02 Januari 2013

Naif, Kriminalisasi Laki-laki ‘Hidung Belang’ yang Melacur (Tanpa Kondom)


Tanggapan Berita (3/1-2012) – “Perlu diwacanakan langkah-langkah, misalnya dengan mengkriminalisasi para hidung belang yang kesadarannya sangat rendah.” Ini pernyataan pengelola program Komisi Penanggulangan AIDS (KPA) Kabupaten Semarang, Jawa Tengah, Taufikurohman dalam berita ”Tekan Penyebaran Angka HIV/AIDS. Awas! ‘Hidung Belang’ di Semarang Tak Pakai Kondom Dijerat Kriminal” di www.lensaindonesia.com (11/12-2012).

Yang dimaksud Taufikurohman adalah laki-laki yang melacur yang tidak memakai kondom. Disebutkan wacana ini digulirkan dalam upaya mendukung antisipasi penyebaran penyakit HIV/AIDS. Pasalnya, kesadaran untuk menggunakan kondom menjadi pemicu pesatnya perkembangan penyakit HIV/AIDS di Kabupaten Semarang.

Persoalannya adalah:

Pertama, bagaimana membuktikan seorang laki-laki yang melacur tidak memakai kondom ketika sanggama?

Kedua, apakah semua tempat tejadi praktek pelacuran bisa diawasi?

Ketiga, bagaimana cara pengawasan terhadap laki-laki yang melacur untuk mendapatkan yang tidak memakai kondom?

Keempat, ketika laki-laki yang melacur ditangkap karena tidak memakai kondom sudah terjadi penularan HIV, bisa dari laki-laki ke pekerja seks atau sebaliknya.

Wacana yang sangat naif karena adalah mustahil mengawasi semua laki-laki yang melacur di wilayah Kab Semarang. Soalnya, pelacuran terjadi di sembarang tempat dan sembarang waktu.

Kasus kumulatif HIV/AIDS di Kab Semarang per Oktober 2012 mencapai 283 yang terdiri atas  232 HIV dan 51 AIDS.

Dikabarkan kasus HIV/AIDS paling banyak terdeteksi pada  pekerja yaitu 33,49  persen.

Kalau saja Taufikurohman dan wartawan yang menulis berita ini memahami epidemi HIV/AIDS secara akurat, maka yang menjadi persoalan besar adalah perlu intervensi berupa langkah yang konkret untuk menurunkan insiden infeksi HIV baru pada laki-laki yang melacur dengan pekerja seks.

Untuk itulah perlu aturan yang bisa memaksa laki-laki memakai kondom ketika melacur. Ini artinya penanggulangan di hulu.

Celakanya, dalam Perda AIDS Kab Semarang sama sekali tidak ada pasal yang konkret untuk menanggulangi penyebaran HIV/AIDS (Lihat: Perda AIDS Kab Semarang, Prov Jawa Tengah- http://www.aidsindonesia.com/2012/09/perda-aids-kab-semarang-prov-jawa-tengah.html).

Hal yang sama juga terjadi pada Perda AIDS Prov  Jawa Tengah yang juga tanpa program yang konkret untuk menanggulangi HIV/AIDS (Lihat: Perda AIDS Provinsi Jawa Tengah Mengabaikan (Lokalisasi) Pelacuran- http://www.aidsindonesia.com/2012/08/perda-aids-provinsi-jawa-tengah.html).

Maka, tidaklah mengherankan kalau kemudian kasus HIV/AIDS terdeteksi pada tiga anak-anak karena ibu mereka tertular HIV dari suaminya. Ini membuktikan suami-suami itu melacur tanpa kondom.

Disebutkan bahwa KPA Kab Semarang telah mendistribusikan lebih dari 20-30 ribu kondom di sejumlah titik.

Dikabarkan jumlah pekerja seks di wilayah Kab Semarang sekitar 750.

Jika seorang pekerja seks meladeni tiga laki-laki per malam, maka setiap malam ada 2.250 laki yang berisiko tertular atau menularkan HIV kalau mereka tidak memakai kondom.

Fakta ini yang perlu dikembangkan dengan melakukan pengamatan pada praktek pelacuran tentang siapa saja yang melacur di sana dan apakah mereka memakai kondom. Ini merupakan realitas sosial tapi tidak dikembangkan oleh wartawan sehingga masyarakat tidak melihat penyebaran HIV/AIDS sebagai fakta yang ada di sekitar mereka.

Jika Pemkab Semarang tidak mempunyai program yang konkret untuk memaksa laki-laki yang melacur memakai kondom, maka selama itu pula terjadi penyebaran HIV/AIDS di masyarakat, al. melalui hubungan seksual tanpa kondom.

Karena insiden kasus HIV/AIDS baru terus terjadi, maka kasus demi kasus pun akan terus terdeteksi. ***[AIDS Watch Indonesia/Syaiful W. Harahap]***

1 komentar:

  1. analisanya mantap bang ipul. sederhana namun sangat jelas tanggapannya. semoga mampu memberikan penjelasan pada segolongan ummat manusia yang mengusung kriminalisasi pelanggan. memang sekarang banyak orang yang naif dan banyak orang yang mempunyai penurunan kualitas dalam berfikir dan melihat realita lapangan dengan hanya menggunakan kacamata moral.(Yusuf)

    BalasHapus

Terimakasih telah berkunjung ke situs AIDS Watch Indonesia.
Silahkan tinggalkan pesan Anda untuk mendapatkan tanggapan terbaik dari pembaca lainnya, serta untuk perbaikan ISI dan TAMPILAN blog ini di masa mendatang.