22 Januari 2013

289 Ibu Rumah Tangga di NTT Tertular HIV dari Suami


Tanggapan Berita (23/1-2013) – “Suami Suka ‘Jajan’, Ratusan Istri di NTT Terinveksi HIV/AIDS.” Ini judul berita di kompas.com (16/1-2013).

Yang menjadi pertanyaan besar adalah: kalau yang dimaksud dengan “jajan” adalah melacur, maka di mana terjadi pelacuran?

Soalnya, tidak daerah yang mengakui lokalisasi pelacuran melalui regulasi yang dikendalikan oleh dinas sosial.

Maka, kemungkinan yang terjadi adalah ada prraktek pelacuran di tempat-tempat tertentu, seperti lokasi atau pun tempat-tempat hiburan malam.

Disebutkan bahwa “Kaum ibu rumah tangga ini kebanyakan tersebar di desa dan kampung-kampung terpencil. Kaum pria yang suka berganti-ganti pasangan di desa-desa itu belum sadar menggunakan kondom atau kondom tidak tersedia sampai pelosok.”

Pernyataan dalam berita ini mengesankan laki-laki yan suka berganti-ganti pasangan bukan dengan pekerja seks komersial (PSK). Artinya, laki-laki berganti-ganti pasangan di komunitas mereka sendiri.

Tapi, di bagian lain disebutkan: Mereka (ibu-ibu rumah tangga-pen.) diduga mendapatkan virus itu dari sang suami yang suka "jajan" di luar.

Kian tidak jelas apakah penyubaran HIV terjadi karena ganti-ganti pasangan di komunitas, atau karena disebarkan oleh laki-laki yang tertular HIV karena ‘jajan’ di luar. Di sini pun tidak jelas yang dimaksud dengan ‘di luar’.

Apakah yang dimaksud dengan ‘di luar’ adalah di luar rumah tapi dalam komunitas atau di luar rumah di luar komunitas.

Disebutkan bahwa kasus kumulatif HIV/AIDS di Nusa Tenggara Timur (NTT) sampai November 2012 mencapai 1.918. Kasus HIV/AIDS  yang terdeteksi pada ibu rumah tangga mencapai 289, serta 82 kasus pada balita.

Pernyataan Staf KPAP NTT, Gusti Brewon, ini menguatkan perilaku suami ibu-ibu yang terdeteksi mengidap HIV, yaitu:  "Mereka terinveksi dari orangtuanya. Kemungkinan dari ayah yang suka berganti pasangan."

Itu artinya ada praktek pelacuran, maka pertanyaan untuk Gusti Brewon adalah: Apa langkah konkret KPAP NTT untuk mencegah penularan HIV pada laki-laki yang ”jajan”?

Dalam berita tidak dijelaskan apakah suami dari 289 ibu rumah tangga itu sudah menjalani tes HIV. Soalnya, kalau mereka belum tes HIV, maka mereka tidak menerima konseling sehingga ada kemungkinan mereka menjadi mata rantai penyebaran HIV di masyarakat, al. melalui hubungan seksual tanpa kondom di dalam dan di luar nikah.

Disebutkan bahwa KPAP NTT dan kabupaten sedang mendorong kerja sama dan penguatan kapasitas, jaringan ODHA, LSM, dan lainnya untuk menangani masalah ini. Peningkatan penggunaan kondom sebagai salah satu upaya menekan laju perkembangan virus itu bagi mereka yang hidup dengan seks berisiko.

Lagi-lagi pertanyaannya adalah: Kalau di NTT pelacuran tidak dilokalisir, maka bagaiman menjangkau laki-laki yang melacur untuk memaksa mereka memakai kondom?

Bagaimana KPA, jaringan Odha, LSM, dll. mengetahui ada laki-laki dewasa yang, maaf, memakai penisnya dalam hubungan seksual tanpa kondom dengan perempuan yang berganti-ganti atau dengan perempuan yang sering berganti-ganti pasangan?

Celakanya, Perda AIDS Prov NTT pun sama sekali tidak memberikan langkah yang konkret untuk menanggulangi penyebaran HIV/AIDS di NTT (Lihat: Perda AIDS Provinsi NTT-http://www.aidsindonesia.com/2012/08/mengukur-peran-perda-penanggulangan.html).

Tanpa langkah yang konkret berupa program ’wajib kondom 100 persen’ bagi laki-laki ’hidung belang’, maka penyebaran HIV/AIDS di NTT akan terus terjadi yang kelak bermuara pada ’ledakan AIDS’. ***[AIDS Watch Indonesia/Syaiful W. Harahap]***

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Terimakasih telah berkunjung ke situs AIDS Watch Indonesia.
Silahkan tinggalkan pesan Anda untuk mendapatkan tanggapan terbaik dari pembaca lainnya, serta untuk perbaikan ISI dan TAMPILAN blog ini di masa mendatang.