29 Januari 2013

Kian Banyak Perempuan Pengidap HIV/AIDS di Kota Balikpapan


* Pemkot Balikpapan tidak mempunyai program yang konkret untuk menanggulangi penyebaran HIV/AIDS

Tanggapan Berita (30/1-2013) – Kepala Dinas Kesehatan Kota Balikpapan drg Dyah Muryani mengkhawatirkan semakin banyaknya wanita yang mengidap HIV/AIDS di "Kota Minyak" itu. Ini lead pada berita “Dinkes Balikpapan Khawatir Makin Banyak Pengidap HIV/AIDS” di kompas.com (23/1-2013).

Dikabarkan jumlah perempuan yang terdeteksi mengidap HIV/AIDS mencapai sepertiga atau 200 dari 606 kasus kumulatif HIV/AIDS di Kota Balikpapan. Kematian terkait HIV/AIDS di Kota Balipapan dilaporkan 167 atau 27,56 persen. Angka kematian ini besar yang memerlukan perhatian khusus agar ada upaya untuk mencegah kematian pada pengidap HIV/AIDS karena penyakit terkait HIV/AIDS.

Disebukan oleh Dyah bahwa penularan HIV/AIDS di Balikpapan umumnya terjadi melalui aktivitas seksual. Lelaki atau suami yang menulari pasangannya di rumah kemungkinan besar tertular dari aktivitas seksual dengan perempuan lain.

Salah satu aktivitas seksual yang tidak aman, yaitu tidak memakai kondom, terjadi antara laki-laki dewasa dengan pekerja seks komersial (PSK). Celakanya, Pemkot Balikpapan akan berdalih bahwa di kota itu tidak ada pelacuran karena tidak ada lokalisasi pelacuran yang dibentuk  oleh dinas sosial.

Itu benar, tapi praktek pelacuran di Kota Balikpapan terjadi di sembarang tempat dan sembarang waktu.

Maka, apa langkah Dinkes Kota Balikpapan untuk mencegah penularan HIV dari laki-laki dewasa ke PSK dan sebaliknya?

Yang konkret tidak ada, yang ada hanyalah anjuran moralistis sebagai jargon politis yaitu, seperti yang disampaikan Dyah: "Karena itu, kesetian kepada pasangan, moralitas yang baik, dan perilaku seks yang sehat tetap cara terbaik untuk mencegah penyakit ini."

Bagaimana Dyah bisa menjamin semua laki-laki akan setia dan tidak akan melacur tanpa kondom?

Tentu saja tidak bisa.

Lalu, akah ada program konkret yang bisa dilakukan paling tidak menurunkan insiden infeksi HIV baru pada laki-laki dewasa yang melacur?

Tentu saja ada. Thailand sudah membuktikan penurunan insiden infeksi HIV pada laki-laki dewasa melalui program ’wajib kondom 100 persen’ bagi laki-laki dewasa yang melacur dengan PSK. Program ini bisa efektif jika pelacuran di lokalisir.

Celakanya, Pemkot Balikpapan justru membasmi tempat-tempat pelacuran sehingga praktek pelacuran terjadi di berbagai tempat yang tidak bisa dijangkau, seperti di rumah, kos-kosan, kontrakan, penginapan, losmen, hotel melati sampai hotel berbintang dan apartemen.

Disebutkan bahwa kekhawatiran terbesar, ujarnya, adalah akan semakin banyak bayi yang lahir dari mereka, yang hampir pasti mengidap HIV/AIDS sebagai turunan dari ibunya.

HIV/AIDS bukan penyakit turunan atau genetika, tapi virus yang penularannya bisa dicegah. Penyebutan ” .... hampir pasti mengidap HIV/AIDS sebagai turunan dari ibunya” tidak akurat. Pernyataan ini mengesankan ibu yang mengidap HIV/AIDS otomatis akan menularkan HIV kepada bayi yang dikandungnya. Ini menyesatkan karena penularan HIV dari-ibu-ke-bayi yang dikandungnya tidak otomatis. Risiko penularan terjadi ketika di dalam kandungan, pada persalinan dan menyusui dengan air susu ibu (ASI).

