20 Desember 2012

Melindungi Perempuan dari HIV/AIDS Tanpa Program yang Konkret

Liputan (21/12-2012) - Tema Hari AIDS Sedunia (HAS) tahun ini, ”Lindungi Perempuan dan Anak” yang diperingati 1 Desember ’menyentuh’ nurani perempuan. Istri tertular HIV dari suami, selanjut istri menularkan HIV pula kepada bayi yang dikandungnya. Padahal, apa salah mereka sebagai perempuan? Mereka hanyalah ibu rumah tangga yang mengurus suami dan anak.

Tema HAS ini mengingatkanku pada salah seorang teman yang menangis sesunggukan ketika tahu istrinya yang baru melahirkan terdeteksi mengidap HIV/AIDS. Laki-laki itu bergumam: “Andai saja saya tahu bagaimana penularan HIV dan tahu statusku, saya takkan pernah menikah. Saya takkan pernah menularkan virusku pada orang lain apalagi pada perempuan yang sangat kucintai. Tapi, akh …. mengapa status HIV-ku baru kuketahui justru ketika menjelang ajal menjemput istriku? Ketika anakku yang baru dilahirkan dalam kondisi lemah dengan jamur di mulut.”

Beberapa laki-laki lain yang tahu status HIV-nya setelah menikah dan hasil tes istrinya positif, umumnya mengungkapkan rasa penyesalan dan rasa berdosa. Padahal, tak ada yang perlu disesalkan. Perasaan berdosa dan bersalah justru menjadi beban yang akan membuat kondisi kesehatan jelek. Perilaku berisiko, seperti melacur tanpa kondom atau memakai narkoba dengan jarum suntik bergantian, mereka lakukan karena tidak mengetahui akibatnya. Ini, al. terjadi karena  informasi HIV/AIDS yang tidak memasyarakat.

Maka, belakangan ini kasus HIV dan AIDS di Indonesia justru banyak terdeteksi pada ibu rumah tangga. Nah, apa yang salah dengan perempuan?

Tidak ada yang salah. Yang salah adalah ketidak-pedulian suami mereka terkait dengan perilaku suami-suami yang berisiko. Banyak laki-laki yang beranggapan bahwa HIV hanya ada pada pekerja seks komersial (PSK), waria dan laki-laki homoseksual. Laki-laki enggan menggunakan kondonm bila ganta-ganti pasangan seks dan melacur dengan dalih tidak enak dan tidak jantan. Atau dengan dalih karena sudah membayar untuk apa pakai kondom.

Ketidak-pedulian laki-laki terhadap penualaran HIV mungkin juga karena program penanggulangan HIV dan AIDS selama ini lebih banyak pada PSK, waria dan pengguna narkoba suntik.

Laki-laki berisiko, atau pelanggan PSK belum maksimal terjangkau, mereka sangat sulit untuk dijangkau. Laki-laki kurang peduli terhadap informasi HIV dan AIDS. Mereka selalu merasa bersih dan tidak mungkin tertular HIV, maka istri dan anak-anak mereka yang menjadi korban.

Padahal, dengan ganta-ganti pasangan seksual dan melacur tanpa kondom rentan tertular HIV. Istri yang setia menunggu di rumah akan tertular HIV dari suami. Jika hamil dan melahirkan ada kemungkinan anaknya juga akan tertular HIV. Oleh karena itu, program HIV dan AIDS bagi laki-laki berisiko sudah sangat perlu dilakukan jika kita ingin melindungi perempuan dan anak.

Seperti halnya di Kabupaten Sidenreng Rappang, Sulsel, sejak tahun 2008 sampai Desember 2012 dari 57 kasus HIV dan AIDS, kasus pada PSK dan waria hanya 4, pengguna narkoba dan pasangan 24, selebihnya penduduk 27 dan 2 anak. Data ini menunjukkan bahwa yang terinfeksi HIV justru lebih banyak dari kalangan masyarakat, seperti suami dan istri tertular dari suaminya.

Ketika kondom ditawarkan untuk mencegah penularan HIV lewat hubungan seksual yang berisiko, seperti berganti-ganti pasangan dan melacur, masyarakat beranggapan bahwa langkah itu melegalkan porstitusi. Menyuruh orang melakukan zina. Padahal, hanya dengan kondomlah penularan HIV bisa dicegah pada hubungan seksual dengan pasangan yang berganti-ganti atau melacur.

Sayangnya, tidak ada program yang konkret untuk melindungi perempuan dari risiko tertular HIV. ***[AIDS Watch Indonesia/Santy Syafaat dari Parepare, Sulsel]***

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Terimakasih telah berkunjung ke situs AIDS Watch Indonesia.
Silahkan tinggalkan pesan Anda untuk mendapatkan tanggapan terbaik dari pembaca lainnya, serta untuk perbaikan ISI dan TAMPILAN blog ini di masa mendatang.