04 November 2012

Transeksual dan Penularan HIV/AIDS di Kab Kuningan, Jawa Barat



Tanggapan Berita (5/11-2012) – “Faktor penyebab utama penularan virus yang mematikan diketahui karena pergaulan bebas dan para pengguna narkotika suntik (Penasun).” Ini pernyataan dalam berita “Penderita HIV/AIDS Kuningan meningkat 200 persen” (Koran Sindo, 1/11-2012) terkait dengan pertambahan kasus HIV/AIDS di Kab Kuningan, Jawa Barat, yang dikabarkan  bertambah dari 8 tahun lalu menjadi 27 pada tahun ini.

Angka yang dilaporkan itu pun tidak menggambarkan kasus HIV/AIDS yang ada di masyarakat karena penyebaran HIV erat kaitannya dengan fenomena gunung es. Kasus yang terdeteksi (27) digambarkan sebagai puncak gunung es yang muncul ke atas permukaan air laut, sedangkan kasus yang tidak terdeteksi di masyarakat digambarkan sebagai bongkahan es di bawah permukaan air laut.

Dari pernyataan pada berita itu ada beberapa hal yang tidak akurat, yaitu:

Pertama, disebutkan ‘virus yang mematikan’.  Ini tidak benar karena HIV bukan virus yang menyebabkan kematian tapi merusak sistem kekebalan tubuh. Kematian pada Odha (Orang dengan HIV/AIDS) terjadi pada masa AIDS, secara statistik antara 5-15 tahun setelah tertular HIV, karena penyakit-penyakit yang disebut infeksi oportunistik, seperti diare dan TBC.

Kedua, disebutkan faktor penyebab utama penularan HIV karena ‘pergaulan bebas’. Ini juga menyesatkan karena kalau yang dimaksud dengan ‘pergaulan bebas’ adalah zina atau melacur, maka tidak ada kaitan langsung atara zina dan melacur dengan penularan HIV. Penularan HIV bisa terjadi di dalam dan di luar nikah jika salah satu mengidap HIV/AIDS dan laki-laki tidak memakai kondom setiap kali sanggama.

Ketiga, risiko penularan pada penyalahguna narkoba (narkotik dan bahan-bahan berbahaya) melalui jarum suntik juga terjadi kalau jarum suntik dipakai secara bersama-sama dengan bergantian karena ada kemungkinan salah satu dari mereka mengidap HIV/AIDS sehingga yang lain berisiko tertular HIV.

Bertolak dari tiga hal yang menyesatkan dalam pernyataan itu menunjukkan pemahaman terhadap HIV/AIDS yang sangat rendah pada wartawan yang menulis berita tsb.

"Sebagian besar penderita HIV/AIDS adalah para pelaku transeksual  …." Ini pernyataan Sekretaris Komisi Penanggulangan AIDS Kab Kuningan, Toto Toharudin.

Secara kasat mata transeksual adalah kalangan waria.

Apakah di Kab Kuningan praktek seks berisiko, dilakukan tanpa memakai kondom, hanya melibatkan waria?

Apakah di Kab Kuningan ada pelacuran?

Toto boleh-boleh saja menepuk dada dan mengatakan: Tidak ada!

Toto benar adanya. Tapi, yang tidak ada ‘kan lokalisasi pelacuran. Praktek pelacuran terjadi di sembarang tempat dan sembarang waktu. Buktinya, ada program yang akan menyasar panti pijat, bar, karaoke, spa, hotel dan diskotik. Kalau di tempat-tempat ini tidak ada praktek pelacuran untuk apa menjadi sasaran program.

Untuk itulah dikabarkan KPA Kuningan akan melancarkan program pencegahan melalui transmisi seksual (PMTS). Dengan sasaran mereka yang kerap berhubungan dengan dunia hiburan seperti panti pijat, bar, karaoke, spa, hotel dan diskotik.

Yang akan diberikan melalui program PMTS adalah pemahaman tentang proses penularan penyakit HIV/AIDS dan upaya pencegahannya.

Kalau KPA Kuningan hanya menjalankan program di atas hasilnya nol besar karena sosialisasi penularan dan pencegahan HIV/AIDS sudah dilakukan sejak tahun 1987 ketika pemerintah membenarkan ada kasus HIV/AIDS di Indonesia.

Disebutkan bahwa dalam pelaksanaan program tersebut pihaknya akan menemui banyak kendala di lapangan, namun dia yakin dengan upaya sosialisasi yang dilakukan perlahan dan bertahap,  program tersebut bisa berjalan sesuai harapan. Sehingga jumlah penderita HIV/AIDS di Kuningan bisa semakin ditekan. 

Dalam berita tidak disebutkan apa langkah konkret KPA Kuningan untuk menekan kasus HIV/AIDS. Kalau hanya dengan sosialisasi melalui PMTS tidak akan pernah berhasil karena program pencegahan hanya efektif dilakukan pada lokalisasi pelacuran.

Celakanya, di Kab Kuningan praktek pelacuran tersebar sehingga tidak bisa dijangkau dan tidak terikat dalam regulasi. Akibatnya, program tidak akan efektif karena tidak bisa dijerat dengan sanksi hukum.

Selama praktek pelacuran terjadi di sembarang tempat dan sembarang waktu, maka selama itu pula penyebaran HIV/AIDS akan terus terjadi di Kab Kuningan yang kelak bermuara pada ‘ledakan AIDS’. ***[AIDS Watch Indonesia/Syaiful W. Harahap]***

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Terimakasih telah berkunjung ke situs AIDS Watch Indonesia.
Silahkan tinggalkan pesan Anda untuk mendapatkan tanggapan terbaik dari pembaca lainnya, serta untuk perbaikan ISI dan TAMPILAN blog ini di masa mendatang.