17 Desember 2012

Pernikahan, Momok bagi Odha

Liputan (18/12-2012) – ‘Menikah’ ternyata tidak membuat semua orang bahagia. Bahkan, ada yang tidak bisa mengimpikannya karena membuat mereka ketakutan dan menjadi momok. Setidaknya itulah yang dirasakan beberapa Orang dengan HIV/AIDS (Odha) ketika dipaksa menikah oleh orang tuanya.

Ketika orang tuanya memintanya untuk segera menikah, S, 35 tahun, salah seorang Odha yang tinggal  di salah satu kota di Sulawesi Selatan (Sulsel), terhenyak. Kata itu bagaikan bom yang meledak di gendang telinganya. “Bagaimana mungkin tawaran untuk menikah kuterima sedangkan saya mengidap HIV/AIDS,”  katanya dengan berurai air mata. Dia mengaku tidak mau menularkan virus pada orang lain, apalagi perempuan yang akan menjadi istrinya. Maka, setiap kali diminta menikah saya dia selalu menolak.

S mengatakan bahwa banyak hal yang dia pertimbangkan sehingga menolak keinginan orang tuanya yang ingin menjodohkannya dengan anak keluarga atau kenalan orang tuanya. S tidak ingin menularkan HIV pada orang lain. Takut jika suatu hari nanti  istrinya atau orang lain tahu status dirinya. Dia juga mengakut takut jika anaknya kelak tertular HIV. S ketakutan menikah karena melihat kematian sahabatnya karena dihantui rasa bersalah pada istrinya yang meninggal karena penyakit terkait HIV/AIDS. Anak sahabatnya itu pun yang berusia sebulan terdeteksi HIV/AIDS. Ini juga membuat S ketakutan.

Hal yang sama juga dirasakan T, 36 tahun, ibu dua anak yang terpapar HIV setelah suaminya meninggal tahun 2006 dengan status HIV. Perempuan cantik yang tinggal di salah satu kota di Sulsel ini juga dipaksa menikah dengan seorang duda oleh orang tuanya. Pada hari pernikahannya, T berontak dan melarikan diri karena tidak ingin menularkan HIV kepada laki-laki yang akan jadi suaminya.

Namun, pernikahan tetap juga berlangsung setelah ia ditemukan keluarganya di tempat persembunyiannya. “Saya sangat takut bila suamiku kelak tertular HIV dariku. Dia tidak tahu apa-apa,” kata T sambil menahan tangis. Tapi, T sendiri mengaku tidak berani mengatakan dengan jujur pada orang tuanya atau suaminya bahwa dia mengidap HIV/AIDS. Padahal, dia tertular HIV dari suaminya.

Sejak dia menerima hasil tes HIV di sebuah klinik VCT Sulsel tahun 2006, T menutup rapat-rapat status HIV-nya kepada keluarganya juga pada dua anak gadisnya yang kini sudah duduk dibangku SMU dan SMP. Ia tidak mau keluarganya tahu status HIV-nya. Dia pun mengaku takut diusir dari kampung karena dianggap pembawa penyakit menular jika dia membeberkan status HIV-nya. “Distrikriminasi akan kuterima jika status HIV-ku diketahui orangtuaku,” ujarnya.

Kendati telah ditawari konseling bagi orang tua, anak dan suaminya, tapi T selalu menolak dengan alasan belum siap. Berbeda dengan S, orang tuanya justru tahu status HIV-nya namun tetap nekat memaksa anaknya menikah dengan alasan tidak ingin anaknya jadi cemohoan keluarga dan masyarakat karena menjadi perjaka tingting.

S telah berupaya memberikan penjelasan pada orang tuanya supaya tidak memaksanya untuk menikah, tapi mereka tidak mau mengerti. Akhirnya, S meminta pindah kerja ke provinsi Sulbar supaya tidak sering bertemua istrinya. Dengan berbagai alasan S memilih selalu menggunakan kondom. “Saya memilih menggunakan kondom setiap kali melakukan hubungan seksual daripada dihinggapi rasa sesal tak berujung,” kata S yang telah meminum obat antiretrorival (ARV) sejak Agustus 2008.

Dan kini, hal yang sama juga dialami oleh W, 26 tahun, yang tinggal di sebuah kota di Sulsel. Setelah orang tunya menyampaikan kabar bahwa ia akan dinikahkan setelah menjalani hukuman penjara karena memakai shabu-shabu, pikirannya kacau. Ia sering menangis dan termenung memikirkan bagaimana caranya menyampaikan pada calon istrinya bahwa ia tertular virus HIV. “Ini yang ketiga kalinya orang tuaku akan menikahkanku. Selama ini saya selalu menolak karena tidak mau menularkan virus pada orang lain, cukuplah saya yang tertular virus HIV,” kata W.

Menurut W, orang tuanya sudah melamar perempuan yang akan menjadi calon istrinya dan mahar pun sudah dibicarakan. Itu yang membuatnya tidak sanggap lagi menolak, tidak seperti pada rencana pernikahan sebelumnya. Ia berhasil menggagalkannya karena menemui calon istrinya sambil membawa obat ARV untuk meyakinkan calon istrinya tentang status HIV-nya. W sudah meminum ARV sejak Mei 2008.

“Saya sama sekali tidak mengerti dengan pikiran orang tuaku yang memaksaku menikah padahal mereka tahu status HIV-ku,” kata W dengan nada heran. Hanya dengan alasan malu punya anak bujang lapuk mereka memaksa W menikah tanpa mau tahu bagaimana beban penderitaannya akibat dihantui rasa bersalah dan berdosa jika akhirnya istrinya kelak tertular HIV.

W berjanji  jika dirinya tidak berhasil menggagalkan pernikahan setelah menjalani hukuman penjara pada tahun depan, dia akan meminta pendampingnya untuk memberikan konseling kepada calon istrinya. Baginya, lebih baik gagal menikah daripada dihantui perasaan bersalah dan berdosa sepanjang hidupnya. ***[AIDS Watch Indonesia/Santiaji Syafaat-dari Kota Parepare, Sulsel]***

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Terimakasih telah berkunjung ke situs AIDS Watch Indonesia.
Silahkan tinggalkan pesan Anda untuk mendapatkan tanggapan terbaik dari pembaca lainnya, serta untuk perbaikan ISI dan TAMPILAN blog ini di masa mendatang.