22 November 2012

Penanggulangan HIV/AIDS di Kab Pati, Jateng, Menyalahkan PSK


Tanggapan Berita (23/11-2012) – “Upaya LSM yang peduli dengan penanggulangan HIV/AIDS di Pati (Jawa Tengah-pen.), kini menghadapi kendala yang serius, dalam upaya pencegahan. Karena kesadaran Wanita Pekerja Seks (WPS) untuk menjalani test penyakit Infeksi Menular Seksual (IMS), masih rendah.”  Ini lead berita “Pencegahan HIV/AIDS di Pati, Terkendala Minimnya Kesadaran WPS Periksa IMS” (pasfmpati.com, 9/11-2012).

Kasus kumulatif HIV/AIDS di Kabupaten Pati yang terdeteksi sejak tahun 1996 sampai sekarang 354 dengan 56 kematian.

Pernyataan ini memakai sudut pandang laki-laki sehingga bias gender. IMS pada pekerja seks komersial (PSK), bukan WPS, justru ditularkan oleh laki-laki dewasa, penduduk Pati, asli atau pendatang.

Maka, persoalan bukan pada PSK, tapi pada laki-laki yang menularkan IMS bahkan bisa sekaligus HIV/AIDS kalau laki-laki itu mengidap HIV/AIDS. Lalu, ada pula laki-laki yang tertular IMS, bahkan bisa HIV/AIDS sekaligus, dari PSK yang mengidap IMS dan HIV/AIDS.

Kalau saja laki-laki ‘hidung belang’ selalu memakai kondom jika sanggama dengan PSK, maka salah satu persoalan yaitu risiko menularkan dan tertular IMS atau HIV atau dua-duanya sekaligus bisa diatasi.

Maka, kalau saja LSM itu memakai perspektif dalam melihat realitas sosial, maka persoalan tidak hanya ditimpakan kepada PSK tapi juga terhadap laki-laki ’hidung belang’.

Disebutkan:“Kesadaran WPS yang beresiko besar terjangkiti HIV/AIDS di Pati, untuk memeriksakan diri terhadap penyakit  IMS, masih perlu didorong. Sehingga akan memudahkan, pihak-pihak yang peduli dengan penanggulangan terhadap sindrome yang menyerang kekebalan tubuh.”

Mengapa LSM itu tidak membalik paradigma berpikir? Pakai, dong, perspektif. Justru LSM itu diharapkan mendorong laki-laki ’hidung belang’ untuk tes IMS dan tes HIV, bukan hanya PSK.

Soalnya, biar pun PSK yang mengidap IMS diobati, kalau laki-laki ’hidung belang’ mengidap IMS maka PSK itu tetap saja berisiko tertular IMS.

Pernyataan penggiat LSM Sahabat Pantura (SAPA) Pati, Sinarto, ini menunjukkan paradigmanya memakai sudut pandang laki-laki: ” .... selama ini upaya penanggulangan HIV/AIDS, terbentur dengan kemauan dan kesadaran dari orang-orang yang beresiko tinggi tertular virus berbahaya itu.
Seperti WPS penghuni lokalisasi.”

Lalu, apakah laki-laki ‘hidung belang’ yang tidak memakai kondom kalau sanggama dengan PSK tidak berisiko menularkan dan tertular IMS dan HIV/AIDS?

Menurut Sinarto, penularan HIV/AIDS di wilayah Kabupaten Pati, terbesar melalui trans (hubungan) seksual baik secara illegal maupun legal.  Namun secara kuantitas, penderitanya, lebih banyak dari mereka yang suka bergonta-ganti pasangan dalam hubungan seksual.

Wah, apa pula yang dimaksud Sinarto dengan ”trans (hubungan) seksual baik secara illegal maupun legal”?

Rupanya, yang dimaksud Sinarto dengan legal adalah hubungan seksual suami-istri.

Penularan IMS atau HIV atau dua-duanya sekaligus melalui hubungan seksual terjadi karena kondisi hubungan seksual (salah satu mengidap IMS dan HIV/AIDS, laki-laki tidak memakai kondom setiap sanggama), bukan karena sifat hubungan seksual (zina, melacur, seks ilegal, dll.).

Masih menurut Sinarto: ” ....  Jadi kita tetap mengedepankan sosialisasi secara kontinyu, yang melibatkan semua pihak. Tidak hanya Dinas Kesehatan, dan lembaga-lembaga yang konsentrasi dengan issue HIV/AIDS.” 

Selama tidak ada program yang konkret di lokasi pelacuran yaitu regulasi yang mewajibkan laki-laki memakai kondom ketika sanggama dengan PSK, maka selama itu pula penyebaran IMS dan HIV/AIDS di Pati akan terus terjadi. Muaranya kelak adalah ’ledakan AIDS’. ***[AIDS Watch Indonesia/Syaiful W. Harahap]***

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Terimakasih telah berkunjung ke situs AIDS Watch Indonesia.
Silahkan tinggalkan pesan Anda untuk mendapatkan tanggapan terbaik dari pembaca lainnya, serta untuk perbaikan ISI dan TAMPILAN blog ini di masa mendatang.