28 Januari 2013

Di Kota Surabaya Lokasi Pelacuran Ditutup, PSK Jalanan Marak

Tanggapan Berita (29/1-2013) – “Ditutupnya beberapa lokalisasi di Surabaya, membuat prostitusi jalanan kian menjamur. Beberapa kawasan kini mulai didatangi oleh Pekerja Seks Komersial (PSK) jalanan. Salah satunya di Jalan Diponegoro.” Ini lead pada berita ”Lokalisasi Ditutup, Prostitusi Jalanan Kian Banyak” di surabaya.tribunnews.com (19/1-2013).

PSK jalanan itu hanya pelacuran atau prostitusi yang kasat mata yang melibatkan PSK langsung. Sedangkan praktek pelacuran yang terjadi di rumah, kos-kosan, penginapan, losmen, hotel melati, hotel berbintang dan apartemen luput dari perhatian karena tidak bisa dilihat. Ini melibatkan PSK tidak langsung, seperti ‘cewek kafe’, ‘cewek disko’, ‘cewek pub’, ‘mahasiswi’, ‘pelajar’, perempuan pijat-pijat plus, dan ‘cewek panggilan’.

Jika dikaitkan dengan penyebaran HIV/AIDS, maka praktek PSK tidak langsung merupakan faktor pendorong karena mereka tidak terjangkau program pemakaian kondom pada laki-laki yang mengencani mereka. Di Makassar (Sulsel) dan Denpasar (Bali) penyebaran HIV/AIDS didorong oleh PSK tidak langsung karena banyak laki-laki ‘hidung belang’ yang merasa tidak melacur karena mereka tidak melakukannya dengan PSK langsung.

Ini pernyataan Kasat Sabhara, AKBP Iwan Setiawan, banyak PSK yang diamankan di Jalan Diponegoro. ”Kami tidak bisa pastikan, apakah ini dikarenakan banyak lokalisasi yang mulai meredup, sehingga banyak PSK yang pindah ke jalanan.”

Yang bisa dirazia oleh polisi dan Satpol PP hanyalah PSK jalanan, sedangkan PSK tidak langsung tentulah tidak bisa mereka razia.

Apakah Pak Polisi dan Satpol PP bernyali merazia hotel bintang 4 dan 5 serta apartemen mewah?

Ya, bisa saja Pak Polisi dan Satpol PP beralasan di sana tidak ada pelacuran. Ya, kalau pelacur jalanan memang tidak ada, tapi PSK tidak langsung tentulan ada.

Menutup lokasi atau lokalisasi pelacuran tidak menjamin pelacuran akan hilang dari Kota Surabaya karena praktek pelacuran terjadi di sembarang tempat dan sembarang waktu.

Pelacuran yang menyebar luas juga mendorong penyebaran HIV/AIDS yang kelak akan bermuara pada ’ledakan AIDS’. ***[AIDS Watch Indonesia/Syaiful W. Harahap]***

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Terimakasih telah berkunjung ke situs AIDS Watch Indonesia.
Silahkan tinggalkan pesan Anda untuk mendapatkan tanggapan terbaik dari pembaca lainnya, serta untuk perbaikan ISI dan TAMPILAN blog ini di masa mendatang.