13 Januari 2013

Kematian Pengidap HIV/AIDS di Kota ‘Empek-empek’ Palembang


Tanggapan Berita (14/1-2013) – Komisi Penanggulangan AIDS (KPA) Kota Palembang, Prov Sumatera Selatan (Sumsel) mencatat dari tahun 1996 sampai 2012  lima warga Palembang meninggal dunia karena virus mematikan tersebut. Kasus kumulatif HIV/AIDS di Kota Palembang dilaporkan 560 (5 Tewas Akibat HIV/AIDS, www.seputar-indonesia.com, 13/1-2013).

Biar pun informasi HIV/AIDS yang akurat sudah memasyarakat, ternyata masih ada wartawan yang tidak memahami HIV/AIDS secara benar. Lihat saja pernyataan di atas yang menyebutkan ‘meninggal karena virus mematikan’.

Kalau yang dimaksud dengan ‘virus mematikan’ adalah HIV, maka belum ada kasus kematian pada pengidap HIV/AIDS karena HIV atau AIDS. Kematian pada pengidap HIV/AIDS terjadi di masa AIDS, setelah tertular antara 5-15 tahun, karena penyakit yang disebut infeksi oportunistik, seperti diare dan TBC.

Dalam berita tidak dijelaskan penyakit yang membuat lima pengidap HIV/AIDS tsb. meninggal. Maka, berita ini mengesankan lima pengidap HIV/AIDS di Kota Palembang itu meninggal karena HIV/AIDS. Ini salah besar.

Menurut Ketua KPA Kota Palembang, Jailani UD, dari 560 orang penderita tersebut 70% disebabkan pergaulan bebas (seks bebas), 17 % akibat jarum suntik (narkoba) dan sisanya faktor penularan melalui air susu terhadap anak.

Pernyataan Jailani ini lagi-lagi menyuburkan mitos (anggapan yang salah) tentang HIV/AIDS. Kalau pergaulan bebas atau ‘seks bebas’ yang dimaksudkan adalah zina atau melacur, maka tidak ada kaitan langsung antara zina dan melacur dengan penularan HIV/AIDS.

Penularan HIV/AIDS melalui hubungan seksual bisa terjadi di dalam dan di luar nikah (sifat hubungan seksual) jika salah satu mengidap HIV/AIDS dan suami atau laki-laki tidak memakai kondom setiap kali sanggama (kondisi hubungan seksual).

Jailani juga mengatakan: “Faktor terbanyak memang disebabkan seks bebas. Makanya imbauan saya kepada remaja dan pemuda sebaiknya hindari perlakuan buruk tersebut karena bisa merugikan kita sendiri. ….”

Pernyataan Jailani ini juga tidak tepat karena perilaku berisiko tertular HIV melalui hubungan seksual, al. dengan melacur tanpa kondom, justru lebih banyak dilakukan laki-laki dewasa. Kasus HIV/AIDS yang terdeteksi pada ibu rumah tangga membuktikan suami mereka tertular HIV, al. melalui hubungan seksual tanpa kondom dengan pekerja seks komersial (PSK).

Jailani menyanggah: Di Kota Palembang tidak ada pelacuran.

Benar, tapi tunggu dulu karena yang tidak ada adalah lokalisasi pelacuran yang ditangani dinas sosial, sedangkan praktek pelacuran terjadi di sembarang tempat dan sembarang waktu.
Wakil Wali Kota Palembang, Romi Herton, sekaligus Pembina Romi Herton Foundation, mengatakan kegiatan ini bertujuan untuk menyelamatkan generasi muda khususnya wanita dan anak dari bahaya penyebaran virus HIV/AIDS.

Celakanya, Romi tidak membeberkan langkah konkret yang dilakukan pemerintah kota untuk menyelamatkan perempuan dan anak-anak dari ancaman tertular HIV.

Bahkan, di dalam Perda AIDS Kota Palembang pun sama sekali tidak ada pasal yang memberikan langkah yang konkret untuk menanggulangi penyebaran HIV (Lihat: Menyoal Kiprah Perda AIDS Kota Palembang*- http://www.aidsindonesia.com/2012/11/menyoal-kiprah-perda-aids-kota-palembang.html).  

Jika Pemkot Palembang tidak menjalankan program penanggulangan yang konkret, maka selama itu pula penyebaran HIV/AIDS akan terjadi di Kota Palembang yang kelak bermuara pada ’ledakan AIDS’. ***[AIDS Watch Indonesia/Syaiful W. Harahap]***

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Terimakasih telah berkunjung ke situs AIDS Watch Indonesia.
Silahkan tinggalkan pesan Anda untuk mendapatkan tanggapan terbaik dari pembaca lainnya, serta untuk perbaikan ISI dan TAMPILAN blog ini di masa mendatang.