14 Januari 2013

HIV/AIDS di Kab Subang, Jabar, Ditularkan Pelancong yang Singgah di Pantura?

Tanggapan Berita (15/1-2013) – “Penularan HIV/AIDS di Kabupaten Subang khususnya pantura, paling banyak disebabkan hubungan kontak seksual karena jalur pantura merupakan tempat perlintasan dari berbagai daerah. Bisa saja orang yang singgah menularkannya ketika sedang beristirahat di pantura.” Ini pernyataan Ketua Yayasan Mutiara Hati Subang, Ririe Purwitasari, dalam berita ”Penularan HIV/AIDS di Subang Akibat Kontak Seksual” di www.inilahkoran.com (13/1-2013).

Pernyataan Ririe ini tidak akurat dan merupakan penyangkalan terkait dengan perilaku penduduk Kab Subang, Jabar, yang berisiko tertular HIV.

Biar pun ada laki-laki atau perempuan pengidap HIV/AIDS dari daerah lain yang singgah di warung atau restoran di pantrura (pantai utara Pulau Jawa, yaitu jalur transportasi darah Bekasi-Cirebon) tidak akan terjadi penularan HIV kalau tidak ada penduduk pantura yang melayani mereka melakukan hubungan seksual tanpa kondom.

Tidak ada kaitan langsung antara daerah perlintasan dengan penyebaran HIV/AIDS karena penularan HIV/AIDS tidak bisa dilakukan melalui udara, air dan pergaulan sehari-hari.

Daerah atau negara yang sama sekali tidak menjadi tujuan wisata dan perlintasan pun tetap saja banyak kasus HIV/AIDS yang terdeteksi karena bisa saja penduduknya tertular di luar daerah atau negaranya.

Penyangkalan terhadap perilaku berisiko justru akan mendorong penyebaran HIV/AIDS karena menjadikan pihak lain sebagai yang bersalah sebagai ‘kambing hitam’.

Disebutkan data Dinas Kesehatan (Dinkes) Kab Subang sampai akhir 2012 jumlah kasus kumulatif HIV/AIDS mencapai 539 dengan 98 kematian.

Bertolak dari kondisi kasus HIV/AIDS dikabarkan Yayasan Mutiara Hati Subang mengadakan pelatihan dan pembentukan warga peduli HIV/AIDS di Kecamatan Compreng.

Pertanyaan untuk Ririe: Apakah di jalur pantura terjadi praktek pelacuran?

Kalau jawabannya tidak, maka tidak ada persoalan terkait dengan penyebaran HIV dengan faktor risiko hubungan seksual.

Tapi, kalau jawabannya tidak, maka ada persoalan besar terkait dengan penyebaran HIV/AIDS melalui hubungan seksual secara horizontal di masyarakat.

Terkait dengan pernyataan Ririe: ” .... tempat perlintasan dari berbagai daerah. Bisa saja orang yang singgah menularkannya ketika sedang beristirahat di pantura ....” membuktikan di jalur pantura di wilayah Kab Subang terjadi praktek pelacuran.
Maka, yang diperlukan bukanlah sekedar pembentukan warga peduli AIDS, tapi program yang konkret untuk mencegah penularan HIV dari pelancong yang singgah dan melacur di jalur pantura kepada pekerja seks di sana.

Selama tidak ada program yang konkret berupa intervensi melalui regulasi yang memaksa laki-laki memakai kondom ketika melakukan hubungan seksual dengan pekerja seks di jalur pantura, maka selama itu pula penyebaran HIV/AIDS di sana akan terus terjadi. ***[AIDS Watch Indonesia/Syaiful W. Harahap]***

1 komentar:

  1. selamat siang...
    kami dari ormas Gabungan Inisiatif Rakyat Subang ( GIRAS ) Meminta kerjasamanya dalam sosialisasi tentang program yayasan mutiarahati. terimakasih

    BalasHapus

Terimakasih telah berkunjung ke situs AIDS Watch Indonesia.
Silahkan tinggalkan pesan Anda untuk mendapatkan tanggapan terbaik dari pembaca lainnya, serta untuk perbaikan ISI dan TAMPILAN blog ini di masa mendatang.