25 Desember 2012

101 Pekerja Seks di Kab Kendal Mengidap HIV/AIDS


Tanggapan Berita (26/12-2012) – “ ….  agar menjauhi seks bebas dan menyimpang serta narkoba.” Ini pernyataan Wakil Bupati Kendal, Jateng, H. Mukh. Mustamsikin, tentang kasus HIV/AIDS di Kab Kendal (258 Orang di Kendal Positif HIV/AIDS, suaramerdeka.com, 12-2012).  

Dikabarkan kasus kumulatif HIV/AIDS di Kab Kendal sampai tahun 2012 mencapai 258. Disebutkan bahwa dari jumlah ini 101 kasus HIV/AIDS terdeteksi pada pekerja seks dan 57 ibu rumah tangga serta delapan anak-anak.

Kalau wartawan yang menulis berita ini memahami epidemi HIV/AIDS dengan komprehensif, maka data tentang 101 AIDS pada pekerja seks bisa dikembangkan sebagai berita yang bermanfaat untuk meningkatkan pemahaman masyarakat.

Celakanya, wartawan tidak membawa data itu ke realitas sosial. Padahal, data tentang pekerja seks dan ibu rumah tangga itu aman bermakna kalau dibawa ke realitas sosial.

Pertama, ada kemungkinan HIV/AIDS yang terdeteksi pada pekerja seks ditularkan oleh laki-laki dewasa penduduk Kab Kendal. Kalau ini yang terjadi maka laki-laki yang menularkan itu yang bisa saja sebagai seorang suami akan menularkan HIV kepada istrinya atau pasangan seks lain.

Kedua, kalau HIV/AIDS yang terdeteksi pada pekerja seks itu sudah mereka bawa ketika mulai praktek di Kendal, maka banyak laki-laki dewasa penduduk Kendal yang berisiko tertular HIV yaitu laki-laki yang melacur dengan pekerja seks tanpa kondom.

Ketiga, jika setiap malam seorang pekerja seks melayani tiga laki-laki, maka setiap malam ada 303 laki-laki yang berisiko tertular HIV.

Di masyarakat laki-laki yang menularkan HIV kepada pekerja seks dan laki-laki yang tertular HIV dari pekerja seks menjadi mata rantai penyebaran HIV di masyarakat al. melalui hubungan seksual tanpa kondom di dalam dan di luar nikah.

Terkait dengan penyebaran HIV/AIDS di Kab Kendal, menurut Mustamsikin, perlu ada upaya pencegahan dan penanganan yang sangat serius untuk mengantisipasi semakin bertambahnya jumlah penderita HIV/AIDS di Kab Kendal.

Apa langkah yang disarankan Mustamsikin?

Ini dia: “Perilaku dan pola hidup sehat perlu ditumbuhkan dalam kehidupan sehari-hari.”

Tidak ada kaitan langsung antara pola hidup sehat dengan penularan HIV. Justru orang-orang yang berpola hidup sehat yang bisa melakukan hubungan seksual.

Lebih lanjut Mustamsikin mengatakan agar menjauhi seks bebas dan menyimpang serta narkoba.

Lagi-lagi anjuran Mustamsikin ini hanya mitos (anggapan yang salah) terkait dengan HIV/AIDS.

Kalau ‘seks bebas’ diartikan zina dan melacur, maka tidak ada kaitan langsung antara zina dan melacur dengan penularan HIV/AIDS. Penularan HIV melalui hubungan seksual terjadi karena kondisi hubungan seksual (salah satu mengidap HIV/AIDS dan laki-laki tidak memakai kondom setiap kali sanggama) bukan karena sifat hubungan seksual (zina dan melacur).

Selama masyarakat hanya dicekoki dengan mitos, maka selama itu pula masyarakat tidak memahami cara-cara pencegahan HIV yang konkret sehingga penyebaran HIV/AIDS di Kab Kendal akan terus terjadi. Maka, Pemkab Kendal tinggal menunggu waktu saja untuk ‘panen AIDS’. ***[AIDS Watch Indonesia/Syaiful W. Harahap]

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Terimakasih telah berkunjung ke situs AIDS Watch Indonesia.
Silahkan tinggalkan pesan Anda untuk mendapatkan tanggapan terbaik dari pembaca lainnya, serta untuk perbaikan ISI dan TAMPILAN blog ini di masa mendatang.