27 Januari 2013

AIDS di Bali, Tanpa Lokalisasi Pelacuran Program Kondom Tidak Akan Jalan


Tanggapan Berita (28/1-2013) – “ …. hingga saat ini belum ada aturan yang tegas berkaitan dengan keharusan penggunaan kondom pada setiap transaksi seksual di kalangan pekerja seks komersial (PSK). Hal seperti ini yang menyebabkan penularan melalui jalur heteroseksual masih sangat tinggi.” Ini disampaikan oleh Ketua Kelompok Kerja (Pokja) Penanggulangan HIV Komisi Penanggulangan AIDS (KPA) Bali, Prof Dr Dewa Wirawan dalam berita “Penanganan HIV/AIDS di Bali Terhambat Aturan” (tempo.co, 19/1-2013).  

Fakta yang disampaikan Prof Wirawan itu adalah realitas terkait dengan penanggulangan HIV/AIDS, terutama melalui hubungan seksual dengan pekerja seks komersial (PSK) pada pelacuran. Tidak ada satu pun aturan yang konkret di Indonesia yang merupakan intervensi program untuk memaksa laki-laki ‘hidung belang’ memakai kondom.

Lebih celaka lagi di semua peraturan daerah (Perda) tentang penanggulangan dan pencegahan HIV/AIDS tidak ada pelacuran. Yang ada adalah ‘tempat yang memungkinkan terjadi penularan HIV/AIDS’. Ini bentuk kemunafikan karena tidak ada satu daerah pun di neger ini yang tidak ada praktek pelacuran. Yang tidak ada adalah lokalisasi pelacuran yang ditangani pemerintah daerah melalui dinas sosial. Sedangkan praktek pelacuran terjadi di sembarang tempat dan sembarang waktu.

Di Bali, misalnya, dari tujuh perda dan satu perwali sama sekali tidak ada satu pun pasal yang memberikan cara yang konkret untuk mencegah penularan HIV (Lihat Tabel I).

Terkait dengan pencegahan HIV/AIDS melalui pelacuran sama sekali tidak ada cara pemantauan yang sistematis untuk menjalakan program pemakaian kondom pada laki-laki yang melacur. Dari tujuh perda dan satu perwali hanya dua yang dengan eksplisit menyebut kondom (Lihat Tabel II).

Kasus kumulatif HIV/AIDS dilaporkan mencapai 6.971. Penularan melalui hubungan seksual pada heteroseksual mencapai 75,80 persen atau 5.284 kasus.

Biar pun fakta sudah berbicara, tapi tetap saja pemerintah provinsi, kota dan kabupaten di Bali mengabaikan perilaku laki-laki yang melacur tanpa kondom.

Padahal, ada perda dan perwali itu yang secara implisit mengakui ada praktek pelacuran, tapi tidak menjalankan program berupa intervensi untuk mewajibkan laki-laki memakai kondom kalau melacur (Lihat Tabel III).

Tingkat pemakaian kondom pada laki-laki yang melacur di Bali dikabarkan hanya 30 persen, sedagnkan standar Badan Kesehatan Dunia (WHO) menyebutkan 80 persen. Maka, penyebaran HIV melalui laki-laki yang tertular HIV karena melacur tanpa kondom dengan PSK akan terus terjadi di Bali.

Menurut Prof Wirawan dalam Perda N0 3 Tahun 2006 tentang Penanggulangan HIV/AIDS di Bali semestinya bersifat tegas yang disertai ancaman sanksi apabila keharusan penggunaan kondom dilanggar. Bahkan, peraturan tersebut harus lebih ditujukan kepada pemilik usaha prostitusi, bukan kepada PSK. Sebab, posisi PSK tergantung bosnya.

Perda-perda AIDS di Bali memang sama sekali tidak mempunyai langkah yang konkret dan sistematis untuk menerapkan aturan pemakaian kondom pada laki-laki yang melacur. Lagi pula biar pun ada tentu saja tidak efektif karena di Bali pelacuran tidak dilokalisir sehingga tidaklah mungkin menjangkau semua laki-laki yang melacur di berbagai tempat dan terjadi setiap waktu (Lihat: Perda AIDS Provinsi Bali-http://www.aidsindonesia.com/2012/11/perda-aids-provinsi-bali.html).


Masih menurut Prof Wirawan, harus ada ketentuan yang mengatur agar para bos PSK memastikan anak buahnya menggunakan kondom saat melayani tamunya.

Tanpa ada lokalisasi pelacuran, maka program wajib kondom bagi laki-laki yang melacur tidak akan efektif. Padahal, Thailand sudah membuktikan penurunan insiden infeksi HIV baru pada laki-laki yang melacur melalui program ’wajib kondom 100 persen’. Program ini efektif diterapkan pada lokalisasi pelacuran dan rumah bordil.

Maka, selama pemerintah provinsi, kabupaten dan kota di Bali tetap memakai tameng kemunafikan dalam mengatasi pelacuran, maka selama itu pula insiden infeksi HIV baru terus terjadi yang akan menjadi ’bom waktu’ ledakan AIDS di Pulau Dewata itu. ***[AIDS Watch Indonesia/Syaiful W. Harahap]***

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Terimakasih telah berkunjung ke situs AIDS Watch Indonesia.
Silahkan tinggalkan pesan Anda untuk mendapatkan tanggapan terbaik dari pembaca lainnya, serta untuk perbaikan ISI dan TAMPILAN blog ini di masa mendatang.