangan AIDS, tapi karena perda itu hanya berpijak pada moral sehingga tidak menyentuh akar persoalan (Lihat: Menguji Peran Perda AIDS Kabupaten Tasikmalaya dan Kota Tasikmalaya*-http://www.aidsindonesia.com/2012/10/menguji-peran-perda-aids-kabupaten.html).

Jika Pemkab Tasikmalaya tidak mempunyai program penanggulangan yang konkret, maka penyebaran HIV/AIDS akan bermuara pada ’ledakan AIDS’. ***[AIDS Watch Indonesia/Syaiful W. Harahap]***

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Terimakasih telah berkunjung ke situs AIDS Watch Indonesia.
Silahkan tinggalkan pesan Anda untuk mendapatkan tanggapan terbaik dari pembaca lainnya, serta untuk perbaikan ISI dan TAMPILAN blog ini di masa mendatang.