13 Januari 2013

Dua Kali Tes HIV dengan Hasil yang Berdeda


Tanya-Jawab AIDS No 3/Januari 2013

Pengantar. Tanya-Jawab ini adalah jawaban terhadap pertanyaan-pertanyaan yang dikirim melalui surat, telepon, SMS, dan e-mail. Jawaban disebarluaskan tanpa menyebut identitas yang bertanya dimaksudkan agar bisa berbagi informasi yang akurat tentang HIV/AIDS. Yang ingin bertanya, silakan kirim pertanyaan melalui: (1) Surat ke LSM ”InfoKespro”, PO Box 1244/JAT, Jakarta 13012, (2) Telepon (021) 4756146, (3) e-mail aidsindonesia@gmail.com, dan (4) SMS 08129092017. Redaksi.

*****
Tanya: Sepuluh tahun yang lalu saya termasuk orang perilakunya berisiko. Tahun 2009 ketika saya sakit hasil tes HIV negatif. Tahun 2010 saya menerima transfusi darah. Hasil tes sekarang menunjukkan HIV-positif. (1) Kira-kira dari mana saya tertular HIV, perilaku berisiko atau transfusi darah? Tes pertama di sebuah rumah sakit internasional di Banten, transfusi darah di rumah sakit di Banten, sedangkan tes HIV terakhir juga di sebuah rumah sakit di Banten.

Tn ‘xA’, Banten (via SMS, 11/1-2013)

Jawab: Pengalaman Anda ini bisa menjadi pembelajaran untuk yang lain karena tes HIV tidaklah seperti tes penyakit lain. Ada standar prosedur operasi yang baku yang harus dijalani jika hendak tes HIV. Standar itu menjadi kuncik keakuratan hasil tes.

Pertama, tes HIV harus diawali dengan konseling yaitu bimbingan berupa penjelasan tentang HIV/AIDS, tes HIV, hasil tes HIV, perilaku berisko, dll.

Kedua, asas anonimitas yaitu dalam contoh darah tidak ada kode-kode tertentu yang bisa diketahui orang lain kecuali konselor dan dokter.

Ketiga, informed consent yaitu pernyataan berupa persetujuan menjalani tes HIV setelah melalui konseling.

Keempat, konfidensial yaitu asas kerahasisan yang mengharuskan hasil tes hanya diketahui oleh yang tes, konselor dan dokter.

Kelima, tes HIV harus dilengkapi dengan tes konfirmasi. Hasil tes pertama harus diuji dengan tes lain. Misalnya, jika tes pertama dengan ELISA, maka tes konfirmasi dengan tes Western blot. Belakangan WHO (Badan Kesehatan Dunia) menganjurkan konfirmasi tes HIV dengan cara tes HIV dengan ELISA dilakukan tiga kali dengan reagent dan teknik yang berbeda.

Pertanyaan untuk Anda adalah: Apakah hasil tes pertama (2009) diuji dengan tes konfirmasi?

Kalau tes tidak dilakukan sesuai dengan standar yang baku, maka hasil tes tidak bisa dijadikan patokan.

Anda mengatakan menerima transfusi darah tahun 2010. Kemudian hasil tes setelah transfusi darah disebutkan positif. Ini juga perlu dipertanyakan, apakah tes HIV dilakukan sesuai dengan standar yang baku.

Kalau tes kedua dilakukan dengan standar yang baku, maka yang perlu Anda lakukan sekarang adalah bukan lagi mencari-cari dari mana asal HIV yang ada di dalam darah Anda: melalui hubungan seksual pada perilaku berisiko atau transfusi darah.

Dari keterangan Anda ternyata dua kali tes HIV Anda lakukan di rumah sakit yang tidak menjadi rujukan pemerintah untuk tes HIV.

Jika Anda ragu-ragu sebaiknya konsultasi ke Klinik VCT (tempat tes HIV sukarela gratis dengan konseling dan kerahasiaan) di rumah sakit umum di daerah Anda. Di Kota Tangerang dan Kabupaten Tangerang Anda bisa ke RSUD Tangerang atau ke RS Qadr. ***[AIDS Watch Indonesia/Syaiful W. Harahap]***


Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Terimakasih telah berkunjung ke situs AIDS Watch Indonesia.
Silahkan tinggalkan pesan Anda untuk mendapatkan tanggapan terbaik dari pembaca lainnya, serta untuk perbaikan ISI dan TAMPILAN blog ini di masa mendatang.