09 Januari 2013

‘Esek-esek’ di Warung Kopi pada Lintas Denpasar-Gilimanuk


Tanggapan Berita (10/1-2013) – “ .... sangat susah memberangus jaringan prostitusi di sana (lokasi ‘esek-esek’ di Batukarung di Melaya pada lintas jalan raya Denpasar-Gilimanuk, Kab Jembarana, Prov Bali-pen.). .... sudah puluhan tahun bahkan hingga lima keturunan, aktivitas itu masih beroperasi. Sangat sulit menghapus bersih protitusi dengan embel-embel warung kopi. ''Bosnya juga orang-orang sini kok, kalau dihapus total tidak bisa. Pasti timbul lagi, ....,'' Ini pernyataan sumber wartawan yang menulis berita ”Prostitusi di Batukarung Kembali Marak” di Harian ”Bali Post” (10/12-2012).

Kalau saja wartawan memakai perspektif dalam menulis berita ini tentulah tidak hanya melihat dari sisi warung kopi yang disebut memberikan ”pelayanan pemuas nafsu dan sangat rentan dengan HIV/AIDS”, tapi juga melihatnya dari sisi laki-laki yang memanfaatkan layanan pemuas nafsu (seks) tsb.

Biar pun warung kopi itu menyediakan layanan pemuas nafsu (seks), kalau laki-laki tidak ’membeli’ seks tentulah tidak akan terjadi hubungan seksual di sana.

Selain itu yang perlu dingat adalah yang menularkan HIV/AIDS kepada pelayan di sana justru laki-laki yang bisa saja penduduk setempat atau pelacong yang mampir di warung-warung itu.

Disebutkan: ” .... warung-warung itu berada satu permukiman dengan rumah penduduk. Selain warga asli Melaya, di sekitar lokasi banyak ditemui masyarakat pendatang dari Jawa.”

Secara sosiologis pada kegiatan pelacuran terjadi mobilitas para pekerja seks dari daerahnya ke daerah lain. Maka, di warung-warung itu tentulah lebih banyak pekerja seks dari luar daerah karena jika ada perempuan setempat yang menjadi pelayan mereka akan pergi ke daerah lain.

Disebutkan bahwa para pemilik warung juga didominasi pendatang yang memang berbisnis lendir.

Pertanyaan untuk wartawan: Apa julukan Anda untuk laki-laki yang ’membeli’ seks pada pelayan di sana?

Kalau saja wartawan mengamati praktek pelacuran di sana dan menggambarkan realitas terkait dengan laki-laki yang ’membeli’ seks tentulah masyarakat melihat dampak buruk ’esek-esek’ itu.

Aktivis HIV/AIDS di Jembrana, I Nengah Suardana, mengatakan Batukarung merupakan salah satu kawasan yang memungkinkan terjadi transaksi prostitusi dan rentan dengan HIV/AIDS. Dampaknya sudah nyata. Kasusd HIV/AIDS di Kab Jembrana disebutkan 51.

Khusus di Batukarung, selaku aktivis peduli HIV/AIDS, Suardana mengaku beberapa kali mengimbau kepada para pekerja seks untuk bermain aman.

Sebagai aktivis Suardana maklum kalau posisi tawar pekerja seks untuk memaksa laki-laki memakai kondom sangat rendah. Maka, tidak ada pilihan lain kecuali membuat langkah penanggulangan yang konkret berupa intervensi melalui program yang memaksa laki-laki memakai kondom jika sanggama dengan pekerja seks.

Tanpa program yang konkret penyebaran HIV dari masyarakat ke pekerja seks di Batukarang dan sebaliknya dari pekerja seks ke masyarakat melalui laki-laki akan terus terjadi. ***[AIDS Watch Indonesia/Syaiful W. Harahap]***

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Terimakasih telah berkunjung ke situs AIDS Watch Indonesia.
Silahkan tinggalkan pesan Anda untuk mendapatkan tanggapan terbaik dari pembaca lainnya, serta untuk perbaikan ISI dan TAMPILAN blog ini di masa mendatang.