27 Januari 2013

AIDS di Kota Medan Mengkhawatirkan karena Tidak Ada Program Penanggulangan yang Konkret

* Kebanggaan Semu Menemukan Kasus HIV/AIDS yang Banyak

Tanggapan Berita (28/1-2013) – Dikatakan, bila dilihat sejak tahun 2006, memang terjadi peningkatan kasus HIV/AIDS di Medan. Hal ini tidak terlepas karena dinas kesehatan, KPA, LSM dan pihak lainnya telah menjalankan program penjaringan kasus, sosialisasi kepada masyarakat. Ini pernyataan Sekretaris Dinas Kesehatan Kota Medan, Mardohar Tambunan, dalam berita “3.410 orang penderita HIV/AIDS di Medan” di waspada.co.id (20/1-2013).

Belakangan ini ada kebanggaan semu di kalangan instansi dan institusi yang terkait dengan HIV/AIDS bahwa penemuan kasus yang banyak merupakan keberhasilan. Ini ibarat ’onani’ karena hanya memuaskan dan memuji diri sendiri karena langkah itu hanya di hilir yang sama sekali tidak menyentuh penanggulangan di hulu.

Artinya, dinas kesehatan, KPA, LSM dan pihak lain hanya menunggu ada dulu penduduk yang tertular HIV/AIDS baru kemudian dideteksi dan dicatat sebagai pengidap HIV/AIDS.

Disebutkan bahwa jumlah penderita HIV/AIDS di Medan semakin mengkhawatirkan yakni mencapai 3.410 orang, dan dari jumlah itu ternyata lebih didominasi kalangan pria.

Yang mengkhawatirkan adalah Pemko Medan tidak mempunyai program yang konkret untuk menanggulangi penularan HIV pada laki-laki, al. melalui hubungan seksual dengan pekerja seks komersial (PSK) pada kegiatan pelacuran.

Celakanya, Perda AIDS Kota Medan pun sama sekali tidak memberikan program yang konkret untuk menanggulangi insiden infeksi HIV baru pada laki-laki dewasa yang melacur (Lihat: Perda AIDS Kota Medan- http://www.aidsindonesia.com/2012/10/perda-aids-kota-medan.html).  

Disebutkan lagi bahwa dari 3.410 kasus HIV/AIDS di Medan kasus didominasi pria yakni 2.573 sedangkan perempuan 837 kasus.

Kalau saja Dinkes Kota Medan dan wartawan yang menulis berita ini membawa data itu ke ranah sosial terkait dengan penyebaran HIV, maka pembahasan adalah mata rantai penyebaran HIV yang dilakukan oleh laki-laki.

Jika 2.573 laki-laki itu beristri, maka ada 2.573 perempuan yang berisiko tertular  HIV. Kalau ada di antara mereka yang beristri lebih dari satu, maka kian banyak perempuan yang berisiko tertular HIV.

Disebutkan oleh Mardohar: “Semakin dikejar kasusnya semakin tinggi, karena itu juga kasus HIV/AIDS seperti fenomena gunung es, yang hanya nampak dipermukaan tetapi di dalamnya masih banyak yang belum ditemukan.” 

Pertanyaan untuk Mardohar: Apa langkah konkret yang dilakukan instansi Anda untuk mendeteksi kasus HIV pada masyarakat yang digambarkan sebagai bongkahan es pada fenonema gunung es?

Tentu saja tidak ada!

Kalau Mardohar ditanya apakah di Kota Medan ada pelacuran, dia pun akan membusungkan dada dan mengatakan: Di Kota Medan tidak ada pelacuran!

Mardohar benar. Tapi, tunggu dulu Pak Ketua: Yang tidak ada adalah lokalisasi pelacuran yang ditangani oleh dinas sosial.

Sedangkan praktek pelacuran terjadi di sembarang tempat dan sembarang waktu.

Disebutkan lagi Kota Medan sudah mempunyai peraturan Wali Kota tentang HIV/AIDS dan saat ini sedang dilakukan pembahasan membuat petunjuk teknisnya.

Perda AIDS Kota Medan saja tidak mempunyai program yang konkret untuk menanggulangi HIV/AIDS, lalu bagaimana bisa peraturan akan menjabarkan perda itu?

Disebutkan pula bahwa bagi yang mau menikah diharapkan untuk memeriksakan dirinya.

Duh, tes HIV bagi yang mau menikah hanyalah pekerjaan sia-sia. Menggantang asap.

Pertama, ada masa jendela yang memungkinkan terjadi hasil tes HIV yang negatif palsu (HIV sudah ada di dalam darah tapi tidak terdeteksi karena belum ada antibody HIV) atau positif palsu (HIV tidak ada di dalam darah tapi tes reaktif).

Kedua, tes HIV bukan vaksin dan hasil negatif hanya berlaku saat darah diambil. Bisa saja setelah tes ybs. melakukan perilaku berisiko sehingga tertular HIV.

Ketiga, surat keterangan ’bebas HIV/AIDS’ yang dipegang pasangan tsb. bisa jadi bumerang kalau salah satu terdeteksi HIV akan ngotot bahwa dirinya ’bebas HIV/AIDS’ berdasarkan surat yang dipegangnya.

Kasus HIV/AIDS yang terdeteksi pada 66 anak berusia di bawah 10 tahun membuktikan ibu mereka tertular HIV dari suaminya.

Sayang, dalam berita tidak dijelaskan apakah suami ibu-ibu yang melahirkan anak dengan HIV/AIDS itu sudah menjalani tes HIV. Kalau suami-suami itu belum tes HIV, maka mereka akan menjadi mata rantai penyebaran HIV/AIDS di masyarakat, al. melalui hubungan seksual tanpa kondom di dalam dan di luar nikah.

Yang diperlukan adalah langkah konkret berupa intervensi yaitu program yang mewajibkan laki-laki ’hidung belang’ memakai kondom setiap kali melacur. Tanpa program ini, kasus HIV/AIDS pada ibu rumah tangga akan terus terdeteksi karena suami mereka melacur tanpa kondom di Kota Medan atau di luar Kota Medan. Pemko Medan tinggal menunggu waktu saja untuk ’panen AIDS’. ***[AIDS Watch Indonesia/Syaiful W. Harahap]***

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Terimakasih telah berkunjung ke situs AIDS Watch Indonesia.
Silahkan tinggalkan pesan Anda untuk mendapatkan tanggapan terbaik dari pembaca lainnya, serta untuk perbaikan ISI dan TAMPILAN blog ini di masa mendatang.