01 Januari 2013

Ada Warga Magetan Menolak Kondom di Lokalisasi Pelacuran


Tanggapan Berita (2/1-2013) – Aksi pembagian 3.600 paket kondom Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Magetan, Jawa Timur, kepada para Pekerja Seks Komersial (PSK) di lokalisasi Mundusari mendapat protes keras dari warga. Ini lead pada berita ”Dianggap Menyuburkan Budaya Seks. Bagikan Kondom di Lokalisasi, Dinkes Magetan Diprotes Warga” di  www.lensaindonesia.com (21/12-2012).

Disebutkan bahwa sejumlah warga melihat langkah Dinkes tersebut malah akan menyuburkan budaya seks di kawasan lokalisasi pelacuran.

Ini menunjukkan pemahaman yang tidak komprehesif pada warga yang diwawancarai wartawan. Kalau memang warga ingin agar tidak ada (lokalisasi) pelacuran, maka yang perlu dilakukan oleh warga adalah mengajak semua laki-laki dewasa agar tidak ada (lagi) yang melacur bukan memprotes pembagian kondom.

Jika laki-laki dewasa yang melacur tidak memakai kondom, maka laki-laki itu menjadi jembatan penyebaran HIV/AIDS dari masyarakat ke pekerja seks dan sebaliknya. Kasus HIV/AIDS yang terdeteksi pada ibu-ibu rumah tangga membuktikan ada suami yang melacur tanpa kondom.

Disebutkan oleh Mohamad Zulkifli, 35 tahun, warga Desa Malang, Kecamatan Maospati, Magetan: “Gubernur kan sudah jelas mengatakan semua lokalisasi di Jatim harus ditutup. Termasuk Madusari ini. Tapi kok malah dikasih kondom. Ini namanya justru menuyuburkan budaya seks.”

Tidak jelas apa yang dimaksud Zulkifli sebagai ’budaya seks’. Tanpa bagi-bagi kondom pun perilaku sebagian laki-laki, termasuk yang sudah beristri, tetap saja ada yang gemar melacur. Nah, jika mereka melacur tanpa kondom maka penyebaran HIV/AIDS akan terjadi di masyarakat.

Sedangkan L, 40 tahun, salah seorang pekerja seks di lokalisasi itu, mengatakan pemberian kondom serta suntikan pencegah penularan HIV/AIDS rutin dilakukan tiga bulan sekali.

Ini perlu diluruskan karena tidak ada suntikan yang bisa mencegah penularan HIV/AIDS. Belum ada vaksin HIV sehingga tidak ada suntikan yang bisa mencegah HIV/AIDS.

Sayang, wartawan tidak bertanya lebih jauh siapa yang biasanya menyuntik PSK dan apa obat yang disuntikkan.

Biar pun sudah ada kondom, ”Tapi jarang tamu yang mau pakai kondom. Katanya ribet,” kata L.

Maka, tidaklah mengherankan kalau kemudian akan terus ada ibu rumah tangga di Magetan yang terdeteksi mengidap HIV/AIDS. ***[AIDS Watch Indonesia/Syaiful W. Harahap]***

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Terimakasih telah berkunjung ke situs AIDS Watch Indonesia.
Silahkan tinggalkan pesan Anda untuk mendapatkan tanggapan terbaik dari pembaca lainnya, serta untuk perbaikan ISI dan TAMPILAN blog ini di masa mendatang.