22 Desember 2012

Di Kota Ambon Menanggulangi AIDS dengan Memeriksa Anak Jalanan


Tanggapan Berita (23/12-2012) - Sekretaris Kota Ambon Tonny Latuheru mengatakan pemerintah kota (pemkot) Ambon melakukan pencegahan dini penularan HIV/AIDS melalui pemeriksaan bagi anak-anak jalanan. Sehingga apabila dalam pemeriksaan nanti ada kedapatan atau terindikasi terjangkit, maka akan dilakukan langkah penanganan secara cepat dan tepat (Cegah HIV/AIDS, Pemkot Ambon Periksa Anak Jalanan, www.beritasatu.com, 27/11- 2012).

Dikabarkan bahwa sejak Januari-Oktober 2012 83 kasus baru HIV/AIDS terdeteksi di Kota Ambon, Prov Maluku, sehingga jumlah kumulatif sejak sejak tahun 1996 sampai Oktober 2012 tercatat 935.

Langkah Pemkot Ambon itu mengesankan penyebaran HIV/AIDS di Kota Ambon dilakukan oleh anak jalan.

Itu tidak masuk akal karena penyebaran HIV justru dilakukan oleh laki-laki dewasa yang dalam kehidupan sehari-hari bisa sebagai seorang suami.

Pertama, ada laki-laki yang menularkan HIV kepada pekerja seks komersial (PSK).

Kedua, ada laki-laki yang tertular HIV dari PSK.

Laki-laki yang menularkan HIV kepada PSK dan laki-laki yang tertular HIV dari PSK menjadi mata rantai penyebaran HIV di masyarakat, al. melalui hubungan seksual tanpa kondom di dalam dan di luar nikah.

Yang menjadi pertanyaan untuk Tonny adalah: Apakah di Kota Ambon ada pelacuran?

Kita bisa menebak Tonny akan berujar lantang: Tidak ada!

Tonny benar. Tapi, tunggu dulu. Yang tidak ada adalah lokalisasi pelacuran yang ’resmi’, artinya ditangani oleh dinas terkait, dalam hal ini dinas sosial.

Tapi, praktek pelacuran ada di sembarang tempat dan sembarang waktu.

Persoalannya adalah praktek pelacuran yang terjadi di banyak tempat itu tidak bisa dijangkau untuk memaksa laki-laki ’hidung belang’ memakai kondom ketika melakukan hubungan seksual dengan PSK.

Akibatnya, laki-laki ’hidung belang’ yang dalam hal ini sebagai suami menjadi jembatan penyebaran HIV dari masyarakat (dia sendiri) ke PSK dan dari PSK ke masyarakat, al. ke istri.

Disebutkan oleh Tonny: “Anak-anak jalanan sangat berpotensi terkena HIV/AIDS karena mereka sehari-hari berada di luar rumah. Ada teman yang ajak dan mereka tidak tahu bahwa teman tersebut mengidap HIV/AIDS. Akibat ajakan itu mereka juga bisa tertular.”

Kalau penyebaran HIV hanya terjadi di antara mereka tentu tidak ada masalah bagi masyarakat.

Lalu, mengapa anak-anak jalanan itu dianggap sebagai mata rantai penyebaran HIV?

Itu yang jadi pertanyaan.

Disebutkan pula bahwa untuk mencegah penularan HIV/AIDS, pemerintah Kota Ambon bekerja sama dengan Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) melakukan pemeriksaan darah terhadap anak jalanan yang keseharian beraktiviktas di kawasan pasar Mardika dan Batu Merah.

Pernyataan di atas dikesankan anak-anak jalanan itu menjadi mata rantai penyebaran HIV ke masyarakat. Koq bisa? Nah, itu yang tidak muncul dalam berita ini.

Tonny membenarkan bahwa pihaknya bersama LSM berupaya keras untuk mencegah penularan HIV/IADS dengan melakukan sosialisasi di tempat-tempat hiburan malan seperti karaoke, pub dan kafe, Lapas Rutan dan anak-anak jalanan.

Untuk apa sosialisasi ke tempat-tempat hiburan malam kalau di sana tidak ada transaksi seks?

Tapi, dari pernyataan tsb. terbuktilah bahwa di tempat-tempat hiburan malam ada transaksi seks. Hubungan seksual di tempat-tempat hiburan itu bisa berisiko terjadi penularan dari pengunjung (laki-laki) ke perempuan yang menjadi pekerja seks dan sebaliknya.

Kalau yang dilakukan hanya sebatas sosialisasi itu tidak ada gunanya karena tidak bisa dipastikan laki-laki yang melakukan hubungan seksual di tempat-tempat hiburan malam itu memakai kondom.

Yang diperlukan adalah intervensi yang konkret berupa program yang bisa memaksa laki-laki memakai kondom setiap kali melakukan hubungan seksual dengan pekerja seks di tempat-tempat hiburan malam tsb.

Jika Pemkot Ambon tidak mempunyai program yang konkret dan sistematis untuk menanggulangi penyebaran HIV, maka kasus-kasus yang terjadi di masyarakat akan menjadi ’bom waktu’ untuk ledakan AIDS.
***[AIDS Watch Indonesia/Syaiful W. Harahap]***

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Terimakasih telah berkunjung ke situs AIDS Watch Indonesia.
Silahkan tinggalkan pesan Anda untuk mendapatkan tanggapan terbaik dari pembaca lainnya, serta untuk perbaikan ISI dan TAMPILAN blog ini di masa mendatang.