03 Januari 2013

Penyebaran HIV/AIDS di Kab Klaten Menyalahkan PSK Ibu-ibu Muda

Tanggapan Berita (4/1-2013) – “ …. Granat menemukan ada indikasi jaringan ibu-ibu muda yang menjajakan diri melalui fasilitas dunia maya sudah ada. Temuan itu sudah dipelajari sejak beberapa bulan terakhir. Kelompok-kelompok tersebut menjadi kelompok rentan penularan HIV/ AIDS jika tidak segera ditangani bersama seluruh elemen masyarakat.” Ini pernyataan dalam berita “Kasus HIV/AIDS Meningkat, Jaringan PSK Ibu Muda Gentayangan” di suaramerdeka.com (30/12-2012) terkait dengan kasus HIV/AIDS di Kabupaten Klaten, Jawa Tengah.

Pertanyaan untuk Granat: Siapa yang ‘memakai’ jasa ibu-ibu muda yang menjajakan diri di dunia maya tsb.?

Kalau saja Sekjen DPC Granat Klaten, Anton Sanjaya, berpikir dengan jernih, maka persoalan bukan pada ibu-ibu muda itu tapi pada laki-laki ’hidung belang’ yang membeli jasa seks dari ibu-ibu muda tsb.

Selama cara berpikir yang bias gender dan tidak komprehensif dipakai melihat epidemi HIV, maka tidak akan pernah ditemukan langkah yang konkret untuk menanggulangi penyebaran HIV/AIDS.

Hal yang sama terjadi pada Perda AIDS Jawa Tengah yang justru mengabaikan pelacuran (Lihat: Perda AIDS Provinsi Jawa Tengah Mengabaikan (Lokalisasi) Pelacuran- http://www.aidsindonesia.com/2012/08/perda-aids-provinsi-jawa-tengah.html).  

Disebutkan kasus kumulatif HIV/AIDS di Kab Klaten sampai tahun 2012 meningkat dari peringkat ke-20 menjadi peringkat ke-10 dari 35 kabupaten dan kota di Jateng.

Disebutkan bahwa data kasus HIV/AIDS di Klaten itu menunjukkan masyarakat Klaten rentan terhadap HIV. Termasuk faktor penyebabnya baik seks bebas dan penggunaan narkoba.

Pernyataan ini tidak akurat karena tidak semua orang berisiko tertular HIV/AIDS. Orang-orang yang berisiko tertular HIV adalah orang-orang yang berperilaku berisiko yaitu pernah atau sering melakukan hubungan seksual tanpa kondom di dalam dan di luar nikah dengan pasangan yang berganti-ganti atau dengan yang sering berganti-ganti pasangan, seperti pekerja seks.

Kunci permasalahan ada pada laki-laki ’hidung belang’, maka program penanggulangan pun menyasar laki-laki ’hidung belang’, al. melakukan intervensi terhadap laki-laki agar memakai kondom jika sanggama dengan pekerja seks. Tanpa langkah yang konkret penyebaran HIV/AIDS di Klaten akan terus terjadi. ***[AIDS Watch Indonesia/Syaiful W. Harahap]***

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Terimakasih telah berkunjung ke situs AIDS Watch Indonesia.
Silahkan tinggalkan pesan Anda untuk mendapatkan tanggapan terbaik dari pembaca lainnya, serta untuk perbaikan ISI dan TAMPILAN blog ini di masa mendatang.