15 Desember 2012

28 Ibu Rumah Tangga di Kota Mataram, NTB, Mengidap HIV/AIDS

* Program KPA Kota Mataram ada di hilir pada penyebaran HIV/AIDS

Tanggapan Berita (16/12-2012) – “Bahkan yang lebih mencengangkan lagi, virus tersebut juga sudah menjangkiti kalangan ibu rumah tangga (IRT). Data yang dirilis Komisi Penanggulangan AIDS (KPA) Kota Mataram menyebutkan, tercatat 28 ibu rumah tangga yang menderita HIV/AIDS. Rinciannya, 14 kasus HIV dan 14 kasus AIDS.” Ini pernyataan dalam berita “28 IRT Terjangkit HIV AIDS” di www.jpnn.com, (2/12-2012).

Dikabarkan kasus kumulatif HIV/AIDS di Kota Mataram, Prov Nusa Tenggara Barat (NTB) sampai Oktober 2012 tercatat 256 yang terdiri atas 133 HIV dan 123 AIDS.

Yang mencegangkan bukan kasus HIV/AIDS yang terdeteksi pada ibu rumah tangga, tapi (masih) ada saja suami yang melakukan hubungan seksual tanpa kondom, al. dengan pekerja seks komersial (PSK). Suami-suami yang tertular HIV itu kemudian menuarlan HIV kepada istrinya. Pada gilirannya jika istri-istri itu tertular HIV, maka ada pula risiko penularan HIV dari-ibu-ke-bayi yang dikandungnya kelak.

Menurut Sekretaris KPA Kota Mataram, Margaretha Cephas, terpaparnya ibu rumah tangga oleh virus HIV/AIDS disebabkan karena suami yang tidak terbuka dan tidak mengaku mengidap HIV/AIDS.
Kasusnya baru terungkap setelah istrinya memeriksakan kehamilan.

Pernyataan Rita ini tidak akurat karena banyak orang, termasuk suami-suami yang menularkan HIV kepada istrinya, tidak menyadari diri mereka sudah mengidap HIV/AIDS karena tidak ada tanda-tanda yang khas AIDS pada fisik mereka.

Soalnya, materi dalam komunikasi, informasi dan edukasi (KIE) tentang HIV/AIDS tidak akurat karena hanya mengedepankan moral. Misalnya, menyebutkan bahwa HIV menular melalui zina dan pekerja seks komersial (PSK) di lokalisaasi pelacuran.

Celakanya, di Kota Matara tidak ada lokalisasi pelacuran sehingga banyak laki-laki ‘hidung belang’ yang merasa tidak berisiko tertular HIV karena mereka tidak melacur dengan PSK di lokalisasi pelacuran. Banyak di antara mereka yang melacur dengan PSK tidak langsung, seperti cewek cafĂ©, perempuan pemijat, cewek diskotek, cewek panggilan, dll.

Itulah risiko yang terjadi jika informasi dalam KIE tidak akurat.

Masih menurut Rita: "Seharusnya (ibu rumah tangga, Red) tidak sendiri diperiksa kesehatannya.
Pasangannya juga harus konseling dan ikut tes dan pengobatan."

Pertanyaan untuk Rita: Mengapa KPA tidak melakukan konseling pasangan?

Jika suami dari 28 ibu rumah tangga yang terdeteksi HIV/AIDS itu tidak menerima konseling, maka mereka menjadi mata rantai penyebaran HIV di masyarakat, terutama melalui hubungan seksual tanpa kondom di dalam dan di luar nikah.

Bisa saja 28 suami itu menularkan HIV kepada PSK, selanjutnya ada laki-laki yang tertular HIV dari PSK (Lihat Gambar). 

Disebutkan oleh Rita: "Bidan itu harus tahu pencegahan terhadap HIV/AIDS, karena pintu masuknya melalui pelayanan kesehatan ibu dan anak, baik di puskesmas, posyandu, maupun polindes."

Persoalannya adalah bagaimana bidan bisa mengetahui ibu hamil mengidap HIV/AIDS?

Soalnya, dalam Perda AIDS Prov NTB sama sekali tidak ada pasal yang mengatur soal mekanisme untuk mendeteksi HIV/AIDS pada perempuan hamil (Lihat: Menyorot Kinerja Perda AIDS NTB* - http://www.aidsindonesia.com/2012/11/menyorot-kinerja-perda-aids-ntb.html). 

Disebutkan bahwa kasus ibu rumah tangga yang terpapar HIV/AIDS tetap menjadi perhatian khusus KPA Kota Mataram. Semakin banyak kasus yang ditemukan justru semakin bagus.

Persoalannya adalah kalau hanya menemukan kasus itu artinya KPA Kota Mataram hanya bergerak di hilir pada penyebaran HIV/AIDS. Artinya, KPA menunggu ada dulu ibu rumah tangga yang tertular HIV dari suaminya baru kemudian ditanggani.

Dikabarkan wartawan media cetak dan elektronik di Kota Mataram diundang untuk mengikuti Sosialisasi Penghapusan Stigma dan Diskriminasi Terhadap Odha (Orang dengan HIV/AIDS). Menurut Rita sosialisasi bertujuan untuk memberikan pemahaman dan pengetahuan bagi wartawan tentang penghapusan stigma terhadap Odha.

Stigma dan diskriminasi terjadi di hilir yaitu setelah ada yang tertedeteksi HIV dan identitasnya dipublikasikan. Yang diperlukan adalah penanggulangan di hulu, al. mencegah insiden infeksi HIV baru terutam pada laki-laki melalui hubungan seksual dengan PSK.

Disebutkan pula oleh Rita: "Termasuk pencegahan penularan dari ibu ke anak, sesuai dengan tema peringatan Hari AIDS Sedunia tahun ini."

Pertanyaan untuk Rita: Apa langkah konkret yang sistematis dilakukan KPA Kota Mataram untuk mendeteksi HIV/AIDS pada perempuan hamil?

Selama tidak ada program penanggulangan yang konkret untuk mencegah penularan HIV di hulu, maka penyebaran HIV/AIDS di Kota Mataram akan terus terjadi. Tinggal munggu waktu saja untuk ’panen AIDS’. ***[AIDS Watch Indonesia/Syaiful W. Harahap]***

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Terimakasih telah berkunjung ke situs AIDS Watch Indonesia.
Silahkan tinggalkan pesan Anda untuk mendapatkan tanggapan terbaik dari pembaca lainnya, serta untuk perbaikan ISI dan TAMPILAN blog ini di masa mendatang.