03 Januari 2013

Penanggulangan HIV/AIDS di Natuna Tanpa Cara-cara yang Konkret


Tanggapan Berita (4/1-2013) – “Enam orang pekerja seks komersil (PSK) positif terjangkit virus HIV. Hal ini diketahui dari hasil tes sample darah dari 20 PSK yang bekerja di sekitar lokasi hiburan malam Karpet Biru (di Kab Natuna, Prov Kepulauan Riau-pen.).” Ini lead pada berita “Enam PSK Positif HIV” di haluanmedia.com (1/10-2012).

Lagi-lagi berita ini tidak mengungkap realitas sosial terkait dengan penemuan enam PSK yang terdeteksi mengidap HIV/AIDS di Kafe Karpet Biru. Ada beberapa hal yang tidak dikembangkan wartawan, yaitu:

Pertama, ada kemungkinan PSK itu tertular HIV dari laki-laki penduduk lokal yang melakukan hubungan seksual tanpa kondom dengan PSK. Laki-laki yang menularkan HIV kepada PSK ini dalam kehidupan sehari-hari bisa sebagai seorang suami, aka ada risiko penularan HIV secara horizontal dari suami ke istri yang selanjutnya juga ada risiko penularan vertikal dari ibu ke bayi yang dikandungnya.

Kedua, ada kemungkinan PSK yang terdeteksi mengidap HIV/AIDS tsb. tertular di luar Natuna. Jika ini yang terjadi maka laki-laki yang melakukan hubungan seksual tanpa kondom dengan PSK berisiko tertular HIV. Laki-laki yang tertular HIV dar PSK ini dalam kehidupan sehari-hari bisa sebagai seorang suami, aka ada risiko penularan HIV secara horizontal dari suami ke istri yang selanjutnya juga ada risiko penularan vertikal dari ibu ke bayi yang dikandungnya.

Ketiga, laki-laki yang menularkan HIV kepada PSK dan laki-laki yang tertular HIV dari PSK menjadi mata rantai penyebaran HIV/AIDS di masyarakat terutama melalui hubungan seksual tanpa kondom di dalam dan di luar nikah.

Hasil tes HIV bisa akurat jika sudah tertular HIV minimal tiga bulan. Maka, sebelum enam PSK itu terdeteksi, maka sudah ada 1.800  laki-laki penduduk Natuna yang berisiko tertular HIV (8 PSK x 3 laki-laki/malam x 25 hari/bulan x 3 bulan).

Realitas sosial inilah yang tidak dikembangkan wartawan sehingga terkesan persoalan hanya pada delapan PSK itu. Padahal, persoalan ada di masyarakat.

Menurut dr Faisal, Kepala Dinas Kesehatan Kab Natuna, dengan tambahan eman kasus tersebut, menambah jumlah penderita HIV/AIDS di Natuna menjadi 37.

Tapi, Faisal tidak menjelasan bahwa 37 itu hanya kasus yang terdeteksi karena penyebaran HIV/AIDS erat kaitannya dengan fenomena gunung es sehingga kasus tsb. (37) hanya sebagian kecil (digambarkan sebagai puncak gunung es yang muncul ke atas permukaan air laut) dari kasus yang ada di masyarakat (digambarkan sebagai bongkahan es di bawah permukaan air laut).

Masih menurut Faisal, pihaknya akan melakukan penyuluhan dan koordinasi dengan mami para PSK sebagai langkah penanggulangan: “Kami tidak bisa berbuat banyak dalam melakukan pencegahan berkembangnya penyakit ini, sebab ada UU HAM yang sudah mengaturnya dan perdanya kurang berjalan maksimal.”
Tidak ada kaitan UU HAM dengan upaya penanggulangan HIV/AIDS selama berada pada koridor yang tidak melawan hokum. Faisal saja yang tidak memahami cara-cara yang konkret untuk menanggulangi penyebaran HIV di pelacuran.

Yang perlu dilakukan Faisal adalah menggagas peraturan, bisa dalam bentuk peraturan bupati atau peraturan daerah, berupa intervensi yang konkret yaitu memaksa laki-laki memakai kondom ketika sanggama dengan PSK. Ini tidak melanggar HAM.

Celakanya, Perda AIDS Prov Kepulauan Riau sama sekali tidak memberikan cara-cara yang konkret untuk menanggulangi HIV/AIDS (Lihat: Menakar Efektivitas Perda AIDS Provinsi Kepulauan Riau- http://www.aidsindonesia.com/2012/09/menakar-efektivitas-perda-aids-provinsi.html).  

Disebutkan oleh Faisal: “Kita hanya bisa berharap agar ada ketegasan dari pihak yang berwenang terhadap pemilik dan pengguna lokalisasi ini, sebab dari sinilah sumber utama merebaknya virus  tersebut.”

Pernyataan ini menunjukkan pemahaman terhadap HIV/AIDS tidak komprehensif. Yang membawa HIV/AIDS ke lokalisasi pelacuran adalah laki-laki dan yang membawa HIV/AIDS dari lokalisasi pelacuran juga laki-laki.

Kuncinya ada pada laki-laki. Kalau saja Faisal membalik paradigma berpikir melihat penyebaran HIV/AIDS terkait dengan lokalisasi pelacuran, maka yang menjadi sasaran penyuluhan bukan PSK atau germo tapi laki-laki ’hidung belang’.

Masih menurut Faisal, Natuna merupakan surga bagi penyakit tersebut, sebab tidak ada aturan yang tegas yang mengatur keberadaan sumber HIV. Kesadaran masyarakt masih rendah dan tempat tersebut semuanya masih berstatus ilegal.

Pernyataan Faisal di atas juga tidak akurat karena sumber penyebaran HIV/AIDS adalah laki-laki. Yang rendah kesadarannya bukan masyarakat, tapi laki-laki ‘hidung belang’ karena mereka tidak memakai kondom setiap kali sanggama dengan PSK. Tidak ada pelacuran yang legal, yang ada adalah pelacuran yang dilokalisasi melalui regulasi.

Ini juga pernyataan Faisal, kondisi Natuna dengan keberadaan virus tersebut sudah berada pada titik darurat, sehingga pihaknya melakukan apa saja yang bisa dan boleh dilakukannya.

Yang perlu dilakukan adalah intervensi yang konkret berupa regulasi yang memaksa laki-laki ‘hidung belang’ memakai kondom ketika sanggama dengan PSK.

Tanpa program yang konkret, maka penyebaran HIV/AIDS di Natuna akan terus terjadi yang kelak bermuara pada ‘ledakan AIDS’. ***[AIDS Watch Indonesia/Syaiful W. Harahap]***

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Terimakasih telah berkunjung ke situs AIDS Watch Indonesia.
Silahkan tinggalkan pesan Anda untuk mendapatkan tanggapan terbaik dari pembaca lainnya, serta untuk perbaikan ISI dan TAMPILAN blog ini di masa mendatang.