Disebutkan lagi oleh Dyah: ”Semakin mencemaskan lagi karena kini ada penderita yang masih remaja, yang masih berusia 16 tahun, dan masih bersekolah."

Yang paling mencemaskan adalah Dinkes Kota Balikpapan tidak mempunyai program yang konkret untuk menanggulangi penyebaran HIV/AIDS.

Begitu pula dengan Dinas Pendidikan Ktoa Balikpapan yang tidak memberikan informasi yang akurat terhadap pelajar tentang cara mencegah penularan HIV, al. melalui hubungan seksual. Selain itu tidak ada pula informasi yang diterima pelajar tentang cara menyalurkan dorongan seksual yang tidak berisiko tertular HIV/AIDS. Dorongan seksual tidak bisa digantikan dengan kegiatan lain.

Atau ambil jalan tengah. Pejabat di lingkungan Pemkot Balikpapan dan DPRD Kota Balikpapan membeberkan cara yang mereka lakukan dahulu ketika remaja sampai sekarang setelah berkeluarga tentang cara mengendalikan dorongan seks sehingga mereka tidak pernah berzina dan melacur.

Menurut Dyah, kini ada fenomena bahwa HIV/AIDS di "Kota Minyak" itu menyebar di kalangan keluarga yang ditandai dengan kasus HIV/AIDS yang terdeteksi pada balita.

Pertanyaan untuk Dyah: Apa langkah konkret Dinkes Kota Balikpapan untuk mendeteksi HIV/AIDS pada perempuan hamil?

Menurut Dyah, Dinas Dinkes Balikpapan juga terus mengedukasi masyarakat melalui berbagai cara, di antaranya melalui pusat-pusat kesehatan masyarakat dan pesan-pesan moral melalui pemuka agama dan tokoh masyarakat.

Berapa lama waktu yang dibutuhkan untuk mengajak laki-laki tidak ada lagi yang melacur?

Tentu tidak bisa dipastikan. Maka, yang diperlukan adalah langkah-langkah yang konkret, al. melakukan intervensi terhadap laki-laki melalui regulasi yang memaksa laki-laki yang melacur memakai kondom.

Masih menurut Dyah, masih kesulitan mengajak mereka yang positif mengidap HIV/AIDS untuk berobat. Meski ada jaminan identitas dirahasiakan, tetap saja tidak mudah untuk mengajak mereka.  

Pernyataan ini tidak akurat karena orang-orang yang sudah terdeteksi mengidap HIV/AIDS melalui tes HIV yang baku akan terus kontak dengan tempat tes atau institusi yang menjangkaunya karena terkait dengan kesehatan dan obat antiretroviral (ARV).

Yang terjadi adalah banyak orang yang sudah mengidap HIV/AIDS, tapi tidak menyadarinya karena tidak ada tanda-tanda yang khas AIDS pada fisik mereka.

Maka, yang diperlukan adalah langkah yang konkret untuk mendeteksi HIV/AIDS di masyarakat tanpa melakukan perbuata yang melawan hukum dan tidak melanggar hak asasi manusia (HAM).

Disebutkan oleh Dyah: "Meski begitu kami lebih fokus pada pencegahan, upaya penyadaran yang lebih mudah dan lebih murah."

Pertanyaannya adalah: Apa program Dinkes Balikpapan yang konkret untuk menurunkan insiden infeksi HIV baru pada laki-laki dewasa melalui hubungan seksual dengan PSK?

Tentu saja tidak ada. Maka, tidaklah mengherankan kalau kelak penyebaran HIV/AIDS di Kota Balikpapan akan terus terjadi, al. ditandai dengan penemuan kasus HIV/AIDS pada ibu-ibu rumah tangga. ***[AIDS Watch Indonesia/Syaiful W. Harahap]***

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Terimakasih telah berkunjung ke situs AIDS Watch Indonesia.
Silahkan tinggalkan pesan Anda untuk mendapatkan tanggapan terbaik dari pembaca lainnya, serta untuk perbaikan ISI dan TAMPILAN blog ini di masa mendatang.